Nov 19, 2004
Beberapa Hal Yang Dapat Mendorongmu Untuk Tetap Bertahan !

Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia... Tuhan tahu betapa keras engkau sudah berusaha. Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih... Tuhan sudah menghitung airmatamu. Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja... Tuhan sedang menunggu bersama denganmu. Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon. Tuhan selalu berada disampingmu. Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi... Tuhan punya jawabannya. Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan... Tuhan dapat menenangkanmu. Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan... Tuhan sedang berbisik kepadamu. Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur.. Tuhan telah memberkatimu. Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban... Tuhan telah tersenyum padamu. Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi... Tuhan sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu. Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap... TUHAN TAHU Jika kau sangat diberkati dengan artikel ini, sampaikanlah kepada teman teman yang kau kasihi !

Posted at 02:09 pm by karina
Comments (5)

Jul 31, 2004
Valentino Napitupulu

GEOMETRIS KENTAL – Baju pengantin Batak modern dari Valentino Napitupulu mendapat tanggapan positif, karena mengubah pandangan baju etnis Batak yang umumnya keras, gelap dan pekat. Meski begitu, ia tetap mempertahankan motif-motif yang bergeometris kental.

JAKARTA – Valentino Napitupulu kini terlibat urusan gaun dan jas pengantin Batak modern. Alasannya masuk akal: permintaan busana pengantin kian meningkat dari anak muda dan orang tua kalangan Batak di Jakarta. Mereka ingin pernikahannya, atau menikahkan anak dengan gaun pengantin bertradisi Batak.

”Mereka bangga bertradisi Batak, namun kesannya tak mau terlalu etnis banget,” ujar perancang yang biasa mendesain baju modern, elegan dan simplicity itu. Mereka menginginkan gaun pengantin bersentuhan baru dan trendi. ”Modern, dengan sentuhan tradisi Batak hanya sekitar 20-30 persen,” jelas Valentino.
”Saya tetap melebihkan tren baru. Dengan demikian, saya lebih banyak memakai brokat keluaran baru, yang dikombinasi ulos dan songket. Mereka ingin fresh. Nggak mau seperti zaman dulu lagi …,” lanjutnya.
Meski begitu, Valentino merasa berkepentingan untuk coba mengembangkan songket Batak. Hal ini untuk mengubah anggapan: yang ada hanya songket Palembang. Anggapan yang keliru dari kebanyakan orang Batak itu harus dihilangkan.
Bahkan, ada yang bilang songket Batak itu tidak ada. Dan, ulos dikatakan hanya buat kegiatan upacara adat, tidak dipakai untuk pernikahan. Saking penasaran, Valentino berkunjung ke Balige, Porsea, dan Tarutung. ”Saya melakukan semacam riset di sana. Saya lalu memberi masukan desain baru dan modifikasi songket Batak pada beberapa perajin, sambil menyuplai benang,” ceritanya.
Sebutlah tahapan tersebut sebagai pengenalan motif Batak, yang bergeometris kental dan motif-motif Gorga. Valentino berhasil menciptakan songket-songket dan selendang Batak! Kesannya tetap eksklusif, karena memang ditujukan buat kalangan menengah ke atas. ”Mereka hanya mau songket dan ulos yang berkualitas bagus,” tegas anggota IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia) itu.
Apa yang yang telah diwujudkannya kini, menurut Valentino, telah terencana sejak 8 tahun lalu, namun baru tercapai 5 bulan lalu, atau tepatnya pada bulan Mei 2003.

Batik Ulos Sutra
Pada pengembangan selanjutnya, Valentino mengerjakan batik ulos sutra, dan mengadakan pelatihan-pelatihan untuk penciptaan motif-motif yang bagus. Valentino juga mengajak orang-orang berprinsip baru dan berani.
”Kita kini harus memakai benang sutra, katun lembut, dan pewarnaannya jangan terlalu alami, dengan menggunakan bahan kimia,” imbuh Valentino.
Menjawab lebih jauh perihal pilihannya ke bisnis bridal Batak, itu sekaligus ditekuninya sebagai hal baru yang belum terjamah. Kesannya jadi spesifik, tukas Valentino.
Lagipula, tambahnya, penduduk etnis Batak di Jakarta begitu banyak. Kebanyakan mereka berhasil, karena umumnya gigih dan pekerja keras. Di samping berada di lingkup kalangan pengusaha, mereka juga banyak yang berstatus sebagai pejabat pemerintahan. ”Gengsi mereka gede pula. Harus beli!” ungkap Valentino.
Perlengkapan bridal yang seharga antara 9-50 juta itu (termasuk di antaranya gaun/jas, tata rias, pelaminan, dekorasi, musik dan sebagainya), dipastikan pasarnya ada.
”Tanggapan orang Batak ternyata positif. Ini bagian dari mengangkat tradisi Batak menjadi eksklusif,” jelas dia.
Sekaligus mengubah pandangan orang di luar Batak, yang menilai tradisi Batak selalu keras, kaku, gelap dan pekat. ”Saya membuat baju pengantin Batak yang bersentuhan art kelas tinggi,” sambungnya.
Baju-baju bridal Batak yang dikerjakannya itu dimaksudkan pula bagi kebutuhan perkawinan campuran, seperti keluarga Batak dan Jawa, Maluku-Batak-Jawa dan lain lain.
Valentino memang banyak menangani permintaan seperti itu. ”Untuk itu saya mengembangkan dan memodifikasi kain, batik, ulos dan selendang, supaya orang di luar Batak mau mengenakannya,” ditambahkan Valentino.
Dia mencontohkan kemungkinan paduan bustier, dodotan dengan bahan ulos yang segar dan baru. Inspirasinya bergaya klasik Eropa, atau kebaya yang bukan Kartini dan Kurung, tetapi dengan bawahan ballgown.
Selain kebaya, songket dan ulos, Valentino menyediakan baju dengan sentuhan pemakaian ulos, berikut bustier dan baju pesta. Segalanya itu ditunjang dari pengalamannya memenangkan Lomba Cipta Busana Indonesia 1984. Ketika itu dia menjadi juara dengan tema ”Paduan Geometris dalam Ulos”.
Lebih jauh lagi, dia mengharapkan pengembangan tenun songket yang berciri diri sendiri, seperti Ramli dengan bordir dan Iwan Tirta dengan batik. Sebutlah dia memodifikasi dan berinovasi dengan pakem-pakem yang mengeksplorasi ulos dan songket Tapanuli Utara (Balige, Porsea, Silaen, Samosir, dan Tarutung).
Hanya ia lebih menonjolkan seni pop dengan pewarnaan dan modifikasi motif. Warna-warna terang menjadi pilihannya, atau artinya tidak lagi dominan dengan merah, hitam, putih dan warna-warna alam. ”Saya melenceng dari situ, agar unsur pop-nya nyampe,” tutur Valentino.
Berbagai ulos yang diperkenalkan ke khalayak adalah ulos ragi hidup, ulos ragi hotang dan ulos sadum, yang semuanya dari Balige dan Tarutung. Segalanya itu mau dipakemkan oleh Valentino, karena ulos-ulos itu sangat dikenal rakyat Batak. (SH/john js)


Posted at 10:37 pm by karina
Comments (10)

Dr. Anwar Nasution

Ia dikenal sebagai ekonom yang sangat vokal. Sebelum menjadi Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia, ia sering mengkritik tajam pemerintah dan Bank Indonesia menyangkut kebijakan sektor ekonomi dan moneter. Salah satu kritiknya yang paling monumental ketika ia menyatakan: "Bank Indonesia itu sarang penyamun." Maka, saat diangkat masuk BI, banyak harapan dialamatkan ke pundaknya untuk membersihkan penyamun dari bank sentral itu. Tapi, tampaknya mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu tidak bisa berbuat banyak.

Publik yakin, pria kelahiran Sipirok, Sumatera Utara 5 Agustus 1942, ini tidak sembarang melemparkan kritik terhadap bank sentral itu. Sebab sebagai seorang ekonom dan akademisi, ia diyakini punya alasan cukup kuat tentang pernyataan-pernyataannya. Doktor bidang ekonomi dari Tufts University, Massachusetts, USA 1982, itu mengatakan kritiknya tidak lepas dari tindakan BI sendiri. Lembaga ini lebih banyak berperan sebagai bagian dari birokrasi daripada sebagai bank sentral.

Menurutnya, hampir semua program kredit yang dikeluarkan BI lebih bernuansa politik. Sehingga terjadilah praktek mark up, korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta adanya investasi keliru yang mengakibatkan kehancuran sistem perbankan. Sebelum diberlakukannya UU No. 23/1999, BI memang masih belum independen dan masih mengucurkan kredit.

Sebelum menjabat di BI, ia juga mengungkapkan bagaimana ulah bank sentral ini yang diibaratkannya sebagai rumah gadai. Hal mana, BI kerap memberikan kredit tanpa memperhatikan karakter dan tingkah laku si penerima kredit itu sendiri. Tindakan itu berakibat fatal, dan harus dibayar mahal oleh perbankan nasional. Antara lain, katanya, itu terlihat dari tindakan BPPN yang harus membayar mahal ahli hukum, konsultan, dan tenaga ahli lainnya. Karena itu, lanjutnya, BI tidak boleh lagi memberi kredit-kredit yang bernuansa politik.

Lalu setelah masuk BI yang disebutnya ’sarang penyamun’ itu, tampaknya ia tidak bisa berbuat banyak. Posisinya sebagai Deputi Senior Gubernur BI tidak cukup kuat untuk melakukan reformasi di bank central yang penuh noda itu. Mentalitas para pejabat dan karyawannya yang sudah terbiasa melayani kepentingan diri, sehingga berakibat kebijakan moneter negeri ini sempat amburadul, tak mudah diubah. Bahkan berbagai pihak sempat menduga bahwa ia menjadi larut dalam ’sarang penyamun’ itu. Atau BI kini sudah tidak lagi sebagai’sarang penyamun’?

Namun, kelihatannya ia bukan orang yang diinginkan dalam tubuh BI. Presiden Megawati Sukarnoputri juga tampaknya tak melihat potensinya untuk dapat memperbaiki kinerja BI. Terbukti, ia tidak ikut dicalonkan untuk menjabat Gubernur BI menggantikan Syahril Sabirin yang akan berakhir masa jabatannya 17 Mei 2003. Padahal, sebelumnya banyak pihak menduga ia akan dicalonkan. Bahkan disebut, ia salah seorang yang paling layak dicalonkan daripada tiga calon yang diajukan presiden.

Ketidakkuasaannya melakukan reformasi dalam tubuh BI, tercermin juga dalam sikapnya sehari-hari. Ia malah sempat melontarkan betapa pihak asing tak memandangnya, karena jabatannya hanya deputi senior, saat syahril Sabirin dalam tahanan sekalipun. Lalu, ia pun sempat menyatakan mengundurkan diri bersama empat deputi Gubernur BI, secara serempak, saat Gubernur BI Syahril Sabirin ditahan karena dituduh terlibat kasus Bank Bali.

Pengunduran diri ini mengundang pro dan kontra. Ada yang mengiranya sebagai persekongkolan atau mungkin tekanan untuk mengganti Syahril Sabirin yang memang sudah lama diinginkan Presiden Abdurrahman Wahid ketika itu. Apalagi, sehari setelah pengunduran diri itu, presiden mengajukan namanya menjadi calon Gubernur BI bersama Dr Hartadi dan Fajriah Fajriah yang saat itu menjabat Direktur Pengawasan BI.

Namun, keinginan penggantian Gubernur BI itu rupanya tidak mudah dilakukan. Terjadi pro dan kontara tentang hal ini. Akhirnya pemerintah dan DPR sepakat (Minggu 19/11/2000) proses pergantian gubernur bank sentral itu diundur sambil menunggu revisi Undang-undang (UU) No. 23/1999 tentang BI.

Kendati Gus Dur sendiri tetap bersikeras mempertahankan Anwar Nasution sebagai calon gubernur BI. Pasalnya, Anwar dinilai memenuhi kriteria untuk menduduki posisi orang nomor satu di bank sentral itu. Kalangan DPR menolak pencalonan Anwar, karena selain ada parpol yang mempunyai kepentingan untuk mempertahankan Syahril, mekanisme yang ditempuh Gus Dur juga dinilai melanggar UU No. 23/1999.

Beberapa pengamat berpendapat, pengajuan tiga bakal nama calon gubernur BI dan deputi gubernur senior merupakan kesalahan, bahkan pemerintah bisa dikategorikan melanggar UU No. 23/1999. Syahril yang berstatus tahanan rumah dalam kasus Bank Bali (BB) tidak bisa diberhentikan begitu saja selama belum ada kepastian hukum yang menyebutkan dia bersalah. Ini disebut bukan sekadar intervensi, tapi juga pelanggaran UU.

Sementara, untuk mencegah kevakuman kepemimpinan BI, pemerintah tetap meminta kepada mereka yang mengundurkan diri untuk bekerja sampai terpilihnya deputi yang baru. Pemerintah memandang, pengunduran diri mereka bukan dilihat sebagai bentuk kegagalan kerja, tetapi merupakan permintaan pribadi masing-masing sebagai tanggung jawab moral terhadap apa yang terjadi di masa lalu.

Kepala Biro Humas BI Halim Alamsyah itu juga mengeluarkan pernyataan pers yang menyebutkan, penanggungjawab pelaksanaan tugas BI tetap dilaksanakan anggota Dewan Gubernur BI. Selain itu, BI mengimbau kalangan perbankan dan lembaga keuangan baik dalam maupun luar negeri serta masyarakat tetap tenang dan bertindak wajar, sehingga tak mengganggu upaya pemulihan ekonomi nasional yang saat ini sedang dilaksanakan.

Sementara itu, Anwar Nasution didampingi Deputi Gubernur BI Achyar Ilyas dan tiga orang staf BI sebelumnya menjenguk Syahril Sabirin di Rumah Tahanan (Rutan) Kejaksaan Agung. Wartawan yang mengira terjadi penandatanganan serah terima wewenang Gubernur BI di tahanan itu, langsung mengerumuni Anwar. Anwar membantah isu serah terima itu. Ia mengatakan, belum ada rencana Syahril mundur dari jabatan sebelum pengadilan memutuskan apakah salah atau tidak. Ia yang menjadi pelaksana tugas kepemimpinan BI setelah Syahril Sabirin ditahan, juga berkali-kali berkata tak tahu saat wartawan menanyakan pendapatnya tentang rekayasa di balik penahanan Syahril.


Perjalanan karir penulis Financial Institutions and Policies in Indonesia, ISEAS (1983), ini banyak berada di lingkungan akademis. Diawali sebagai asisten pengajar, dosen dan guru besar ekonomi di FEUI mulai tahun 1964 sampai sekarang. Selain itu sejak tahun 1985 menjadi pengajar tamu mata kuliah ekonomi di Lemhannas, Seskoal dan Seskoad. Pada tahun 1995-1996, ia sempat menjadi pengajar tamu mata kuliah ekonomi pembangunan di University of Helsinki, Finlandia. Selain itu ia juga aktip sebagai konsultan dan menjabat Komisaris Semen Gresik, dan Pelindo II.


Maka ketika ia baru diangkat menjadi Deputi Senior Gubernur BI, Rasa humor, saat sejumlah wartawan ingin mengucapkan selamat, secara berkelakar ia mengatakan: "Jangan memberi ucapan selamat. Lebih tepat ucapan duka cita. Soalnya, gaji saya sekarang hanya sepertiga dari yang saya terima setiap bulannya. Padahal, tugas dan beban saya lebih berat," ucapnya tertawa, seperti dikutip sebuah majalah.

Ucapan itu tidak berlebihan. Sebab dengan menjadi Deputi Senior Gubernur BI, ia harus melepaskan sejumlah jabatannya. Soalnya, sebagai deputi senior, ia tidak bisa lagi merangkap jabatan. Selain itu, sudah pasti, waktunya akan banyak tersita di BI. Sehingga kesempatannya berceramah di mana-mana seperti sediakala dan untuk berkumpul dengan keluarga pun jadi berkurang. Termasuk shoping ke mal bersama anak dan isterinya. Bahkan, suatu kali, ia harus absen menemani anak dan isterinya berlibur ke luar negeri --sekaligus menjadi pembicara pada sebuah seminar di sana-- karena harus tampil di DPR untuk melakukan presentasi sebagai calon Deputi Senior Gubernur BI.

Kendati demikian, diangkatnya ia menjadi orang nomor dua di bank sentral itu bukan tidak mengundang pro-kontra. Alasannya macam-macam. Di antaranya sikap kritisnya terhadap pemerintah menyangkut kebijakan sektor ekonomi, moneter, maupun politik secara umum. Salah satu kritiknya yang paling monumental adalah: "Bank Indonesia itu sarang penyamun." Kritik ini membuat orang-orang BI tercengang dan berang. Sebagian ada pula yang mengatakan bahwa ia tidak berkemampuan membangun kerja tim. Juga keenggannya melepaskan jabatan sebagai Dekan FE UI.

Pria Batak berjiwa kebangsaan ini menghabiskan masa kecil di tanah kelahirannya Sipirok, Tapanuli Selatan. Di situ ia menamatkan SD dan SMP. Di SMP, ia meraih juara pertama. Lalu melanjut ke SMA Teladan, Medan. Di sini, ia menjadi "preman" --istilah di sana untuk anggota gank. Namun, sekolahnya tetap lancar. Bahkan ia masih jadi juara dua. Mengambil jurusan ilmu pasti dan pengetahuan alam, ia juga menjuarai mata pelajaran aljabar, goneometri, dan ilmu falak. Anehnya, "Mata pelajaran ekonomi malah saya tak suka," kanangnya.

Lalu, tak heran bila kemudian ia mendaftar di Fakultas Matematika & Ilmu Pasti Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB), 1961. Baru setahun ia kuliah, seorang rekan se-SMA "menggodanya". Rekannya bilang, lowongan untuk sarjana matematika susah. ”Nanti mau kerja apa kau," kata si teman, yang lalu menganjurkannya pindah ke fakultas ekonomi. Anwar pun mendaftar ke FE UI dan diterima.

ITB pun ditinggalkan, lalu tinggal di asrama mahasiswa UI di Rawamangun. Ketika di asrama itu, ia memprakarsai nama asrama itu, Daksinapati, kata Sanskerta yang berarti "calon suami yang baik". Nama itu dipakai hingga kini. Pada 1966, ia turut menyelenggarakan seminar ekonomi, yang kesimpulannya dipakai sebagai bahan Ketetapan MPRS No. 63/MPRS/66.

Pada 1968, setelah lulus dari FE UI, ia mengajar di almamaternya, sambil menjadi tenaga bantuan pada Dirjen Moneter Departemen Keuangan. Sejak 1975, ia menjadi peneliti pada Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) FE UI. Menurutnya, hal yang menarik sebagai peneliti adalah tidak adanya ikatan birokrasi. Ia mengaku paling malas kalau disuruh rapat.

Ia pun kemudian meraih MPA di Harvard University, Massachusetts, USA pada tahun 1973. Tahun berikutnya (1974), ia menikah dengan perancang interior Maya Ayuna. Gelar doktornya dalam bidang ekonomi diraih di Tufts University, Medford, Massachusetts, USA pada tahun 1982. dengan disertasi berjudul "Macroeconomic Policies, Financial Institutions and a Short Run Monetary Model of the Indonesian Economy". Di negeri Paman Sam itu, penggemar joging ini, juga mendalami administrasi perpajakan.

Ia anak sulung dari enam bersaudara. Darah guru mengalir dalam tubuhnya. Kedua orangtuanya guru SMP. Pria yang suka kelakar ini, juga rajin berolahraga. dulu, pada 1970-an ia berlatih karate pada Lahardo. Sebagai murid yang setia, ia ikut berpartisipasi ketika Lahardo diadu melawan macan di Stadion Utama Senayan, Jakarta. Sebelum Lahardo masuk gelanggang, ia dan teman-temannya mengelilingi sang macan. Tahu-tahu, ada penonton iseng melempar sesuatu. "Kami langsung bubar, karena macan keburu mengamuk duluan," tuturnya seraya tertawa terpingkel-pingkel.

Kinerja
Seusai menjadi pembicara kunci pada Seminar 'BPR, Peluang Investasi' di Malang, beberapa waktu lalu, ia mengatakan semua pihak agar jangan hanya menyalahkan tim ekonomi Kabinet Gotong Royong sehubungan dengan upaya mereka dalam pemulihan ekonomi bangsa yang terkesan 'jalan di tempat.' Karena ada berbagai masalah dan faktor yang kurang mendukung upaya pemulihan ekonomi bangsa ini, seperti masa transisi menjadi sistem demokrasi.

Selain persoalan masa transisi, katanya, hal itu juga dipengaruhi adanya perubahan sistem pemerintah dari sentralistis menjadi otonomi serta adanya pengurangan peran politik dari TNI. Sehingga perlu waktu untuk perbaikan yang dilakukan secara bertahap.


Ia juga menjelaskan salah satu strategi pemerintah yang kini gencar dilakukan untuk pemulihan ekonomi nasional adalah memberdayakan usaha kecil menengah (UKM) melalui empat pilar kebijakan, yakni kebijakan kredit perbankan, kebijakan kredit program, bantuan teknis, serta pengembangan kelembagaan. Ia berharap melalui empat pilar strategi tersebut dapat memperluas akses UKM terhadap fasilitas kredit perbankan, sehingga potensi UKM dapat dikembangkan sekaligus mempercepat usaha negeri ini untuk keluar dari krisis ekonomi.

Ia pun menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia masih belum bisa dikatakan sustainable (berkesinambungan). Sebab, iklim investasi di dalam negeri belum memungkinkan bagi para investor untuk berbondong-bondong masuk dan membuka investasi baru di Indonesia.

Menurutnya, adanya peningkatan konsumsi dalam negeri, juga tidak mampu memacu kenaikan investasi. Oleh karena itu, agenda terpenting bagi pemerintah, termasuk BI, adalah bagaimana menjaga situasi dan kondisi sosial, ekonomi, dan politik, serta keamanan dalam negeri yang dapat merangsang masuknya investor.

"Betul dalam teori ekonomi yang kita pelajari, kalau konsumsi itu meningkat, maka melalui proses akselerator hal itu akan menggerakkan dan mendorong perekonomian. Asalkan, kenaikan konsumsi itu memang meningkatkan investasi. Dengan peningkatan investasi yang terjadi, harusnya akan meningkatkan income. Akan tetapi, belum kelihatan di sini bahwa kenaikan konsumsi menaikan investasi,” jelasnya.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia),

Posted at 10:05 pm by karina
Make a comment

Adam Malik

Ia merupakan personifikasi utuh dari kedekatan antara diplomasi dan media massa. Jangan kaget, kalau pria otodidak yang secara formal hanya tamatan SD (HIS) ini pernah menjadi Ketua Sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York dan merupakan salah satu pendiri LKBN Antara. Kemahirannya memadukan diplomasi dan media massa menghantarkannya menimba berbagai pengalaman sebagai duta besar, menteri, Ketua DPR hingga menjadi wakil presiden.

Sang wartawan, politisi, dan diplomat kawakan, putera bangsa berdarah Batak bermarga Batubara, ini juga dikenal sebagai salah satu pelaku dan pengubah sejarah yang berperan penting dalam proses kemerdekaan Indonesia hingga proses pengisian kemerdekaan dalam dua rezim pemerintahan Soekarno dan Soeharto.

Pria cerdik berpostur kecil yang dijuluki ''si kancil” ini dilahirkan di Pematang Siantar, Sumatra Utara, 22 Juli 1917 dari pasangan Haji Abdul Malik Batubara dan Salamah Lubis. Semenjak kecil ia gemar menonton film koboi, membaca, dan fotografi. Setelah lulus HIS, sang ayah menyuruhnya memimpin toko 'Murah', di seberang bioskop Deli. Di sela-sela kesibukan barunya itu, ia banyak membaca berbagai buku yang memperkaya pengetahuan dan wawasannya.

Ketika usianya masih belasan tahun, ia pernah ditahan polisi Dinas Intel Politik di Sipirok 1934 dan dihukum dua bulan penjara karena melanggar larangan berkumpul. Adam Malik pada usia 17 tahun telah menjadi ketua Partindo di Pematang Siantar (1934- 1935) untuk ikut aktif memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Keinginannya untuk maju dan berbakti kepada bangsa mendorong Adam Malik merantau ke Jakarta.

Pada usia 20 tahun, Adam Malik bersama dengan Soemanang, Sipahutar, Armin Pane, Abdul Hakim, dan Pandu Kartawiguna, memelopori berdirinya kantor berita Antara tahun 1937 berkantor di JI. Pinangsia 38 Jakarta Kota. Dengan modal satu meja tulis tua, satu mesin tulis tua, dan satu mesin roneo tua, mereka menyuplai berita ke berbagai surat kabar nasional. Sebelumnya, ia sudah sering menulis antara lain di koran Pelita Andalas dan Majalah Partindo.

Di zaman Jepang, Adam Malik aktif bergerilya dalam gerakan pemuda memperjuangkan kemerdekaan. Menjelang 17 Agustus 1945, bersama Sukarni, Chaerul Saleh, dan Wikana, Adam Malik pernah melarikan Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok untuk memaksa mereka memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Demi mendukung kepemimpinan Soekarno-Hatta, ia menggerakkan rakyat berkumpul di lapangan Ikada, Jakarta. Mewakili kelompok pemuda, Adam Malik sebagai pimpinan Komite Van Aksi, terpilih sebagai Ketua III Komite Nasional Indonesia Pusat (1945-1947) yang bertugas menyiapkan susunan pemerintahan. Selain itu, Adam Malik adalah pendiri dan anggota Partai Rakyat, pendiri Partai Murba, dan anggota parlemen.

Akhir tahun lima puluhan, atas penunjukan Soekarno, Adam Malik masuk ke pemerintahan menjadi duta besar luar biasa dan berkuasa penuh untuk Uni Soviet dan Polandia. Karena kemampuan diplomasinya, Adam Malik kemudian menjadi ketua Delegasi RI dalam perundingan Indonesia-Belanda, untuk penyerahan Irian Barat di tahun 1962. Selesai perjuangan Irian Barat (Irian Jaya), Adam Malik memegang jabatan Menko Pelaksana Ekonomi Terpimpin (1965). Pada masa semakin menguatnya pengaruh Partai Komunis Indonesia, Adam bersama Roeslan Abdulgani dan Jenderal Nasution dianggap sebagai musuh PKI dan dicap sebagai trio sayap kanan yang kontra-revolusi.

Ketika terjadi pergantian rezim pemerintahan Orde Lama, posisi Adam Malik yang berseberangan dengan kelompok kiri justru malah menguntungkannya. Tahun 1966, Adam disebut-sebut dalam trio baru Soeharto-Sultan-Malik. Pada tahun yang sama, lewat televisi, ia menyatakan keluar dari Partai Murba karena pendirian Partai Murba, yang menentang masuknya modal asing. Empat tahun kemudian, ia bergabung dengan Golkar. Sejak 1966 sampai 1977 ia menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri II / Menlu ad Interim dan Menlu RI.

Sebagai Menlu dalam pemerintahan Orde Baru, Adam Malik berperanan penting dalam berbagai perundingan dengan negara-negara lain termasuk rescheduling utang Indonesia peninggalan Orde Lama. Bersama Menlu negara-negara ASEAN, Adam Malik memelopori terbentuknya ASEAN tahun 1967. Ia bahkan dipercaya menjadi Ketua Sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York. Ia orang Asia kedua yang pernah memimpin sidang lembaga tertinggi badan dunia itu. Tahun 1977, ia terpilih menjadi Ketua DPR/MPR. Kemudian tiga bulan berikutnya, dalam Sidang Umum MPR Maret 1978 terpilih menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia yang ke-3 menggantikan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang secara tiba-tiba menyatakan tidak bersedia dicalonkan lagi.

Beberapa tahun setelah menjabat wakil presiden, ia merasa kurang dapat berperan banyak. Maklum, ia seorang yang terbiasa lincah dan aktif tiba-tiba hanya berperan sesekali meresmikan proyek dan membuka seminar. Kemudian dalam beberapa kesempatan ia mengungkapkan kegalauan hatinya tentang feodalisme yang dianut pemimpin nasional. Ia menganalogikannya seperti tuan-tuan kebon.

Sebagai seorang diplomat, wartawan bahkan birokrat, ia seing mengatakan ‘semua bisa diatur”. Sebagai diplomat ia memang dikenal selalu mempunyai 1001 jawaban atas segala macam pertanyaan dan permasalahan yang dihadapkan kepadanya. Tapi perkataan ‘semua bisa diatur’ itu juga sekaligus sebagai lontaran kritik bahwa di negara ini ‘semua bisa di atur’ dengan uang.

Setelah mengabdikan diri demi bangsa dan negaranya, H.Adam Malik meninggal di Bandung pada 5 September 1984 karena kanker lever. Kemudian, isteri dan anak-anaknya mengabadikan namanya dengan mendirikan Museum Adam Malik. Pemerintah juga memberikan berbagai tanda kehormatan.

Nama:
H. Adam Malik
Lahir :
Pematang Siantar, 22 Juli 1917
Meninggal:
Bandung, 5 September 1984
Agama:
Islam

Isteri:
Nelly Adam Malik
Ayah:
Abdul Malik Batubara
Ibu:
Salamah Lubis

Pendidikan:
SD (HIS) dan Madarasah Ibtidaiyah
Otodidak

Jabatan:
Wakil Presiden RI (23 Maret 1978-1983)
Ketua MPR/DPR 1977-1978
Ketua Sidang Majelis Umum PBB ke-26
Wakil Perdana Menteri II/Menteri Luar Negeri RI (1966-1977)
Menko Pelaksana Ekonomi Terpimpin (1965)
Ketua delegasi Indonesia-Belanda (1962)
Duta besar di Uni Soviet dan Polandia (1959)
Anggota DPA (1959)
Anggota Parlemen (1956)
Ketua III Komite Nasional Indonesia Pusat (1945-1947)

Profesi
Wartawan (Pendiri LKBN Antara tahun 1937)

Organisasi:
Pinisepuh Golongan Karya
Pendiri Partai Murba (1946-1948)
Pendiri Partai Rakyat (1946)
Ketua Partindo di Pematang Siantar (1934- 1935)

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia),

Posted at 10:01 pm by karina
Comments (1)

Prof. Ramlan Surbakti, MA. Ph.D

Pemilihan umum, dalam pandangan Wakil Ketua Komisi Pemilihan Umum Prof. Ramlan Surbakti, MA, PhD, merupakan sebuah peristiwa politik yang penting dan berharga mahal. Karena itulah, ketika muncul desakan agar Pemilu 2004 dipercepat, Ramlan tidak langsung menerima usulan itu. "Dibutuhkan waktu minimal dua tahun untuk mempersiapkan Pemilu," katanya .

Ia kemudian membandingkan dengan pelaksanaan Pemilu 1999. Singkatnya persiapan penyelenggaraan Pemilu, akan berdampak terhadap hasil Pemilu itu sendiri. jika Pemilu 2004 dipercepat, bapak dua anak ini memperkirakan tak akan ada partisipasi publik. Namun sebagai wakil ketua KPU, Ramlan menyatakan siap menyelenggarakan Pemilu yang dipercepat, "kalau ditanya apa KPU siap, secara normatif akan kita katakan siap," ujar suami Veronika Suprapti ini.

Di KPU, Ramlan membawahi sejumlah divisi yang berhubungan dengan electoral process, dari pendaftaran pemilih, pengadaan logistik hingga penetapan calon. Ilmuwan politik penulis belasan buku ini, cepat menyesuaikan diri. Pengalaman sebagai Anggota Tim 7 Depdagri yang mempersiapkan RUU Parpol, RUU Pemilu, RUU Susduk dan RUU Pemda (1998 1999), anggota Panwaslu Tahun 1999, serta penguasaan terhadap partai politik dan Pemilu, makin memudahkan tugasnya yang dibebankan kepadanya.

Mengawali karier sebagai pengajar di Unair, Ramlan dikenal sebagai ilmuwan yang lurus. Maksudnya, ia tak mudah dijebak atau larut pada suatu kepentihgan. Alumni Ohio dan Nothern Illionis University ini, dikenal kritis, vokal namun realistik dalam memberikan penilaian terhadap suatu masalah.

Ramlan juga dikenal sebagai figur yang secara intens memperjuangkan independensi dalam pelaksanaan Pemilu. Mantan Kepala Pusat Kajian Pengembangan Otonomi Daerah, Kantor Meneg Otoda ini juga telah lama menggulirkan ide mengenai perlunya anggota KPU yang independen dan non partisan.



Karena pandangan itu pula, ketika muncul kontroversi mengenai boleh atau tidaknya anggota KPU berkampanye, Ramlan berpendapat aneh jika anggota KPU berkampanye. "Mereka adalah penjaga standar moralitas politik dalam Pemilu. KPU juga berfungsi sebagai pelaksana sekaligus juga pemain. Jika mereka berkampanye, itu sama saja dengan Orde Baru," katanya dalam suatu wawancara di awal tahun 1999.

Nama:
Prof. Ramlan Surbakti, MA. Ph.D
Lahir:
Tanah Karo, 20 Juni 1953

Istri:
Ny. Dra. Psi V
eronika Suprapti MS Ed
Anak:
dua orang

Pekerjaan:
Wakil Ketua KPU
Guru Besar FISIP Unair
Kepala Pusat Kajian Pengembangan Otonomi Daerah, Kantor Meneg Otoda
Pendidikan:

- 1959-1971, Sekolah Rakyat

- SMU di Kabupaten Tanah Karo (Sumut)

- 1972-1977, (S-1) Fakultas Sospol (Ilmu Pemerintahan) UGM

- 1981-1982, (S-2/Master Ilmu Politik), Ohio University USA

- 1988-1991, doktor (S-3), di Northern Illnois University, AS, dengan

disertasi berjudul Interrelation Between Religious and Political

Power Under New Order Government of Indonesia


Email :
ramlan_surbakti@kpu.go.id



(Ensiklopedi Tokoh Indonesia),

Posted at 09:55 pm by karina
Make a comment

DR. Ir. GM Tampubolon

Dia sangat terkenal sebagai mantan Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan Komisi V DPR RI. Teknokrat kaliber dunia ini 15 tahun memimpin PII dan berbagai organisasi insinyur tingkat dunia, serta 24 tahun sebagai politisi kawakan di DPR Senayan. Pria kelahiran Padang, tanggal 14 Mei 1933 yang sangat dekat Habibie itu adalah cucu seorang pendeta, sukses berbisnis lewat bendera GMT Group yang menjalin kerjasama dengan mitra Jepang.

Teknokrat bernama lengkap DR. Ir. Godefridus Mangaradja Tampubolon ini menjabat Ketua Umum PII tergolong lama, 15 tahun, antara 1969-1984. Sebagai tokoh organisasi insinyur kaliber dunia dia juga berkiprah sebagai Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur ASEAN (AFEO) pada tahun 1981-1982, Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Asia Pasifik (FEISEAP) tahun 1982-1984, hingga ke tingkat dunia sebagai Anggota Perngurus/ Wakil Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Se Dunia (WFEO) tahun 1975-1993.

Di legislatif dia kawakan berkiprah 24 tahun sejak tahun 1968 hingga 1992. Dia juga pendiri dan Ketua Umum Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI) sejak tahun 1985 hingga sekarang. Sejak tahun 1999 hingga 2004 dia kembali ke legislatif sebagai Anggota MPR RI Utusan Golongan Insinyur dan Ahli Teknik Indonesia.

Di awal republik ini berdiri hingga dicetuskannya PII pada 23 Mei 1952 di Kota Bandung, oleh Ir. Djuanda Kartawidjaja dan kawan-kawan, jumlah insinyur masih mudah dihitung sebab tak lebih dari 52 orang. Padahal, kemerdekaan harus segera diisi dengan berbagai pembangunan fisik dan non fisik untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan yaitu memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Ketika itu semua merasa bangga sebagai insinyur dan karenanya sifat keanggotaan stelsel passive artinya siapa saja kalau insinyur dia dapat langsung menjadi anggota PII.
“Gemar mencipta” adalah pesan penting Presiden R.I. pertama Bung Karno kepada PII saat beraudiensi di Istana Negara, Jakarta. Pesan tersebut masih segar dalam ingatan G.M. Tampubolon. Dan menurutnya, tetap sangat aktual dikedepankan terutama untuk membantu bangsa keluar dari krisis multidimensional yang berkepanjangan. Bung Karno termasuk orang yang sangat bangga akan kehadiran PII, maklum, presiden flamboyan ini adalah juga insinyur lulusan dari ITB Bandung.

”Saya pikir relevansi pernyataan Bung Karno itu masih berlaku segar sampai hari ini,” tegas Tampubolon. Dia masih ingat betul bahwa tugas pertama yang Bung Karno berikan kepada mereka adalah memperbaiki jalan Thamrin, Jakarta, yang berlubang-lubang. Memperoleh tugas seperti itu membingungkan. Sekolah tinggi-tinggi hingga insinyur tapi hanya disuruh menambal lubang jalan, oleh seorang Presiden pula. Apalagi jika yang disuruh itu adalah insinyur mesin, seperti dirinya.

“Tapi, Bung Karno punya pikiran lain: Tanamkan dulu suatu suasana perekat diantara insinyur untuk dapat dimobilisasi,” kenang dia. Mereka lalu belajar menutup lubang. Insinyur sekelas Sutami pun harus dikursus cara menutup lubang. Cara kerja mereka sangat serius bahkan hingga tiga shift sehari.

Bung Karno sangat antusias dengan pendirian PII. Tampubolon menyebutkan, setelah Pengurus PII dipanggil empat diantaranya dijadikan Menteri. Yaitu Ir. Slamet Bratanata sebagai Menteri Urusan Jalan Raya Sumatera, Ir. Sutami Menteri Pekerjaan Umum, Ir. Harjo Sudarjo Menteri Pengairan, dan Ir. Soehadi sebagai Menteri LIPI. “Yang lucu, waktu dipanggil Presiden semua tidak siap. Ir. Slamet Bratanata itu datang menemui Presiden memakai jas yang saya pinjamkan,” ungkap Tampubolon.

Ketika itu GM Tampubolon adalah insinyur lulusan ITB Bandung, Jurusan Mesin, tahun 1958. Bersama kawan-kawan dia disuruh membangun sekaligus menentukan cetak biru organisasi para insinyur tersebut. Pada sekitar tahun 1960 itu, G.M. Tampubolon dan beberapa insinyur muda lainnya, dia adalah yang termuda, dipanggil oleh Ukat untuk diminta menyusun PII.

Mereka lalu membentuk pengurus pusat dan mulai meletakkan dasar-dasar administrasi. Tidak lama kemudian, pada tahun 1963 Tampubolon mulai diangkat menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen). “Pikiran kita waktu itu hanya satu, bagaimana menyertakan insinyur dalam pembangunan. Itu saja,” kenangnya. PII lalu menyelenggarakan kongres berkali-kali, tahun 1963, 1967.

Pada kongres yang kesekian di tahun 1969, di Parapat, Sumatera Utara, Tampubolon terpilih menjadi ketua umum yang kelima setelah Ir. H. Djuanda Kartawidjaja (1952-1954), Ir. Kaslan Tohir (1954-1959), Ir. Umar Bratakusuma (1959-1961), dan Ir. Suratman Dharmaperwira (1965-1969).

Untuk mensejajarkan diri dengan organisasi profesi insinyur lain di luar negeri, yang peran dan fungsinya sama-sama sangat strategis dalam membangun setiap bangsa, sejak tahun 1975 PII menjadi anggota Federasi Organisasi Insinyur Se Dunia, organisasi yang selanjutnya menempatkan Tampubolon sebagai Anggota Pengurus/Wakil Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Se Dunia tahun 1975-1993. Tepat dua tahun kemudian, di tahun 1979 PII menjadi tuan rumah Kongres Insinyur Se Dunia yang mengangkat tema pangan, energi, dan transportasi yaitu sektor yang sangat relevan untuk segera dibangun di Indonesia ketika itu.

Di bawah kepemimpinan Tampubolon yang selalu titik perhatian PII adalah bagaimana agar para insinyur bisa berperan aktif dalam setiap proses pembangunan. Sehingga, meski kata “evaluasi” tidak begitu disukai oleh Presiden Suharto, namun setiap tahun PII selalu mengadakan evaluasi terhadap pelaksanaan pembangunan.

Sebuah langkah maju pernah dilakukan PII, ketika di tahun 1977 mereka mengajukan sebuah konsep GBHN yang sudah lengkap dan matang untuk diperdebatkan di forum sidang umum majelis MPR. Tentang naskah GBHN itu, ungkap Tampubolon, “Jadi, hanya ada dua naskah, satu pemerintah, satunya lagi PII.”

PII adalah salah satu organisasi profesi yang cukup disegani di era pembangunan. Bukan hanya tampil mengajukan konsep pemikiran membangun bangsa melalui sebuah naskah GBHN tadi, namun, berani pula bersikap berbeda terhadap pimpinan nasional.

Di tahun 1977 itu, kata Tampubolon, kepada Presiden Soeharto yang menerima mereka berdiskusi sejak pukul 10.00 pagi hingga 14.00 sore di Istana Negara, PII mengusulkan bahwa pembangunan itu haruslah seimbang. Antara pembangunan sosial, ekonomi, budaya, dan politik serta pertahanan harus seimbang. “Boleh salah satu menonjol, tapi kalau sektor itu naik, semuanya juga harus naik. Tidak boleh timpang,” kata Tampubolon tanpa bermaksud mendikte Pak Harto, ketika itu.

Cucu Pendeta
Walau sebagai putra Batak, namun dia lahir di Padang, pada tanggal 14 Mei 1933 sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Calvijn Bismarck (CB) Tampubolon gelar Ompu Boksa II (meninggal tahun 1989 dalam usia 91 tahun) dan ibunya, Agustina br. Pardede (meninggal setahun kemudian, tahun 1990 dalam usia 89 tahun), sudah lama merantau ke Padang menggeluti usaha perbengkelan mobil dan jual-beli kendaraan angkutan.

Keluarga CB Tampubolon oleh pemuka masyarakat setempat pernah diangkat menjadi Warga Kehormatan Kota Padang. Mereka sekeluarga pandai sekali berbahasa Padang dan menjadikannya bahasa ibu, jauh lebih mahir dibanding berbahasa Batak. Tampubolon meninggalkan kota Padang saat mulai kuliah di ITB Bandung, dan dalam masa perkuliahan itulah dia bertemu dan menikah dengan gadis muda nan cantik jelita yang sangat diidamkannya bernama Tiara br. Siregar, yang kini memberinya dua orang putra dan tiga putri serta sembilan orang cucu.

Kakeknya adalah pendeta, namanya Pendeta Mangaradja Enos Tampubolon. Jika ditarik ke atas lagi kakek buyutnya bernama Hiskia. Ayah Hiskia adalah Ompu Boksa, titisan nama inilah yang lalu dipakai ulang sebagai gelar kehormatan Ompu Boksa II bagi C.B. Tampubolon, ayahnya

Hiskia pernah berjasa besar menyelamatkan seorang misionaris asing bernama Tuan Pilgramm. Pilgramm, yang karena tugas panggilan penginjilan dia memberitakan kabar baik keselamatan dari Yesus Kristus Tuhan ke Tanah Batak, yang saat itu dominan masih menganut paham animisme. Pilgramm lalu dicari-cari dan hendak dibunuh oleh Panglima Raja Sisingamangaradja XII, bernama Sarbut Tampubolon.

Tuan Pilgramm melarikan diri dan terdampar di sebuah tepian Danau Toba dekat desa Sibolahotang, sebuah desa kecil yang menjadi asal muasal marga Tampubolon. Mengetahui misionaris Jerman itu dalam keadaan bahaya Hiskia yang menemukan Pilgramm terdampar lemah lalu menawarkan jasa untuk menyembunyikan Tuan itu ke loteng rumah adat Batak tempat kediaman mereka sehari-hari.

Sang panglima, yang dalam setiap pertempuran selalu melakukan praktek bumi hangus yaitu setiap daerah yang ditaklukkan harus dibakar habis hingga hancur, mengetahui buruannya ada di daerah kampung asal dia sendiri yaitu desa Lumban Julu, Sibolahotang. Akhirnya dia mengurungkan niat mencari Tuan Pilgramm. Jadilah Tuan Pilgramm selamat untuk selanjutnya meneruskan kembali misi penginjilan di Tanah Batak hingga wafat dan dimakamkan di Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara.

Ingat pesan Bung Karno bahwa insinyur harus gemar mencipta, demikian pula Tampubolon dalam setiap langkah pengabdian terhadap bangsa dan negara yang sangat dicintainya. Dia, yang dalam usia muda 30-an tahun telah pernah dipercaya menjadi direksi PN Gaya Motor, sebuah perusahaan otomotif patungan antara pemerintah dan swasta, memang bukan menciptakan barang atau komoditi perdagangan sebagai hasil penelitian dan inovasi. Melainkan, sebagai teknokrat atau pemikir tidak pernah berhenti menggagas ide, pemikiran, dan jasa pengabdian sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat.

Karena itu, untuk tetap menjaga kiprahnya mengisi pembangunan selepas ketua umum dari PII di tahun 1985 Tampubolon bersama kawan-kawannya kembali membentuk sebuah organisasi profesi baru yang cakupannya lebih luas, yaitu Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI). Organisasi inilah yang di tahun 1999 menghantarkannya ke keanggotaan MPR RI mewakili utusan golongan para ahli teknik dari segala strata pendidikan dan keahlian yang jumlahnya sekitar 15,3 juta orang. Sebagai salah seorang pendiri dia terpilih pula sebagai Ketua Umum PATI, tahun 1985 hingga sekarang.

Hampir bersamaan waktunya di tahun 1985, masih bersama kawan-kawan diantaranya Prof. B.J. Habibie, Ir. Hartarto, Ir. Erna Witoelar, Ir. Humuntar Lumbangaol dan lain-lain dia mendirikan Yayasan Pengembangan Teknologi Indonesia (YPTI), sekaligus sebagai ketuanya hingga sekarang. YPTI adalah pemilik dan pengasuh Institut Teknologi Indoneisa (ITI), berlokasi di Serpong, Tangerang, Banten. ITI adalah sebuah perguruan tinggi keteknikan swasta terkemuka dan modern di tanah air.

Perjuangan Tampubolon tergolong luar biasa saat mendirikan YPTI, bahkan, sebuah rumahnya di Jalan Sutan Syahrir, Menteng, Jakarta Pusat harus dia agunkan ke bank untuk menambah dana pendirian YPTI dan kampus ITI. Padahal dalam setiap berusaha, dia, adalah “haram” hukumnya meminjam dana ke bank sebab khawatir hidup tidak tenang sebab setiap bangun pagi yang pertama kali terpikir adalah hutang yang terus bertambah. Dia percaya bunyi firman Tuhan, “Dimana hartamu berada, di situ hatimu berada”.

Di kampus tersebut, peraih gelar doktor kehormatan honoris causa dari Perguruan Tinggi Heidelberg di tahun 1985 ini pernah diangkat sebagai Wakil Rektor/Dekan Institut Teknologi Indonesia, tahun 1985. Pelayanan membangun dunia pendidikan sebelumnya telah dia lakukan ketika menjadi Anggota Pengurus Yayasan Pendidikan dan Universitas Pancasila, Jakarta, sejak tahun 1972 hingga sekarang.

Orang Dekat Habibie
Dia tidak pernah berhenti berkarya dan mencipta khususnya melahirkan ide-ide baru yang segar agar para insinyur dan ahli teknik tetap dapat berperan dalam arus perjalanan bangsa.

Gagasan-gagasannya sebagai teknokrat keteknikan semakin memperoleh pembenaran sekaligus pengakuan dari semua pihak tatkala Ketetapan MPR menggariskan teknologi sebagai elemen kunci pembangunan nasional. Demikian pula yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Sejak tahun 1998 hingga sekarang Tampubolon adalah pendiri sekaligus Ketua Dewan Direksi Center for Technology and Industry Development (CTID), sebuah institusi nirlaba yang secara khusus bekerja mengkaji dan mendalami pengembangan teknologi dan industri di tanah air.

Bersama kawan-kawan dia aktif menggelorakan betapa pentingnya peranan teknologi sebagai elemen kunci pembangunan agar semua pihak bisa memanfaatkan kapabilitas teknologi untuk membantu menyelesaikan sebagian persoalan bangsa.

Seperti, meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja baru untuk mengurangi pengangguran, dan memberi nilai tambah yang sangat signifikan dalam setiap proses produksi barang dan jasa supaya bernilai ekonomis. Dia kampanye menemui pimpinan lembaga tertinggi dan tinggi negara, pimpinan partai-partai politik berpengaruh, LSM dan organisasi profesi, termasuk institusi pers dan berbagai institusi lain untuk diseminasi informasi.

Keanggotaannya di MPR RI Periode 1999-2003 yang mewakili Utusan Golongan Ahli Teknik, dia manfaatkan pula untuk menggalang kekuatan para anggota majelis yang berprofesi insinyur dan ahli teknik dari lintas partai.

Mereka lalu dimobilisasi untuk menunjukkan kepedulian dan keprihatinan atas semakin lemahnya kapabilitas teknologi di Indonesia. Mereka sepakat membentuk Komite Kerja Kaukus Teknologi sejak 2003, hingga sekarang. G.M. Tamnpubolon adalah Penasehat Fraksi Utusan Golongan MPR RI 1999-2004.

Organisasi profesi keteknikan dan lembaga legislatif adalah dua ladang pengabdian dia sebagai teknokrat. Dan itu sudah berlangsung lama sejak tahun 1968 saat masih bernama DPR-GR dan MPRS. Keanggotaannya di DPR/MPR tidak pernah kosong hingga berakhir di tahun 1992.

Di dua periode terakhir pengabdiannya itu dia dipercaya sebagai Ketua Komisi V DPR yang membidangi pembangunan sarana dan prasarana pembangunan seperti transportasi, pelabuhan, telekomunikasi, energi, perumahan rakyat, pariwisata, pos, pekerjaan umum, dan lain-lain. Ketika itu nama dia cukup populer di kalangan masyarakat sebab sebagai Ketua Komisi V DPR kebijakan yang dia tetaskan sangat berpengaruh strategis terhadap kehidupan masyarakat.

Misalnya, ketika dia harus menolak atau menyetujui kenaikan tarif tol yang diajukan oleh Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut, putri sulung Presiden Soeharto yang mengelola jalan tol Cawang-Grogol, lewat bendera usaha PT Citra Marga Nusaphala Persada di awal dekade 1990-an. Rakyat dan lembaga swadaya masyarakat tentu saja menolak usul kenaikan tarif sehingga muncul polemik luas dan berkepanjangan di media massa.

Tampubolon baru masuk kembali ke gelanggang Senayan sebagai Utusan Golongan di MPR sejak tahun 1999 hingga 2004.

Setelah tidak terpilih kembali menjadi anggota DPR RI di tahun 1993, oleh Pemerintah dia diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI di bawah kepemimpinan Laksamana (Purn) Sudomo, mantan Pangkopkamtib dan Menko Polkam. Namun justru di masa keanggotaan DPA itulah segala kiprah, jasa dan pengabdiannya sebagai teknokrat di bidang keteknikan secara resmi diakui pantas untuk dihargai.

Penghargaan itu pertama kali dia rasakan tahun 1995 saat memperoleh Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama, berdasarkan Keppres R.I. Nomor 063/TK/Tahun 1985 dari Pemerintah RI, yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto. Selempang penghargaan itu disematkan langsung oleh sahabatnya Menristek Prof. B.J. Habibie, dalam sebuah upacara peringatan Hari Kemerdekaan R.I di halaman upacara Kantor Menristek, Jakarta.

Antara B.J. Habibie dan G.M. Tampubolon terdapat sebuah hubungan persahabatan yang sangat dalam, sebagai sesama anak bangsa yang menggeluti bidang keteknikan. Bukan hanya keduanya terlibat di berbagai institusi yang dibangun bersama-sama, seperti di Yayasan Pengembangan Teknologi Indonesia (YPTI) yang mendirikan kampus Institut Teknologi Indonesia (ITI), sebuah perguruan tinggi keteknikan terlengkap dan termodern di Indonesia yang dibangun persis berdekatan dengan Puspiptek Serpong.

Keduanya sudah saling menopang sejak dari institusi PII hingga ke PATI. Terlebih di awal-awal kedatangan Habibie dari Jerman dan mulai dipercaya sebagai Menteri Negara Ristek di tahun 1978, Habibie banyak memperoleh dukungan dari kalangan insinyur yang bergabung di PII. PII menjadi basis dukungan massa yang dimobilisasi untuk menjalankan program-program Habibie membangun industri-industri strategis di Indonesia. Dan G.M. Tampubolon ada di belakang layar itu semua.

Bahkan ketika tampil sebagai Ketua Umum ICMI sekalipun, seperti pengakuan Ir. Tadjudin Noor Said, seorang politisi kawakan sekaligus vokalis dari Golkar asal Sulawesi Selatan, kini menjadi Anggota KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha), menyebutkan, praktis hanya G.M. Tampubolon satu-satunya warga bangsa non ICMI yang masih tetap bisa berdekatan dengan B.J. Habibie ketika itu.

Bukti lain kedekatan mereka adalah, ketika tampil sebagai Presiden R.I ketiga menggantikan Pak Harto, Habibie membentuk sebuah institusi baru di lingkungan kepresidenan yaitu Penasehat Presiden R.I Bidang Keteknikan. Dan sudah pasti adalah G.M. Tampubolon satu-satunya nama yang dipercaya menduduki jabatan tersebut.

Hubungan keduanya tidak putus kendati Habibie sudah bukan lagi presiden, lalu memilih tinggal menetap di Jerman. Sebab, jika setiap kali menginjakkan kaki di Indonesia keduanya pasti akan berkangen-kangenan. Menjelang Pemilu 2004 saat Habibie mulai lebih sering bermukim di Indonesia dan menemui tokoh-tokoh partai politik dan calon-calon pemimpin bangsa, pertemanan dan pertemuan mereka juga semakin erat dan intens.

Habibie, yang menyatakan diri kembali bersedia memimpin Republik Indonesia jika diminta oleh rakyat dan istrinya yang masih terbaring sakit di Jerman bisa sembuh total, barangkali, patut menjagokan tokoh pemikir kawakan G.M. Tampubolon sebagai tim sukses kampanye kepresidenan agar kejadian di tahun 1999 tidak terulang dimana Habibie memperoleh resistensi tinggi dari kalangan masyarakat.

Berselang dua tahun setelah menerima selempang Bintang Jasa Utama, di tahun 1997 G.M. Tampubolon akhirnya memperoleh penghargaan tertinggi sebagai putra terbaik bangsa, yaitu Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama berdasarkan Keppres R.I. Nomor 073/TK/Tahun 1987. Kali itu disematkan oleh Presiden Soeharto di Istana Negara, Jakarta.

Apakah Tampubolon berhenti menggagas ide setelah menjadi mahaputra terbaik bangsa dan usianya sudah memasuki masa awal anugerah 70 tahun lebih, jawabannya tidak. Energinya tetap terjaga selalu meningkat dan semakin membara. Tantangan yang dia hadapi masih banyak. Misalnya, bagaimana mengamankan kelanjutan kerjasama bisnisnya dengan mitra asing yang telah puluhan tahun dibangun dengan baik.

Dengan bendera GMT Group di tangan, dia bekerjasama dengan Shimizu Corp. sebuah kontraktor multinasional asal Jepang untuk membentuk PT Dextam Contractor. Dextam adalah perusahaan kontraktor yang sudah menorehkan banyak catatan emas membangun gedung-gedung bertingkat di Jakarta.

Demikian pula dengan Kinden Corp. dari Jepang, sejak 12 September 1974 dia membentuk PT Rakintam sebagai perusahaan kontraktor mekanikal dan elektrikal. Di perusahaan penangkapan ikan PT Toyo Fishing Corp. (Tofico) berbasis di Indonesia Bagian Timur dia bermitra dengan Seven Ocean Corp. dari Jepang.

Karena kerjasama itu rata-rata dibangun di tahun 1974 dan berjangka 30 tahun, maka, tahun 2004 adalah masa-masa penting bagi Tampubolon untuk meyakinkan mitra asingnya bahwa melanjutkan usaha patungan di Indonesia masih tetap sangat prospektif.

Dari sebuah gedung GMT Building miliknya di Jalan Wijaya I, Jakarta Selatan, dia sehari-hari mengendalikan grup usahanya bernama GMT Group. Perusahaan yang masuk dalam grup itu, selain yang sudah disebut di atas antara lain adalah PT Inti Karya Persada Tehnik (IKPT), PT Godi Maran Tiara, PT Gofri Megah Tiara, PT Kujang Tiara Lapi, PT Inti Era Cipta, PT Dharma Yasamas Teknindo, PT Rakintam Nusa, PT Asianenco Consult, dan lain-lain.

Di kantor GMT Building itu pula dia setiap hari Jumat berkumpul bersama puluhan karyawannya yang kristiani, berikut istri anak dan anggota keluarga dekat lainnya. Mereka melakukan ibadah kebaktian rutin Jumat siang untuk menghimpun kekuatan energi mengucap puji syukur kepada Tuhan Allah Yang Maha Kuasa yang selalu memberinya pertolongan, perlindungan, dan penghiburan sekaligus berkat-berkat berlimpah yang tiada tara. Kekuatan Tuhan itulah yang mampu menopang dia tetap bertahan di tengah gelombang arus perubahan zaman. Baik sebagai teknokrat, politisi, pengusaha, dan pelayan masyarakat luas.

Tampubolon tetap berkarya di semua zaman kepresidenan. Mulai dari Bung Karno, Pak Harto, Habibie, Gus Dur sahabatnya sebagai sesama anggota Fraksi Utusan Golongan MPR sebelum terpilih menjadi presiden. Dan kini Megawati. Pada masanya Tampubolon malah dijuluki sebagai king maker di kalangan insinyur dan ahli teknik.

Sebutan itu malah menjurus ke arah sebagai master mind dalam setiap mutasi dan promosi seseorang untuk menempati posisi dan jabatan tertentu di pemerintahan atau direksi di BUMN yang dia bidangi. Connection yang dia bangun di antara sesama kolega memang solid.

(Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Posted at 09:50 pm by karina
Comments (2)

Prof. DR. KRHT Tarnama Sinambela Kusumonagoro

Dia potret anak bangsa yang terkenal gigih, ulet dan pantang menyerah hingga meraih sukses. Pengusaha, pendiri dan pemilik PT Sumber Batu Group ini, selain sukses sebagai pengusaha, juga sangat peduli pada pengembangan budaya, pendidikan dan kerohanian. Tak heran bila putera berdarah Batak ini memperoleh Gelar Kehormatan Kanjeng Raden Hario Tumenggung (KRHT) dari Keraton Solo, Surakarta, serta sejumlah penghargaan lainnya.



Dia adalah pendiri sekaligus pimpinan tertinggi PT Sumber Batu Group, sebuah kelompok usaha jasa konstruksi yang sejak awal pendirian tahun 1970 dikenal berkiprah banyak di lingkungan proyek-proyek pembangunan fisik, terutama jalan dan jembatan. Dia juga mendirikan dan memimpin lembaga pendidikan, mulai tingkat dasar sampai tingkat tinggi, di bawah bendera Yayasan Budi Murni.

Seiring keberhasilannya berbisnis, dia pernah dua kali diusulkan sebagai calon Gubernur Sumatera Utara, yaitu pada tahun 1982 dan 1992. Profil tentang dirinya berjudul “Pantang Menyerah” diluncurkan pada tahun 1996. Sebuah buku yang mengukir perjalanan hidupnya yang pantang menyerah hingga meraih sukses.


Dia menjadi pengusaha sukses melalui proses alamiah yaitu tumbuh dan berkembang dari bawah. Berkapital secukupnya bertekad baja dan pantang menyerah lalu bekerja keras dan jujur meraih keberhasilan. Kehadirannya persis saat Jakarta sedang membutuhkan banyak pengusaha jasa konstruksi untuk menata Ibukota Negara menjadi kota metropolitan baru yang ramah terhadap penduduk dan lingkungan.

Dia adalah Tarnama Sinambela bungsu dari tujuh bersaudara yang lahir pada tanggal 16 Juli 1943 di sebuah perkampungan yang tenang, Desa Pangasean, Porsea, Sumatera Utara. Suami dari Damaris br. Tampubolon ini adalah ayah dua orang anak dan kakek beberapa orang cucu yang memimpin PT Sumber Batu Group, perusahaan jasa konstruksi terkenal rekanan Pemda DKI Jakarta.

Berbagai pekerjaan pembuatan maupun perbaikan jalan, jembatan, trotoar, pengairan, saluran irigasi, bangunan gedung dan berbagai jasa sipil lain bahkan hingga ke pengujian asap kendaraan bermotor pernah dia terima dari Pemda DKI Jakarta sejak awal tahun 1970-an.

Setelah bertengger di puncak kesuksesan dia tak lupa menoleh ke bawah. Yayasan Pendidikan Budi Murni pengelola Universitas Mpu Tantular (UMT) dan sejumlah sekolah TK, SD, SMP, SMA, STM, dan SMEA Budi Murni dia dirikan sebagai bentuk pengabdiannya kepada masyarakat luas yang membutuhkan pendidikan maju. Dia ingin seluruh masyarakat mempunyai akses terbuka terhadap pendidikan, tidak seperti dirinya dahulu kala.

Dia ingat ketika masih tinggal di Desa Pangasean, Porsea, Sumatera Utara tiap hari harus berjalan kaki sejauh lima kilometer menuju sekolah SMP di Narumonda. Ketika SMA dia harus tinggal di rumah kakak sulungnya di Medan sebab pendidikan sejenis belum tersedia di Pangasean. Itu belum cukup. Untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke universitas dia harus menunggu selama sepuluh tahun. Dia baru berkesempatan duduk di bangku kuliah setelah mempunyai istri, dua orang anak, dan memimpin CV Budi Mulya sebagai direktur.

Dia ingin agar apa yang pernah menimpanya dahulu, seperti hidup sebagai anak petani di desa terpencil dengan sumber pendapatan yang terbatas ditambah akses pendidikan yang tidak tersedia jangan lagi menimpa generasi angkatan baru masa mendatang.

Kesuksesan dia berjuang menaklukkan rimba Metropolitan Jakarta hingga ke tanah Keraton Kasunanan Surakarta yang mengangkatnya sebagai saudara sekandung dan karenanya berhak menyandang gelar kebangsawanan, adalah bukti lain kesungguhan perantau Batak ini sebagai anak bangsa yang menjunjung tinggi keberagaman di bumi Indonesia.

Melihat begitu intens dan besarnya kontribusi yang pernah dia berikan terhadap kemajuan kehidupan sosial keagamaan, menjadikan cerita menarik bahwa dahulu dia bekerja 16 jam sehari namun setiap hari Minggu tak boleh terlewatkan tanpa berbakti kepada Tuhan di Gereja, adalah bukan isapan jempol belaka.

Pengusaha yang kuat ini ditopang oleh seorang istri yang kuat pula di belakang yakni Damaris br. Tampubolon. Mereka berdua biasa bertemu muka selalu hanya pada saat bersentuhan dengan Tuhan di Gereja. Mereka menikah tahun 1963 saat usia dia masih 20 tahun, atau hanya dua tahun setelah menginjakkan kaki di Jakarta dengan status pekerja Hotel Indonesia sebagai Food & Beverage Manager.

Istri yang kuat yang menopang keberhasilan suami tanpa kompromi tanpa pamrih dan tanpa tedeng aling-aling itu setahun kemudian atau 8 April 1964 “menghadiahkan” dia seorang anak laki-laki diberi nama Budi Parlindungan Sinambela. Hanya dalam usia dua tahun perkawainan tepatnya 18 Oktober 1965 kembali hadir anak lelaki kedua sekaligus yang terakhir, Santo Mulya Parulian Sinambela.

Kombinasi nama kedua buah hati itulah yang melahirkan entitas bisnis pertamanya CV Budi Mulya, berdiri tahun 1970, berkantor di Inter Hotel, Jalan Gunung Sahari Raya, Jakarta Pusat. Kehadiran CV Budi Mulya, yang belakangan berubah nama menjadi PT Budi Mulya Jaya dibawah kendali Budi Parlindungan Sinambela, cikal bakalnya dimulai sejak tahun 1969 saat dia memulai usaha kecil-kecilan leveransir bahan bangunan.

Dia waktu itu melayani kebutuhan berbagai bahan bangunan untuk keperluan kegiatan pekerjaan perusahaan-perusahaan jasa konstruksi yang sedang giat-giatnya membangun Kota Jakarta seperti perbaikan jalan, saluran, jembatan, hingga ke perbaikan perkampungan di seluruh wilayah Jakarta.

Jakarta ketika itu dipimpin oleh Letnan Jenderal Marinir Ali Sadikin Gubernur DKI Jakarta periode tahun 1966-1977. Ali Sadikin adalah gubernur paling berhasil sepanjang sejarah Kota Jakarta yang sukses membangun Jakarta baik secara fisik maupun mental masyarakat.

Untuk menyulap Kota Jakarta yang masih kumuh dan tak lebih seperti perkampungan menjadi kota metropolitan baru yang disegani oleh dunia internasional, Ali Sadikin ketika itu membuka kesempatan yang seluas-luasnya kepada para pengusaha jasa konstruksi turut serta menjadi pelaksana pembangunan sarana dan prasarana perkotaan. Seperti yang dia amati, Jakarta ketika itu aktif melakukan pembangunan jalan raya, jembatan, saluran irigasi, bangunan gedung, dan berbagai pekerjaan sipil lainnya.

Pebisnis leveransir bahan bangunan itu menjadi ingin mengikuti jejak langkah para kenalannya dari perusahaan jasa konstruksi yang dia suplai. Jabatan manajer di Hotel Indonesia dia lupakan untuk menjadi seorang enterpreneur baru.

Usaha leveransir yang dia rintis telah membuka akses kepadanya untuk berhubungan serta bergaul akrab dengan para petinggi perusahaan konstruksi. Akses itu dirasakannya cukup sebagai modal untuk menetaskan sebuah entitas perusahaan jasa konstruksi baru milik sendiri.

Itulah CV Budi Mulya, yang dalam usia satu tahun pertama telah dipercaya memperoleh sekaligus menyelesaikan tiga kontrak pekerjaan pembangunan gedung di Jakarta, tahun 1971.

Karena dia merantau ke Jakarta sesungguhnya adalah untuk meneruskan pendidikan tinggi, dan rencana itu telah tertunda selama 10 tahun, maka, di tahun 1971 ketika kesempatan tersedia dia langsung memasuki Universitas Tujuhbelas Agustus 1945 (Untag). Saat itu usia dia sudah menginjak 28 tahun.

Dia tetap genjot laju perusahaan dari pagi hari pukul 07.30 hingga sore 14.30 WIB, lalu sejak pukul 16.00 hingga larut malam pukul 21.00 WIB dia duduk di bangku kuliah Fakultas Ilmu Administrasi Niaga, Jurusan Ketataniagaan Untag.

Dia tidak merasa letih bekerja sambil kuliah. Sebab sebelumnya dia telah pula pernah bekerja di dua tempat sekaligus dalam satu hari untuk jangka waktu lama. Yaitu di Hotel Indonesia sebagai manajer dan di proyek pembangunan gedung Sarinah sebagai pelaksana, keduanya di Jalan MH Thamrin Jakarta. Di tahun 1962 itu sebagai Food & Beverage Manager Hotel Indonesia dia bekerja mulai pukul 07.30 hingga 15.00 WIB, lalu usai itu dia langsung bergegas ke seberang menuju proyek gedung Sarinah.

Kesediaan dia bekerja rangkap ketika itu mengikuti ajakan pakar beton bertulang Prof. DR. Ir. Roosseno, pimpinan proyek gedung Sarinah. Kedua anak bangsa ini pernah berkenalan dalam posisi yang berbeda. Dia sebagai pekerja hotel yang melayani tamu sedangkan Roosseno tamu yang sering mengunjungi Hotel Indonesia.

Tentang dia, Roosseno di tahun 1985 pernah berujar telah mengenal dia sejak tahun 1972 sewaktu masih bekerja di Hotel Indonesia, Jakarta. Orangnya masih muda dan kurus belum gemuk. Roosseno selanjutnya menyebutkan mengajak dia bekerja rangkap di proyek pembangunan pusat pertokoan Sarinah, Jakarta.

“Dengan kemauan yang keras didukung oleh fisik yang masih muda, dia sanggup bekerja pada dua tempat pekerjaan walaupun untuk itu dia harus bekerja siang dan malam,” begitu kesaksian Roosseno yang menjadi guru sekaligus ayah pembimbing bagi dia, serta sebagai pembantu setia sebagai bendahara umum di kepengurusan BPP Gapensi yang dipimpin Roosseno ketika itu.

Maka, mengikuti bimbingan sang guru dia bekerja seringkali hingga larut malam. Selain dia maksudkan untuk menggali ilmu konstruksi juga untuk menunjukkan rasa hormatnya terhadap pimpinan proyek yang selalu mengajari dia bagaimana bekerja keras sekaligus bertanggung jawab pada setiap pekerjaan konstruksi.

Proyek Gedung Sarinah adalah pekerjaan sipilnya yang kedua. Sebelumnya di tahun 1961, persis di awal pertamakali dia menginjak Jakarta, sebagai pekerja asisten pelaksana PT Pembangunan Perumahan dia mengerjakan proyek pembangunan gedung Hotel Indonesia. Di situ, tak lama kemudian karirnya meningkat sebagai pelaksana proyek yang bertanggungjawab terhadap pemakaian material dan pengerahan tenaga kerja harian. Dia menjadi unik hotel kebanggaan Bung Karno ini. Pertama kali dia bekerja sebagai pelaksana pembangunan gedung, lalu setelah selesai melamar dan menjadi manajer pada hotel yang dia bangun itu.

Perjuangan dia menyetarakan diri dengan peradaban modern lewat bangku kuliah berlangsung hingga tahun 1976. Di tahun itu dia diwisuda untuk berhak menyandang gelar sarjana penuh pada disiplin ilmu ketataniagaan.

Dia pun semakin melangkah mantap mengembangkan usaha jasa konstruksi, terutama lewat CV Sumber Batu yang telah dia dirikan di tahun 1972. Sedangkan pengelolaan CV Budi Mulya dia serahkan sepenuhnya kepada istri Damaris br. Tampubolon.

CV Sumber Batu hingga tahun 1974 berhasil menyelesaikan 18 kontrak pekerjaan senilai tak kurang Rp 223 juta, sebuah angka yang sudah cukup besar ketika itu untuk perusahaan sekelas CV berkualifikasi rendah.

Untuk semakin membuka peluang mencari proyek baru dia mengubah status badan hukum usahanya menjadi perseroan terbatas, PT Sumber Batu sejak 6 Agustus 1974. Dia sekaligus menaikkan kualifikasi perusahaannya yaitu menjadi Kelas C untuk pekerjaan bangunan gedung, Kelas B untuk pekerjaan bangunan air, dan Kelas D untuk pekerjaan jembatan.

Bangun Asphalt Mixing Plant
Dalam empat tahun pertama berstatus perseroan hingga tahun 1978 PT Sumber Batu berhasil menyelesaikan pekerjaan sebanyak tujuh kontrak senilai Rp 744 juta.

Di tahun 1978 itu pula berdasarkan kajian serta perhitungan yang cermat dan cerdas dia mendirikan satu unit pabrik penghasil aspal beton hotmix, atau Asphalt Mixing Plant dilengkapi sejumlah alat-alat berat pendukung. Total investasi Rp 1,750 miliar sebuah investasi mahal berjangka panjang ketika itu.

Bersamaan itu dia semakin boleh berbangga hati sebab perusahaanya PT Sumber Batu diizinkan naik ke kelas tertinggi. Predikat Kelas A memungkinkan perusahaan jasa konstruksi seperti Sumber Batu berhak mengerjakan proyek-proyek konstruksi apa saja tanpa batasan nilai proyek.

Keteguhan sekaligus keberanian dia menjadi produsen aspal beton hotmix adalah lompatan baru dalam hal modernisasi teknologi pembangunan fisik. Hotmix sangat praktis digunakan untuk memperkuat konstruksi jalan raya, landasan pesawat terbang, pelataran parkir, dermaga pelabuhan, maupun berbagai keperluan lain.

Penggunaan hotmix sangat sesuai untuk pekerjaan bervolume besar sebab hotmix sangat praktis digunakan sehingga efisien dan pengerjaannya tidak butuh waktu lama. Kualitas jalan raya yang dihasilkan pun mampu mendukung beban berat seperti pada jalan raya kelas satu, atau pada pelataran kontiner, dan sebagainya.

Aspal hotmix dia yakini bukan hanya bisa diandalkan untuk mengejakan proyek-proyek pemerintah namun setiap proyek swasta pun layak memanfaatkan produk teknologi modern pengaspalan ini.

Hanya berselang setahun, sejak tahun 1979 Pemda DKI Jakarta menunjuk PT Sumber Batu sebagai salah satu produsen hotmix yang diperkenankan menangani pekerjaan perawatan rutin jalan-jalan raya di seluruh wilayah Jakarta. Tahun 1980 Sumber Batu berhasil menyelesaikan sembilan pekerjaan hotmix dan tujuh pekerjaan bangunan air senilai Rp 1,332 miliar.

Di tahun 1980 ini pula dia kembali mendirikan satu tambahan Asphalt Mixing Plant dilengkapi alat berat dan laboratorium total investasi Rp 2,500 miliar, lokasi di Jalan Raya Bekasi KM 23,5, Cakung, Jakarta Timur. Kapasitas produksi hotmix meningkat dari 300 ton menjadi 600 ton perhari. Kedua unit Asphat Mixing Plant tersebut di tahun 1981 berhasil menyelesaikan 11 kontrak pekerjaan senilai Rp 1,012 miliar.

Kepercayaan Ditjen Bina Marga menyerahkan pekerjaan peningkatan jalan raya Jakarta-Tangerang-Merak dia jawab dengan pendirian satu Asphalt Mixing Plant baru persis di lokasi proyek di Cikande, Jawa Barat, November tahun 1981. Selama tahun 1981-1982 Sumber Batu berhasil menyelesaikan 23 kontrak pekerjaan senilai Rp 3,724 miliar.

Dalam perjalanan waktu kemudian dia masih mendirikan beberapa Asphalt Mixing Plant baru di setiap lokasi proyek yang ditangani. Seperti yang dia dirikan di tahun 1985 di Kotanopan, Sumatera Utara untuk menunjang pelaksanaan pelebaran jalan Jembatan Merah-Ranjau Batu senilai Rp 3,700 miliar. Demikian pula di Cirebon, juga tahun 1985, untuk menunjang proyek pelebaran jalan Dawuhan Kalijaga, Cirebon senilai Rp 2,300 miliar.

Selain mendirikan Asphalt Mixing Plant di kedua proyek Kotanopan dan Cirebon itu, dia melengkapi pula mesin pemecah batu atau Stone Crusher masing-masing satu unit. Di tahun 1986 mesin serupa pemecah batu stone crusher dia dirikan di site plant Cakung, Jakarta Timur.

Kisah sukses pendirian pabrik hotmix yang memberinya keuntungan besar serta membuka peluang untuk memenangkan tender mengilhami dia untuk juga mendirikan pabrik beton concrete batching plant. Pabrik beton itu mulai dia dirikan di tahun 1984 dilengkapi 10 truck mixer yaitu truk pengangkut beton ke lokasi proyek, serta satu unit laboratorium beton. Total menelan ivestasi Rp 1,200 miliar.

Dia jeli meneropong jauh ke depan. Naluri bisnisnya yang sudah terasah tajam memberinya sikap mafhum bahwa pembangunan fisik di Indonesia yang sedang gencar akan tetap gencar dan pasti membutuhkan jutaan meter kubik beton. Beton itu sangat dibutuhkan untuk pembangunan gedung pencakar langit mulai dari pekerjaan pondasi hingga struktur gedung. Demikian pula beton untuk pembangunan jembatan, trotoar, penurapan saluran air, irigasi, dan berbagai pekerjaan sipil lainnya yang membutuhkan beton.

Kebutuhan beton itu bukan hanya untuk setiap proyek yang dia tangani, melainkan semua perusahaan jasa konstruksi lain yang belum mempunyai concrete bathing plant boleh memesan beton kepada dia. Tak butuh waktu lama, pada 1 Maret 1985 produksi pertama beton siap pakai (readymix) miliknya mulai meluncur digunakan sendiri pada proyek yang dikerjakan Sumber Batu.

Pilihan mendirikan pabrik aspal hotmix, beton, dan stone crusher berinvestasi besar menunjukkan salah satu sisi lain dari jati diri dia yang sesunguhnya. Yaitu selalu ingin sejajar dengan kemajuan teknologi pembangunan fisik. Dia tidak mau disebutkan tertinggal dari orang lain kendati berasal hanya dari sebuah desa kecil, Pangasean, Porsea.

Untuk menunjukkan totalitas keterlibatannya membangun Jakarta sejak 1 Mei 1980 dia menerima keputusan Kepala DLLAJR DKI Jakarta yang menunjuk PT Sumber Batu sebagia pelaksana pengujian asap kendaraan bermotor. Dia juga diperkenankan melakukan perbaikan seperlunya terhadap setiap mesin kendaraan yang proses pembakaran sudah tidak sempurna.

Dia tidak sendiri tetapi ditopang oleh Lembaga Ekologi Universitas Pajajaran Bandung untuk melakukan upaya pengendalian pencemaran udara di kota besar seluruh Indonesia. Dengan lembaga itu dia bekerjasama mengumpulkan data-data analisa untuk memperoleh gambaran yang lengkap guna merencanakan usaha pelestarian dan perlindungan lingkungan hidup.

Karena kepedulian dia terhadap kelestarian lingkungan itu pada Maret 1981 dia berkesempatan beraudiensi dengan Wakil Presiden Adam Malik untuk melaporkan kegiatan pengujian asap kendaraan bermotor berikut usaha penanggulangan pencemaran udara. Saat itu juga Adam Malik langsung memberi petunjuk dan pengarahan tentang usaha penanggulangan pencemaran udara yang telah dia rintis.

Jenis dan skala usaha yang meluas membutuhkan beragam barang cetakan seperti formulir, daftar isian, surat-surat, buku-buku, kwitansi, map dan sebagainya yang jumlahnya cukup besar. Sejak Mei 1984 dia lagi-lagi memasuki area bisnis baru yaitu percetakan. Dia menghadirkan seperangkat lengkap alat percetakan, yaitu masing-masing satu unit mesin cetak Fuji Offset, mesin potong kertas, plate maker, dan mesin letter press.

Mesin cetak ini dia maksudkan untuk melayani kebutuhan barang cetakan di PT Sumber Batu, Yayasan Pendidikan Budi Murni, dan Universitas Mpu Tantular namun tak tertutup kemungkinan memenangkan kontrak-kontrak pekerjaan cetakan dari luar dalam jumlah besar.

Terjun ke pendidikan
Dia adalah bungsu dari tujuh bersaudara yang lahir tepat pada tanggal 16 Juli 1943 di sebuah desa yang tenang, Desa Pangasean, Porsea, Toba Samosir, Sumatera Utara. Dia lahir di tengah-tengah sebuah keluarga petani kecil yang untuk menambah penghasilan saja satu-satunya peluang yang tersedia adalah memelihara beberapa ekor kerbau, bebek, dan ayam.

Ayahnya memberi dia nama Tarnama agar penggembala kerbau di masa kanak-kanak itu suatu saat bisa hidup sama seperti namanya yaitu terkenal, atau ternama dimana-mana karena kebaikan, ketokohan, dan kisah suksesnya. Dan itulah yang sesungguhnya telah terjadi pada diri Tarnama.

Padahal, dahulu setamat SMA di Medan tahun 1961 dia pulang ke kampung Pangasean untuk memohon izin merantau ke Jakarta hanya dibekali dua hal. Bekal pertama selembar ijazah SMA berikut sedikit uang hasil penjualan seekor kerbau yang sebelumnya sudah akrab dia gembalakan.

Dan bekal kedua adalah spirit berupa perumpamaan khas Tapanuli, ‘Ulosi nasa tungko-tungko sai adong doi hangoluanmu. Saongi angka dalan dapot ho do na tonggi dalan pasu-pasu’. Artinya, ‘Manfaatkanlah rezeki sekecil apapun itu sebelum cita-cita tercapai sebab jika dikumpulkan akan menjadi banyak dan dapat menjadi jalan kehidupan. Kemudian tanamlah kebaikan di dalam kehidupan agar beroleh rezeki dari sesama manusia dan beroleh yang manis atas jerih payahmu.’

Salah satu sebab setiap kali dia melebarkan sayap usaha adalah karena dibangkitkan oleh semangat yang bergelora. Yaitu semangat untuk membantu menyediakan lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya. Dan bersamaan itu dari sisi yang lain dia bersemangat pula untuk mendirikan sekolah maupun lembaga kursus untuk menyiapkan generasi yang lebih maju yang kelak mudah memperoleh pekerjaan.

Pada tahun 1976 Tarnama sudah mendirikan Yayasan Pendidikan Budi Murni yang menyelenggarakan pendidikan mulai TK, SD, SMP, SMA, SMEA, dan STM. Kemudian di tahun 1983 dia mendirikan Lembaga Penunjang dan Peningkatan Pendidikan (LP3) serta mengadakan kerjasama dengan Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia, Jakarta.

Tahun 1984 adalah awal dia mulai memasuki dunia pendidikan tinggi saat mendirikan Universitas Mpu Tantular (UMT). Di tahun itu juga dia mengadakan kerjasama dengan sebuah lembaga pendidikan tinggi asing Jhon Dewey University, dari Amerika Serikat. Lembaga lain yang dia dirikan adalah Lembaga Pendidikan Komputer di tahun 1999, Akademi Manajemen Ilmu Komputer di tahun 1999, Lembaga Akademi Maritim di tahun 2000, dan Lembaga Bahasa Inggris di tahun 2000.

Ke daerah-daerah dia aktif melebarkan usaha mendirikan bank perkreditan rakyat (BPR) untuk memberikan kredit bagi setiap orang yang membutuhkan uang untuk modal usaha. Beberapa BPR sudah dia dirikan. Antara lain, BPR Sumber Pangasean di Cikampek, Jawa Barat berdiri tahun 1992, BPR Sumber Hiobaja di Baki, Solo, Jawa Tengah tahun 1993, BPR Sumber Sibapudung di Cirebon, Jawa Barat tahun 1993, BPR Sumber Tiopan Raya di Tanjung Morawa, Medan, Sumatera Utara tahun 1993, dan BPR Sumber Lumban Mual di Citereup, Bogor, Jawa Barat tahun 1993.

Aktif berorganisasi
Untuk memperluas cakrawala pemikiran serta agar selalu berada di lingkaran dalam para pelaku usaha jasa konstruksi dia melibatkan diri di sejumlah organisasi profesi. Malah tidak jarang dia diminta tampil sebagai pengurus inti. Misalnya, dia aktif di organisasi Gabungan Pelaksana Konstruksi Indonesia (Gapensi), Perhimpunan Instalatur Air Minum Jakarta, Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI), Kadin Jaya dan Kadin Indonesia, Asosiasi Asphalt Beton DKI Jakarta, Anggota Dewan Penyantun Universitas Bukit Barisan Medan, Sumatera Utara, bahkan hingga Dewan Pertahanan Keamanan Nasional (Wanhankamnas).

Pengusaha sukses yang di tahun 1984 pernah diangkat sebagai Staf Deputi Pembangunan Dewan Pertahanan Keamanan Nasional (Wanhankamnas) ini, di tahun 1980 memperoleh penghargaan berupa gelar doktor honoris causa dari Jhon Dewey University Consortium, AS. Dan di tahun 1993 masih dari universitas yang sama dia memperoleh lagi gelar profesor. Selain tercatat beberapa kali memperoleh medali penghargaan pendidikan, di tahun 1994 Tarnama dinobatkan sebagai “Tokoh Pendidikan” dalam acara Men of The Year 1993-1994 yang didasarkan karena tingginya tingkat kepedulian dia mengembangkan dunia kependidikan.

Bidang lain yang kerap kali pernah memberi dia penghargaan atas keterlibatan aktif dan dedikasinya adalah bidang seni budaya, bidang usaha, bidang keagamaan, bidang pemerintahan, dan bidang olahraga.

Di bidang seni budaya pada tanggal 23 April 1985 Tarnama memperoleh gelar kehormatan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) dari Keraton Solo, Surakarta. Saat itu, adalah bersamaan hari ulang tahun Kasunanan Pakubuwono XII dia memperoleh penobatan gelar bangsawan Jawa dalam sebuah upacara kebesaran adat Keraton Surakarta. Sejak itu resmilah nama lengkap dia menjadi Kanjeng Raden Tumenggung DR. Tarnama Sinambela Kusumonagoro.

Namun persis sembilan tahun kemudian, pada tahun 1994 dari sumber yang sama yaitu Keraton Surakarta dia kembali memperoleh gelar kehormatan kebangsawanan. Kali ini lebih bergengsi yaitu Kanjeng Raden Hario Tumenggung. Sehingga, nama lengkap dia sekarang adalah Prof. DR. Kanjeng Raden Hario Tumenggung Tarnama Sinambela Kusumonagoro.

Jika gelar bangsawan Jawa pernah dia peroleh, sebaliknya kepada seorang putra Jawa dia bersama tetua adat pernah pula menganugerahkan sebuah marga yakni Sinambela kepada Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo pada bulan Oktober 1981. Dasar pemikirannya, Tjokropranolo adalah seorang tokoh yang banyak mengabdi kepada kepentingan masyarakat luas.

Hal itu dibuktikan oleh mulai tukang becak, pedagang kaki lima yang berdagang beratapkan langit maupun tenda-tenda, demikian pula anak-anak, orang tua hingga masyarakat intelektual semua mengenal siapa gubernurnya yaitu Tjokropranolo.

Tarnama kakek dari beberapa orang cucu yang di tahun 1987 pernah dinobatkan sebagai pria berbusana terbaik, pada tahun sama 1987 itu dia pernah memperoleh penghargaan dari Lembaga Sisingamangaraja XII atas peran sertanya mensukseskan pelaksanaan Peringatan 10 Windu Wafatnya Pahlawan Sisingamangaraja XII.

Pengusaha terkenal itu juga pernah dianugerahi beragam penghargaan khusus di bidang dunia usaha. Dia antara lain pernah dinobatkan sebagai salah satu Pahlawan Wiraswasta dalam buku Profil 10 Pengusaha Indonesia, yang terbit tahun 1992. Kemudian, pada tahun 1994 dinobatkan sebagai Putra Penerus Pembangunan Bangsa oleh Yayasan Pengembangan Mode Forum dan Budaya Indonesia.

Dia begitu intens membantu kegiatan kerohanian terlihat dari besarnya peran dan kontribusi yang pernah dia berikan. Cerita di masa muda bahwa setiap hari Minggu tak pernah terlewatkan tanpa berbakti kepada Tuhan di Gereja bukan isapan jempol belaka.

Bahkan, pengusaha kuat ini ditopang oleh seorang istri yang kuat pula Damaris br. Tampubolon yang dia “ketemukan” saat-saat bersentuhan dengan Tuhan di Gereja. Mereka menikah tahun 1963 saat usia dia masih 20 tahun.

Sederetan penghargaan dari berbagai denominasi gereja pernah dia terima. Deretan yang sama panjang pernah pula dia terima di bidang pemerintahan..

Tarnama yang dahulu biasa mengendarai scooter Vespa tua.miliknya hilir mudik dari rumah ke kantor, ke instansi pemerintah dan swasta pemberi proyek, serta ke lokasi proyek-proyek yang sedang dikerjakan adalah Tarnama yang masih sama dengan sekarang yang penuh dengan kerendahan hati dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tidak ada yang berubah pada dia walau namanya sungguh sudah benar-benar ternama di antara elit pengusaha nasional sesuai keinginan sang ayah saat memberinya nama Tarnama Sinambela.

“Bapak gurunya” di bidang konstruksi Roosseno menyebutkan dibutuhkan ribuan putera-puteri Indonesia seperti Tarnama Sinambela yang mau berpartisipasi mendukung usaha pemerintah d bidang pembangunan fisik maupun dalam usaha mencerdaskan bangsa.

Letnan Jenderal ((Purn) Tjokropranolo, Gubernur DKI Jakarta 1977-1982 yang banyak memberi dia kesempatan mengembangkan diri menjadi pengusaha pribumi yang berhasil memberikan pujian yang senada.

Gubernur Tjokro pengganti Ali Sadikin itu menyebutkan, sebagai orang yang lebih tua selalu memberi nasehat dan anjuran-anjuran kepada Tarnama Sinambela agar di dalam setiap investasi yang ditanamkan untuk pengembangan perusahaan tidak lupa memikirkan nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga, pengembangan perusahaan itu dapat membuka lapangan pekerjaan bagi tenaga-tenaga Indonesia yang belum memperoleh kesempatan bekerja.►ht


(Ensiklopedi Tokoh Indonesia)


Posted at 09:45 pm by karina
Make a comment

DR Albert Hasibuan, SH

Pria yang lugas dan sabar ini menggumuli banyak profesi. Mulai dari dosen, advokat, politisi, pemimpin surat kabar, aktivis HAM dan kini menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Konstitusi. Dalam aneka profesi dan bidang tugas itu, ia selalu memberikan kontribusi yang berguna laksana garam, yang memberi rasa dan mengawetkan (mencegah kebusukan) tanpa menonjolkan sosok dirinya. Ia seorang profesional yang tak mengenal batas lingkup pengabdian.

Di lembaga Mahkamah Konstitusi yang baru dibentuk tahun 2003, mantan anggota MPR/DPR, ini bersama rekan-rekannya bertugas melakukan pengkajian secara komprehensif tentang perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sejak 5 November 2003, Komisi Konstitusi ini menerima masukan atau aspirasi masyarakat melalui email ataupun surat.

Pria cerdas yang sederhana ini lahir di Bandung, Jawa Barat, 25 Maret 1939. Ia menamatkan pendidikan dasar hingga SLTA di Jakarta. Selanjutnya Albert melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI) tamat tahun 1966. Dari sana, Albert menjadi pengacara/advokat. Ia eksponen Angkatan '66 yang turut berjuang mengganyang PKI dan menumbangkan Orde Lama.

Sebenarnya, waktu kecil, orang Batak yang lahir di Bandung dan besar di Jakarta ini bercita-cita menjadi penerbang. Tetapi, ibu dan ayahnya menganggap profesi penerbang itu berbahaya. Akhirnya, ia memang beralih ke bidang hukum. Minatnya pada ilmu hukum dimulai saat ia duduk di SMA dan ketika mendapatkan pelajaran tata hukum. "Ilmu hukum berhubungan dengan aturan dan yang harus diatur, agar tercipta ketertiban. Ini menarik dipelajari,'' ujar sulung dari tiga bersaudara itu.

Begitu tamat dari FH UKI, ia mengajar di almamaternya, UKI. Tahun 1968, bekas komandan Yon Yani Laskar Ampera Arief Rachman Hakim ini membuka Biro Bantuan Hukum bersama beberapa kawannya. Pada 1971, bersama Adnan Buyung Nasution, ia mendirikan Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Saat itu, Buyung yang menjadi Ketua, sementara Albert sekretaris. Tapi kemudian, ia mendirikan kantor pengacara sendiri di Jakarta Pusat. Tahun 1972 ia menjadi anggota MPR. Kemudian, pada 1977, ia menjadi anggota DPR dari Fraksi Karya Pembangunan dan terus terpilih hingga empat periode berturut-turut.

Namanya sebagai pengacara/advokat kemudian melambung. Ia juga menangani kasus-kasus yang masuk dalam kategori besar dan kontroversial. Ia pernah menjadi pembela Rewang, tokoh PKI, dan Oei Tjoe Tat, seorang menteri masa Soekarno yang diseret ke pengadilan. Soal itu, Albert berkomentar bahwa warna politik dan latar belakang terdakwa tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak mendampinginya di pengadilan. Siapa pun yang menjadi terdakwa, seorang pengacara dan ahli hukum harus menerapkan praduga tidak bersalah.


Namanya makin melesat ketika menangani kasus Sengkon dan Karta, yang masing-masing dihukum 7 dan 12 tahun penjara karena dituduh membunuh Sulaiman dan istrinya di Desa Bojongsari, Bekasi, 1974. Tuduhan, kemudian, ternyata melenceng. Didampingi oleh Albert, Sengkon dan Karta mengajukan peninjauan kembali perkara (herziening), dan Mahkamah Agung menyetujuinya. Yang disesalkannya, gugatan ganti rugi Sengkon dan Karta kepada (Departemen Kehakiman) ditolak.

Selain itu, Albert juga pernah menjadi kordinator pengacara Pertamina yang bersengketa dengan keluarga Ahmad Tahir, untuk mengembalikan hasil korupsi Tahir. Dalam persidangan yang dilakukan di Singapore itu, Pertamina memenangkan sengketa itu. Memang soal peradilan itu, sempat membuat ia deg-degan. Sampai-sampai malam menjelang diputuskan hasil persidangan itu, Albert tidak bisa tidur.

Pada 1992, Albert meraih gelar doktor ilmu hukum di Universitas Gadjah Mada. Ia berhasil mempertahankan disertasinya berjudul "Pelaksanaan Fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Periode Tahun 1977-1982" dengan predikat sangat memuaskan. Ia merupakan doktor ke-194 yang dihasilkan UGM pada waktu itu. Setelah itu, kelihatannya, mantan anggota DPR dari FKP itu makin mantap di dunia politik. ''Kita bisa berbuat lebih banyak di bidang politik ketimbang hukum,'' ujar ayah tiga anak yang suka jogging dan tenis ini.


Dan memang, kemudian Albert lebih banyak aktif di politik, ketimbang menjadi pengacara/advokad. Belakangan, ia pun dikenal sebagai salah seorang pembela HAM, terutama setelah diangkat menjadi anggota Komnas HAM.

Pada 22 September 1999, dibentuk KPP HAM - Komisi Penyelidik Pelanggaran HAM untuk Timor Timur -- komisi yang dibentuk Komnas HAM untuk mengusut masalah pelanggaran HAM di Timor Timur pra dan paska jajak pendapat dimana Albert menjadi ketuanya. Lembaga yang dimotori Albert itu berani memanggil dan memeriksa sejumlah petinggi militer di negeri ini, termasuk mantan Panglima TNI Jenderal Wiranto dalam kaitan dengan pelanggaran HAM di Timor Timur.



Munculnya KPP HAM juga menimbulkan banyak protes. Misalnya, ketika KPP HAM mengumumkan nama-nama orang yang diduga terlibat dalam kasus pelanggaran HAM di Timor-Timur, beberapa pihak, termasuk TNI, ada yang menunjukkan rasa tidak senang. Mereka menganggap KPP HAM terlalu cepat mengumumkan temuannya tanpa didukung bukti-bukti yang lengkap.

(Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Posted at 09:39 pm by karina
Make a comment

Panda Nababan

Penerima penghargaan jurnalistik Adinegoro (1976), ini menjadi salah seorang anggota Fraksi PDIP DPR RI yang tergolong menonjol. Ia sering tampil dalam dialog interaktif dan seminar. Pria kelahiran Siborong-borong,Tapanuli Utara, 13 Februari 1944, ini pernah menjabat Wakil Pemimpin Umum Majalah Forum Keadilan, 1990-1999 dan sampai saat ini sebagai pemegang saham majalah tersebut.


Ia pernah bekerja sebagai Wartawan Harian Umum Warta Harian, Jakarta, 1969-1970; Redaktur Harian Umum Sinar Harapan, Jakarta, 1970-1987; Wakil Pemimpin Umum Harian Umum Prioritas, Jakarta, 1987-1988 dan Kepala Litbang Media Indonesia, Jakarta, 1988-1989.



Ia juga aktif dalam beberapa organisasi, Anggota GMKI, Medan, 1963; Ketua Departemen Organisasi Gerakan Mahasiswa Bung Karno, Jakarta, 1963-1966; Anggota PWI, Jakarta, 1970-1975; Anggota PDI, Jakarta, 1993-1998 dan
Anggota PDIP, Jakarta, 1998-sekarang

*** Ensiklopedi Tokoh Indoneia, sumber Komisi II DPR

Posted at 09:35 pm by karina
Make a comment

DR. Ir. Nurdin Tampubolon

Pria paruh baya DR. Ir. Nurdin Tampubolon kelahiran desa Siabal-abal, Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, tanggal 29 Desember 1954 sepertinya tidak pernah mau berpuas diri. Berbagai hasil gemilang sudah diraih namun harus dilepaskan untuk mencari sesuatu yang lebih baik. Setelah sukses berbisnis dengan berbagai karya nyata, kini, dia mulai merambah ke dunia politik dan dipercaya sebagai anggota MPR RI mewakili Sumatera Utara.

Pengusaha sukses pendiri, pemilik, sekaligus chairman & chief executive officer berbagai perusahaan yang tergabung dalam Group Sonvaldy ini mulai menampakkan kegesitan meraih sukses semenjak mengundurkan diri dari ikatan dinas di PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), di Kuala Tanjung, Asahan, Sumatera Utara di awal tahun 1980-an lalu.

Dia dengan berat hati meninggalkan Inalum, perusahaan patungan Pemerintah RI-Jepang yang pernah memberinya kesempatan beasiswa Association Overseas Technical Scholarships (AOTS) Jepang, untuk memperdalam ilmu bidang Electro Mechanical Engineering & Metallurgi selama 15 bulan, ditambah masa bekerja setahun di Sumitomo, Jepang. Dia mengundurkan diri hanya untuk membuktikan bahwa dia mempunyai kemampuan dan kapasitas lebih serta sanggup bersaing di pasaran. Dia lalu pergi mengadu peruntungan di luar Sumatera Utara.

Tujuannya kali itu adalah pulau Jawa, tepatnya Jakarta. Kota Jakarta atau Bandung, yang mempunyai perguruan tinggi ternama Universitas Indonesia (UI) Jakarta dan Institut Teknologi Bandung (ITB), sesungguhnya adalah dua kota rantau idaman Nurdin yang pernah tertunda sebelumnya. Ketika tamat SMA ayahnya tidak mengijinkan dia mengambil kuliah kesarjanaan di perguruan tinggi kecuali setingkat akademi, yaitu Akedemi Tekstil itupun harus di kota Medan. Alasan ayahnya, Umar Tampubolon yang hidup dari bertani dan mengelola sebuah pabrik padi di Siabal-abal, kakak dan abang Nurdin masih mahasiswa sehingga membutuhkan biaya besar. Nurdin, anak ketiga dari sepuluh bersaudara, yang di kemudian hari mereka semua menamatkan pendidikan hingga tingkat sarjana, merasa “dipaksa” masuk akademi agar cepat selesai dan langsung bekerja.

Dalam batinnya lalu timbul rasa “pemberontakan”. Sebab, dalam keyakinan hati dia merasa mempunyai kesanggupan bersaing memasuki UI Jakarta atau ITB Bandung sekalipun. Maklum, sepanjang Sekolah Dasar dan Sekolah Menegah Pertama (SMP) dia selalu juara-juara umum tingkat sekolah. Bahkan, semenjak SMP rasa minatnya akan soal-soal keteknikan dan teknologi sudah mulai bersemai. Di SMA prestasinya menurun hanya masuk lima besar, itupun di tingkat kelas. Pasalnya, dimasa pertumbuhan dan pembentukan karakter ini dia banyak menghabiskan waktu untuk menjalani hobi main sepakbola dan berorganisasi.

Diam-diam tanpa sepengetahuan keluarga apalagi ayahnya, dia mendaftarkan diri ke Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (FT-USU), Medan, dan diterima. Menginjak kuliah tahun ketiga praktis dia sudah sanggup membiayai hidup dan perkuliahan sendiri dari hasil memberikan les dan bimbingan tes di berbagai tempat. Bahkan, di FT-USU dia diangkat sebagai Ketua Bimbingan Tes FT-USU.

Menjelang akhir studi yang sudah empat setengah tahun dijalani, dan masih menyisakan satu tugas akhir, dia memperoleh kesempatan beasiswa dari AOTS Jepang dan bekerja di Sumitomo. Berdasar ikatan dinas dia lalu harus bekerja di Inalum, sepulang dari Jepang di tahun 1981. Kesempatan bekerja di kawasan Sumatera Utara itu lalu dimanfaatkannya untuk sambil menyeselaikan kuliah untuk memperoleh gelar sarjana teknik atau insinyur, dari FT-USU Jurusan Teknik Mesin.

Di Inalum dia sangat disenangi teman-teman sekerja. Dia adalah salah seorang karyawan pertama di bagian produksi yang bekerja di industri peleburan aluminium terbesar di Asia Tenggara, yang baru beroperasi di Kuala Tanjung awal tahun 1980-an itu. “Produksi aluminium pertama Inalum, saya yang kerjakan,” katanya bangga. Dia, selain memperoleh gaji yang relatif cukup besar ketika itu untuk seorang lajang, Rp 500.000 perbulan, masih ditambah fasilitas rumah dan mobil berikut supir. Tetapi dia harus meninggalkan semua kemewahan itu sebab merasa belum menemukan sebuah cita-cita ideal yang sesungguhnya bisa dicapainya berdasarkan kemampuan dan skill yang dimiliki.

Nurdin mengajukan surat pengunduran diri. “Bos, dan anak buah saya di Inalum waktu saya keluar menangis semua,” kenangnya. “Karena, saya juga kadang-kadang terlalu berani mengambil keputusan.” Konsekuensi mundur adalah, dia harus mengganti semua biaya beasiswa yang pernah diterimanya selama di Jepang. Namun, tabungan yang terkuras itu telah berganti dengan selembar surat pengalaman kerja dari PT Inalum yang merekomendasikan dia sebagai karyawan yang “memuaskan”.

Keputusan berani itulah yang membulatkan tekadnya untuk mencoba menaklukkan rimba Jakarta. Dan sikap itu pula yang mewarnai kehidupannyan di kemudian hari. Hari-hari awal di Jakarta diisinya dengan membaca koran, memicingkan mata terhadap setiap bunyi iklan lowongan kerja, lalu mengirim surat lamaran ke berbagai instansi. Sebuah perusahaan kontraktor, konsultan, dan engineering swasta yang merupakan rekanan Pertamina memanggilnya untuk tes, lalu diterima. Di kemudian hari diketahuinya bahwa perusahaan itu, PT Astenica, adalah milik Grup Salim sebuah konglomerasi usaha yang sudah sangat mapan.

Dua tahun disana dirasakannya cukup enjoy bekerja. Akan tetapi, lagi-lagi itu harus ditinggalkan untuk “sekadar” memuaskan permintaan orangtua yang sejak lama menginginkan dia harus menjadi pegawai negeri. Kembali, bukti bahwa dia mempunyai track records yang bagus, kata dia, “Bos saya di Salim juga merasa kehilangan.”

Dia lalu mengajukan lamaran ke berbagai institusi pemerintah dan mengikuti tes, seperti Departemen Pekerjaan Umum (PU), Departemen Pertambangan dan Energi (Deptamben), Perusahaan Listrik Negara (PLN), dan Bank Bumi Daya (BBD). Uniknya, semuanya bersedia menerima dia sebagai pegawai. Karena harus memutuskan salah satu maka dia pilah-pilah. Di PU akhirnya dia tolak padahal sudah harus berangkat ke Sorong, Irian Jaya sebab tiket dan segala macam fasilitas sudah disediakan. Di kepalanya masih terngiang kuat sebuah keinginan untuk menaklukkan rimba Jakarta dengan kemampuan yang dimiliki.

Dengan alasan sama, tidak bersedia tugas ke luar kota, panggilan dari PLN pun ditolaknya. Pilihan akhirnya jatuh ke Deptamben dengan pertimbangan, di Jakarta dia akan bisa bekerja sampingan untuk memanfaatkan potensi maksimal yang dimiliki. Bank Bumi Daya sebelumnya juga telah ditolak sebab jadwal kerja perbankan tidak memungkinkan dia untuk melakukan pekerjaan sampingan.

Di Deptamben dia dimasukkan di Bagian Perencanaan Program, Direktorat Jenderal Listrik dan Pengembangan Energi (LPE). Dia mulai mengikuti prajabatan tahun 1984. Hanya dalam tempo satu tahun dia langsung dipromosikan menjadi pejabat Kepala Seksi Evaluasi Pembangunan dan Perencanaan Kelistrikan Nasional, Ditjen LPE, golongan III-C dan pangkat Eselon-IV. Sehingga, untuk memenuhi persyaratan adminitratif kepegawaian sebagai seorang pejabat kepala seksi, setiap dua tahun sekali golongan dan kepangkatan Nurdin dinaikkan oleh atasannya.

Beberapa kesempatan training ke luar negeri dijalani. Seperti selama lima bulan ke Italia mengikuti pelatihan UNDP (United Nation Development Program), romantisme perjalanan hidup di situ ditorehkannya dengan memberi anak keduanya nama Valentino. Lengkapnya Dimpos Diarto Valentino Tampubolon sebab lahir ketika Nurdin sedang berada di Italia.

Sambil bekerja sebagai pegawai Deptamben dia berhasil memanfaatkan waktu luang, sebagaimana awal keputusan memilih bekerja di Jakarta, misalnya dengan mengajar, atau menjadi dosen di Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Jakarta maupun UPN Veteran, termasuk sebagai part timer di sebuah perusahaan swasta milik Yudo Sugama, anak Kabakin ketika itu Yoga Sugama. Dengan segala kesibukan dan prestasi yang diraih, batinnya kembali mulai berbisik, “Saya merasa, kayaknya saya bisa bersaing di luar.”

Kemudian semua menjadi berbalik ketika di tahun 1988 dia memutuskan mengundurkan diri dari Deptamben. Peristiwa ini dirasakannya sangat berat sebab banyak tantangan. Dari keluarga, sahabat, dan sesama kolega termasuk atasan di Deptamben yang masih menawarkan fasilitas dan program menggiurkan agar dia betah bekerja dan tidak jadi keluar. Bukan hanya mentertawakan, ada pula yang menganggap dia ‘sudah lari uratnya’. Sebab betapa tidak, ‘orang berani menyogok besar-besar asal masuk menjadi pegawai negeri. Ini, malah ditinggalkan’, opini yang demikian mulai terbentuk. Ayahnya pun, harus terbang dari Medan hanya untuk mengadakan rapat keluarga khusus membahas dan mempertanyakan keputusan terbaru Nurdin.

Istrinya sendiri, Berliana br. Tobing termasuk yang tidak setuju. Dalam dialog keduanya, istrinya mengatakan, “Ini, apalagi yang mau dicari. Sudah kepala seksi, golongan III-C, masih muda, kok, ditinggalkan. Orang berlomba menjadi pegawai negeri, bahkan menyogok pun mau, kenapa Anda tinggalkan,” gugat istri yang ketika itu telah memberinya tiga orang anak. “That’s way my way, saya harus coba dulu di luar. Saya melihat di pegawai negeri begitu-begitu saja. Jadi, saya coba dulu berusaha” elaknya singkat. “Tapi, kerjaan ‘kan belum ada,”. “Yah, kita berusahalah bagaimana caranya.” Dialog malam itu putus dengan kesepakatan bahwa keduanya tidak sepakat.

Dia meyakinkan diri sendiri bahwa dia mampu membangun usaha. Dia lalu mulai membangun bisnis. Pilihannya jatuh ke bisnis berbasis teknologi canggih atau hi-tech (high technology). Pengalaman bekerja di Inalum menangani aluminium membuat ilmunya merasa pas di situ, terutama saat bekerjasama sebagai mitra dengan PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), kini PT Dirgantara Indonesia (DI). Sebab, industri pesawat terbang ini banyak menggunakan material aluminium.

“Jadi, saya pilih di sana, kebetulan cocok,” cetusnya. Bendera usaha yang dibangunnya di tahun 1988 itu adalah PT Sonvaldy Utama Permata. Sonvaldy, singkatan tiga nama anak pertamanya. Son dari anak pertama Sondang, Val dari anak kedua Valentino yang lengkapnya Dimpos Diarto Valentino, dan Dy dari nama anak ketiga Randy. Sementara kata Utama Permata adalah terjemahan konsep orang Batak tentang anak, dimana anak adalah segala-galanya atau anakhonki do hamoraon di ahu.

Di awal pendirian Sonvaldy lebih konsentrasi pada supplies dan maintenance untuk material dan peralatan berteknologi canggih, hasill kerjasama dengan berbagai prinsipal asing dari luar negeri. Sonvaldy antara lain dipercaya memasok peralatan dan komponen pesawat terbang ke IPTN, demikian pula ke berbagai industri strategis lain serta Hankam, Pertamina, PLN, dan beberapa maskapai penerbangan.

Sonvaldy Utama Permata kini berubah menjadi holding company setelah berhasil melahirkan berbagai anak perusahaan baru. Seperti, PT Aersupindo Abadi, PT Tomtam Hitekindo, Rintan PTE/LTD yang berbasis di Singapura, PT Sonvaldy Agrotama, PT Bangkit Giat Usaha Mandiri, dan PT Bintang Sakti Lenggana. Cakupan usaha beraneka ragam, dari hi-tech, perdagangan, hingga perkebunan kelapa sawit dan perkayuan. “Sampai sekarang perkebunan kita sudah luas,” kata dia ringkas. “Dan, karena saya melihat, dari segi perusahaan juga sudah mulai berkembang, maka, saya inginnya sekarang bagaimana mensejahterakan masyarakat banyak. Itulah target utama saya sekarang, kalau masih diperlukan.”

Mensejahterakan masyarakat. Itu sudah dimulainya dari perusahaan yang kini telah menghidupi ribuan orang karyawan belum termasuk anggota keluarganya. Lalu, konsep mensejahterakan rakyat itu dirumuskannya menjadi visi perusahaan. Visi Sonvaldy, kata dia, harus menjadi perusahaan yang bisa dibanggakan oleh bangsa. Dan, bersamaan itu Sonvaldy juga harus bisa memperoleh pengakuan internasional. Dalam artian, produk-produk ekspor Sonvaldy dipakai oleh konsumen di luar negeri.

Sonvaldy patut dibanggakan sebab dalam desainnya perusahaan ini harus bisa menyumbang devisa, menampung tenaga kerja, membayar pajak ke pemerintah, dan mampu mengekspor produk-produk yang dihasilkan.

Sonvaldy mengemban misi harus bisa memberikan keuntungan kepada pemegang saham. Karena itu setiap karyawan harus merasa bangga bekerja di Sonvaldy. “Karyawan yang bekerja dengan kita harus bangga dengan perusahaan yang kita bangun, mereka ikut berpartisipasi meningkatkan penghasilan masyarakat sekiar dimana kita bekerja,” jelasnya, untuk mempersamakan persepsi tentang pendirian usahanya.

Ikhtiar Nurdin mensejahterakan masyarakat tidak berhenti di situ. Bermodalkan track records sebagai pengusaha sukses yang telah menghasilkan karya nyata dalam proses pembangunan bangsa, dia mulai memasuki area publik yang lebih luas yaitu pentas politik nasional. Misalnya, kini dia adalah anggota MPR RI mewakili propinsi Sumatera Utara.

Sebelumnya, di awal tahun 2003 lalu atas saran dan permintaan teman-temannya sesama alumni FT-USU, dia pernah mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumatera Utara periode 2003-2008. Nurdin adalah Ketua Ikatan Alumni FT-USU se Jabotabek. Meski hasil pelaksanaan fit and propher test menunjukkan dia adalah kandidat kuat menjadi calon gubernur dan wakil gubernur, namun karena arogansi kekuasaan partai politik hasil akhir berbicara lain. Nama dia tidak masuk dalam daftar calon gubernur dan wakil gubernur yang diajukan oleh fraksi-fraksi di DPRD Sumatera Utara untuk dipilih.

Walau demikian dia tetap berikhtiar mensejahterakan masyarakat banyak, terutama Sumatera Utara. Ajang yang akan mengemuka di depannya adalah Pemilihan Umum (Pemilu) 2004. Sebagai pengusaha sukses yang non partisan dia melirik berjuang pada pemilihan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), yang mulai diperkenalkan pada Pemilu 2004 ini. Dia muncul dengan jargon menarik: Pembangunan dari Rakyat, oleh Rakyat, dan untuk Rakyat.

Dia ingin, agar pembangunan kokoh maka harus berbasis sumberdaya lokal. Artinya, memanfaatkan segala sesuatu yang memang dimiliki oleh masyarakat Sumatera Utara. Seperti, basis pertanian dan pariwisata. Yang melaksanakan pembangunan harus pula orang lokal, yaitu masyarakat yang ada di Sumatera Utara.

“Dengan demikian, tujuan pembangunan yaitu menjadikan masyarakat Sumatera Utara aman sejahtera dan tuan rumah di negerinya sendiri, menjadi bisa tercapai,” ujar penerima gelar doktor kehormatan atau honoris causa dari sebuah perguruan tinggi di Singapura, di tahun 1998 ini. Sebelumnya, pengagum Presiden Amerika Serikat George Walker Bush dan Presiden RRC, di bulan Desember 1997 telah memperoleh penghargaan sebagai ASEAN Development Citra Awards dari ASEAN Programme Consultant Indonesia Consortium.

haposan tampubolon


TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Posted at 09:33 pm by karina
Comments (3)

Next Page



:: Web Shoutbox
:: Isi komentar disini

:: Favorite
:: Batak Web
:: Batak Pelangi
:: Detik
:: Kompas
:: Google

:: Recomeded
:: Batak
:: Karo
:: Simalungun
:: Batak Spot
:: Siantar
:: Horas


:: Login


<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


blogdrive