Jul 21, 2004
RUMAH ADAT BATAK DAN PERBEDAANNYA

Anjungan Sumatera Utara berada di sebelah Utara arsipel Indonesia dengan batas sebelah Barat anjungan propinsi Sumatera Barat, sebelah Timur propinsi Daerah Istimewa Aceh dan sebelah Utara jalan raya. Anjungan Sumatera Utara diresmikan pada tahun 1975, dengan arsitek bangunan dari Dinas Pekerjaan Umum Tingkat I Sumatera Utara.

Rumah adat Simalungun
pada dasarnya hampir sama dengan rumah adat Batak Toba, karena daerahnya terletak antara pemukiman suku Batak Karo dan suku Batak Toba. Dalam bidang arsitektur Simalungun mempunyai ciri khas pada bangunan, yaitu konstruksi bagian bawah atau kaki bangunan selalu berupa susunan kayu yang masih bulat-bulat atau gelondongan, dengan cara silang menyilang dari sudut ke sudut. Ciri khas lainnya adalah bentuk atap di mana pada anjungan diberi limasan berbentuk kepala kerbau lengkap dengan tanduknya.

Di samping itu pada bagian-bagian rumah lainnya diberi hiasan berupa lukisan-lukisan yang berwarna-warni yaitu merah, putih dan hitam. Ragam hias rumah bolon Simalungun antara lain hiasan Sulempat pada tepian dinding bagian bawah, hiasan saling berkaitan. Kemudian hiasan hambing marsibak yaitu kambing berkelahi. Hiasan Sulempat dan Hambing Marsibak menggambarkan kehidupan yang kait-berkait sehingga melahirkan kekuatan dan kesatuan yang tidak tergoyahkan. Hiasan pada bagian tutup keyong dengan motif segitiga, motif cicak, ipan-ipan serta motif ikal yang menyerupai tumbuhan menjalar. Biasanya pada bagian ini diberi hiasan kepala manusia yang disebut bohi-bohi, sebagai pengusir hantu. Seperti halnya hiasan ipan-ipan yang menggambarkan segi-segi runcing mempunyai maksud untuk menghambat hantu-hantu yang akan masuk rumah.


Rumah adat kedua Siwaluh Jabu, rumah adat Batak Karo.
Rumah ini juga bertiang tinggi dan satu rumah biasanya dihuni atas satu keluarga besar yang terdiri dari 4 sampai 8 keluarga Batak. Di dalam rumah tak ada sekatan satu ruangan lepas. Namun pembagian ruangan tetap ada, yakni di batasi oleh garis-garis adat istiadat yang kuat, meski garis itu tak terlihat. Masing-masing ruangan mempunyai nama dan siapa yang harus menempati ruangan tersebut, telah ditentukan pula oleh adat. Urutan ruangan dalam rumah Siwaluh jabu adalah sebagai berikut :

Jabu bena kayu yaitu ruangan di depan sebelah kiri, didiami oleh pihak marga tanah dan pendiri kampung. Ia merupakan pengulu atau pemimpin rumah tersebut.

Jabu sedapur bena kayu yaitu ruangan berikutnya yang satu dengan jabu bena kayu, juga dinamai Sinenggel-ninggel. Ruang ini didiami oleh pihak Senina yakni saudara-saudaranya yang bertindak sebagai wakil pemimpin rumah tersebut. Sedapat artinya satu dapur, karena setiap dua ruangan maka di depannya terdapat dapur yang dipakai untuk dua keluarga.

Jabu ujung kayu, dinamai Jabu Sungkun Berita, didiami oleh anak Beru Toa, yang bertugas memecahkan setiap masalah yang timbul.

Jabu sedapur ujung kayu yaitu ruangan sedapur dengan jabu ujung kayu, dinamai Jabu Silengguri. Jabu ini didiami oleh anak beru dari jabu Sungkun Berita.

Jabu lepan bena kayu, yakni ruangan yang terletak berseberangan dengan jabu bena kayu, dinamai jabu simengaloken didiami oleh Biak Senina.

Jabu sedapur lepan bena kayu yaitu ruangan yang sedapur dengan jabu lepan bena kayu, didiami oleh Senina Sepemeren atau Separiban.

Jabu lepan ujung kayu, didiami oleh Kalimbuh yaitu pihak pemberi gadis, ruangan ini disebut Jabu Silayari.

Jabu sedapur lepan ujung kayu yaitu ruangan yang sedapur dengan jabu lepan ujung kayu. Ruangan ini didiami oleh Jabu Simalungun minum, didiami oleh Puang Kalimbuh yaitu Kalimbuh dari jabu silayari. Kedudukan Kalimbuh ini cukup dihormati di dalam adat.
Umumnya di setiap rumah adat ini terdapat empat buah dapur yang masing-masing digunakan oleh dua keluarga, yaitu oleh jabu-jabu yang bersebelahan. Tiap dapur terdiri dari lima buah batu yang diletakkan sebagai tungku berbentuk dua segi tiga bertolak belakang. Segi tiga tersebut melambangkan rukuh sitelu atau singkep sitelu yaitu tali pengikat antara tiga kelompok keluarga. Kalimbuhu, senina dan anak beru atau Sebayak.

Dinding rumah dibuat miring, berpintu dan jendela yang terletak di atas balok keliling. Atap rumah berbentuk segitiga dan bertingkat tiga, juga melambangkan rukut-sitelu. Pada setiap puncak dan segitiga-segitiga terdapat kepala kerbau yang melambangkan kesejahteraan bagi keluarga yang mendiaminya. Pinggiran atap sekeliling rumah di semua arah sama, menggambarkan bahwa penghuni rumah mempunyai perasaan senasib sepenanggungan.

Bagian atap yang berbentuk segitiga terbuat dari anyaman bambu disebut lambe-lambe. Biasanya pada lambe-lambe dilukiskan lambang pembuat dari sifat pemilik rumah tersebut, dengan warna tradisional merah, putih dan hitam. Hiasan lainnya adalah pada kusen pintu masuk. Biasanya dihiasi dengan ukiran telur dan panah.

Tali-tali penginkat dinding yang miring disebut tali ret-ret, terbuat dari ijuk atau rotan. Tali pengikat ini membentuk pola seperti cicak yang mempunyai dua kepala saling bertolak belakang, maksudnya ialah cicak dikiaskan sebagai penjaga rumah, dan dua kepala saling bertolak belakang melambangkan semua penghuni rumah mempunyai peranan yang sama dan saling menghormati.

Rumah adat Siwaluh jabu yang selalu bertangga dengan jumlah anak tangga ganjil, dihuni oleh keluarga di mana anak-anak tidur dengan orang tuanya sampai berumur 14 tahun. Bagi anak laki-laki dewasa atau bujangan tidur di tempat lain yang disebut Jambur, begitu pula tamu laki-laki. Jambur sebenarnya lumbung padi yang dipergunakan untuk tidur, bermusyawarah dan istirahat para perempuan dan laki-laki.

Rumah adat di Nias
dibuat dengan ukuran lebih kecil dari rumah-rumah adat aslinya, adalah mewakili rumah adat dari Nias Selatan. Rumah yang berbentuk empat persegi panjang dan berdiri di atas tiang ini menyerupai bentuk perahu. Begitu pula pola perkampungan, hiasan-hiasan bahkan peti matinya pun berbentuk perahu. Dengan bentuk rumah seperti perahu ini diharapkan bila terjadi banjir maka rumah dapat berfungsi sebagai perahu. Untuk memasuki rumah adat ini terlebih dahulu menaiki tangga dengan anak tangga yang selalu ganjil 5 - 7 buah, kemudian memasuki pintu rumah yang ada dua macam yaitu seperti pintu rumah biasa dan pintu horizontal yang terletak di pintu rumah dengan daun pintu membuka ke atas. Pintu masuk seperti ini mempunyai maksud untuk menghormati pemilik rumah juga agar musuh sukar menyerang ke dalam rumah bila terjadi peperangan.

Ruangan pertama adalah Tawalo yaitu berfungsi sebagai ruang tamu, tempat bermusyawarah, dan tempat tidur para jejaka. Seperti diketahui pada masyarakat Nias Selatan mengenal adanya perbedaan derajat atau kasta dikalangan penduduknya, yaitu golongan bangsawan atau si Ulu, golongan pemuka agama atau Ene, golongan rakyat biasa atau ono embanua dan golongan Sawaryo yaitu budak.

Di bagian ruang Tawalo sebelah depan dilihat jendela terdapat lantai bertingkat 5 yaitu lantai untuk tempat duduk rakyat biasa, lantai ke 2 bule tempat duduk tamu, lantai ketiga dane-dane tempat duduk tamu agung, lantai keempat Salohate yaitu tempat sandaran tangan bagi tamu agung dan lantai ke 5 harefa yakni untuk menyimpan barang-barang tamu. Di belakang ruang Tawalo adalah ruang Forema yaitu ruang untuk keluarga dan tempat untuk menerima tamu wanita serta ruang makan tamu agung. Di ruang ini juga terdapat dapur dan disampingnya adalah ruang tidur.

Rumah adat Nias biasanya diberi hiasan berupa ukiran-ukiran kayu yang sangat halus dan diukirkan pada balok-balok utuh. Seperti dalam ruangan Tawalo yang luas itu interinya dihiasi ukiran kera lambang kejantanan, ukiran perahu-perahu perang melambangkan kekasaran. Dahulu, di ruangan ini juga digantungkan tulang-tulang rahang babi yang berasal dari babi-babi yang dipotong pada waktu pesta adat dalam pembuatan rumah tersebut.

Menurut cerita, di ruangan ini dahulu digantungkan tengkorak kepala manusia yang dipancumg untuk tumbal pendirian rumah. Tapi setelah Belanda datang, kebiasaan tersebut disingkirkan. Untuk melengkapi ciri khas adat istiadat Nias adalah adanya batu loncat yang disebut zawo-zawo. Bangunan batu ini dibuat sedemikian rupa untuk upacara lompat batu bagi laki-laki yang telah dewasa dalam mencoba ketangkasannya.

Rumah adat keempat adalah rumah adat Batak Toba
yang disebut Rumah Bolon, berbentuk empat persegi panjang dan kadang-kadang dihuni oleh 5 sampai 6 keluarga batih. Untuk memasuki rumah harus menaiki tangga yang terletak di tengah-tengah rumah, dengan jumlah anak tangga yang ganjil. Bila orang hendak masuk rumah Batak Toba harus menundukkan kepala agar tidak terbentur pada balok yang melintang, hal ini diartikan tamu harus menghormati si pemilik rumah. Lantai rumah kadang-kadang sampai 1,75 meter di atas tanah, dan bagian bawah dipergunakan untuk kandang babi, ayam, dan sebagainya. Dahulu pintu masuk mempunyai 2 macam daun pintu, yaitu daun pintu yang horizontal dan vertikal, tapi sekarang daun pintu yang horizontal tak dipakai lagi.

Ruangan dalam rumah adat merupakan ruangan terbuka tanpa kamar-kamar, walaupun berdiam disitu lebih dari satu keluarga, tapi bukan berarti tidak ada pembagian ruangan, karena dalam rumah adat ini pembagian ruangan dibatasi oleh adat mereka yang kuat. Ruangan di belakang sudut sebelah kanan disebut jabu bong, yang ditempati oleh kepala rumah atau por jabu bong, dengan isteri dan anak-anak yang masih kecil. Ruangan ini dahulu dianggap paling keramat. Di sudut kiri berhadapan dengan Jabu bong disebut Jabu Soding diperuntukkan bagi anak perempuan yang telah menikah tapi belum mempunyai rumah sendiri. Di sudut kiri depan disebut Jabu Suhat, untuk anak laki-laki tertua yang sudah kawin dan di seberangnya disebut Tampar Piring diperuntukkan bagi tamu.

Bila keluarga besar maka diadakan tempat di antara 2 ruang atau jabu yang berdempetan, sehingga ruangan bertambah 2 lagi dan ruangan ini disebut Jabu Tonga-ronga ni jabu rona. Tiap keluarga mempunyai dapur sendiri yang terletak di belakang rumah, berupa bangunan tambahan. Di antara 2 deretan ruangan yakni di tengah-tengah rumah merupakan daerah netral yang disebut telaga dan berfungsi sebagai tempat bermusyawarah. Bangunan lain yang mirip dengan rumah adalah sapo yakni seperti rumah yang berasal dari lumbung tempat menyimpan, kemudian didiami. Perbedaannya dengan rumah adalah : Dopo berlantai dua, hanya mempunyai satu baris tiang-tiang depan dan ruangan bawah terbuka tanpa dinding berfungsi untuk musyawarah, menerima orang asing dan tempat bermain musik. Pada bagian depan rumah adat terdapat hiasan-hiasan dengan motif garis geografis dan spiral serta hiasan berupa susu wanita yang disebut adep-adep. Hiasan ini melambangkan sumber kesuburan kehidupan dan lambang kesatuan.

Rumah yang paling banyak hiasan-hiasannya disebut Gorga. Hiasan lainnya bermotif pakis disebut nipahu, dan rotan berduri disebut mardusi yang terletak di dinding atas pintu masuk.

Pada sudut-sudut rumah terdapat hiasan Gajah dompak, bermotif muka binatang, mempunyai maksud sebagai penolak bala. Begitu pula hiasan bermotif binatang cicak, kepala singa yang dimaksudkan untuk menolak bahaya seperti guna-guna dari luar. Hiasan ini ada yang berupa ukiran kemudian diberi warna, ada pula yang berupa gambaran saja. Warna yang digunakan selalu hitam, putih dan merah.

Semua rumah adat tersebut di atas bahannya dari kayu baik untuk tiang, lantai serta kerangka rumah berikut pintu dan jendela, sedangkan atap rumah terbuat dari seng. Di anjungan Sumatera Utara, rumah-rumah adat yang ditampilkan mengalami sedikit perbedaan dengan rumah adat yang asli di daerahnya. Hal ini disesuaikan dengan kegunaan dari kepraktisan belaka, misalnya tiang-tiang rumah yang seharusnya dari kayu, banyak diganti dengan tiang beton. kemudian fungsi ruangan di samping untuk keperluan ruang kantor yang penting adalah untuk ruang pameran benda-benda kebudayaan serta peragaan adat istiadat dari delapan puak suku di Sumatera Utara. Benda-benda tersebut meliputi alat-alat musik tradisional, alat-alat dapur, alat-alat perang, alat-alat pertanian, alat-alat yang berhubungan dengan mistik, beberapa contoh dapur yang semuanya bersifat tradisional. Sedangkan peragaan adat istiadat dan sejarah dilukiskan dalam bentuk diorama, beberapa pakaian pengantin dan pakaian adat dan sebagainya.


Posted at 10:09 pm by karina
Make a comment

HORAS

Horas adalah kata salam orang Batak yang berasal dari daerah Sumatra Utara. Khususnya “Tapanuli” yang senantiasa diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain kata Horas salam khas yang lain, yaitu Menjuah-juah dari daerah Karo, Yahobu dari daerah Nias. Namun kata Horas lebih umum digunakan dan lebih populer. Sulit menemukan kata yang tepat dalam Bahasa Indonesia, karena kata Horas mempunyai makna yang sangat luas, diantaranya berarti: apa khabar, wa’lafiat, selamat perkenalan, selamat pagi/siang/malam, selamat datang/jalan tinggal dan lain-lain.

Kata Horas dalam tradisi Batak yang memiliki keunikan tersendiri, tercipta dari falsafah hidup suku Batak, yakni “Dalihan Na Tolu” (DNT). Secara harfiah DNT berarti “Tungku Nan Tiga” atau tungku yang ditopang oleh tiga kaki. Falsafah ini menunjukkan keterikatan hubungan internal dari ketiga posisi kekerabatan orang Batak dalam bermasyarakat yang mendoakan setiap orang agar senantiasa “Horas-Horas”: Somba marhula-hula, elek mar Boru, Manat mar Dongan Tubu. Berdasarkan DNT, kekerabatan orang Batak dibagi dalam tiga bagian yaitu Hula-Hula(kerabat marga pihak isteri), Dongan Tubu (marga kita, dari garis ayah, kakek dan anak laki), Boru (kerabat perempuan dari ayah, saudara perempuan kita beserta marga suaminya).

Somba mar-hula hula artinya senantiasa tunduk dan hormat kepada hula-hula agar horas-horas sedangkan Elek mar-Boru senantiasa mengasihi agar mendapat berkat yang melimpah dari Tuhan. Manat mar-Dongan Tubu artinya agar berhati-hati menjaga ikatan persaudaraan supaya terhindar dari malapetaka atau kutukan dari saudara semarga.

Setiap orang Batak adalah Raja. Raja disini tidak ada kaitannya dengan kerajaan, hanya secara umum dipakai dalam acara adat dan kehidupan sehari-hari orang Batak. Dalam ikatan DNT yang lazim digambarkan dengan bentuk segitiga sama sisi, masing-masing disebut juga: Rajani Hula-Hula, Raja ni Boru, dan Raja ni Dongan Tubu. Laki-laki Batak didalam bermasyarakat pasti pernah menduduki ketiga posisi DNT ini, menjadi hula-hula, boru, atau dongan tubu tergantung pada situasi dan kondisinya saat itu.

Adat Batak tidak memandang pangkat, harta, atau status seseorang karena berpegang kepada Dalihan Na Tolu. Bisa saja terjadi seorang Jenderal dalam acara adat harus menyingsingkan lengan bajunya dan wajib bekerja melayani seluruh keluarga dari pihak isteri yang kebetulan berpangkat Sersan. Situasi seperti ini mungkin saja membuat pak Sersan merasa rikuh, namun itulah realita dalam kehidupan kekerabatan Batak. Dari fenomena ini dapat ditarik kesimpulan bahwa orang Batak umumnya tidak neko-neko, siap bekerja sama dan mau mengalah dan bersikap kesatria.

Adalah anggapan keliru yang mengatakan bahwa orang Batak wataknya kasar, susah sulit bergaul, dst. Pembawaan fisik yang kelihatan keras, galak, suara keras, dll, itu sebenarnya terbentuk karena alam Tapanuli yang juga mem pengaruhi pola hidup orang Batak. Tapanuli tanahnya tandus berbatu-batu, berada pada ketinggian yang sangat jauh diatas permukaan laut sehingga mengharuskan mereka bekerja keras untuk menghasilkan makanan. Tiupan angin yang sangat kencang serta jarak antara rumah-rumah yang berjauhan menuntut mereka untuk berteriak agar suaranya dapat didengar oleh lawan bicaranya. Watak yang terlihat itu hanyalah penampilan diluar saja, sebenarnya hati nurani mereka baik dan lembut.

Satu hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan orang Tapanuli adalah Silsilah (tarombo), yang diwariskan oleh setiap ayah terutama kepada anak laki-lakinya. Konon, semua tarombo ditulis pada kulit kayu, kulit binatang atau kain putih yang akan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi melalui anak laki-laki. Dari tarombo ini nama leluhur pada generasi yang ke 20 pun dapat ditelusuri dengan mudah termasuk saudara-saudaranya turun temurun.

HORAS!!!
Paian Simbolon - Badak-Samarinda, East Kaltim, Indonesia

Posted at 09:59 pm by karina
Make a comment

Jul 13, 2004
ASAL RAS JADINA KALAK KARO

Seh ngayak gundari langnga ieteh payona ija nari asal rehna ras jadina kalak Karo, bagekape erti si lit ibas kata Karo e. Em dalinna maka lit piga-piga kalak Karo si enggo megajang pemetehna nggit ertutus ate ndarami, nungkuni bagepe nggar-gari, ija nari kin situhun asal kalak Karo e, kai ertina ras ndiganai mulai enggo lit.
Tapi anem bagepe langnga kabo teridah terombo si tangkas mereken kiniteken ras man gelemen man kalak Karo, terlebih lalit tersinget turi-turin terombo entahpe pustaka sini tadingken nininta siadi sibanci man ogen ras man pergemeten kalak Karo si erpemeteh.
Lit nge tuhu sitersinget ras singataken maka kalak Karo e rehna ibas gelar sada Kerajaan Simbelin si enggo pernah lit kira-kira ibas tahun 1593 eme siigelari Kerajaan Haru. Nupung sie Kerajaan Haru mbelang kuasana mulai i perbalengen Kerajaan Siak nari sehpe ku Sungai Wampu. Tapi erkiteken Kerajaan Haru enda talu erperang ras Kerajaan Acih, emaka rayatna enggo marpar lit ku Asahen, ku Simalungun, ku Singkel, ku Pak-pak, lit ka ku Acih (Alas-Gayo). Sitading ibas ingan kalak Karo sigundari eme Karo Gugung, Karo Timur (Simalungun), Karo Baluren (Dairi), Karo Acih, Karo Jahe (Deli ras Serdang), Karo Bingei (Bahorok - Langkat) eme sinigelari kalak Karo.
Bagem silit tersinget, tapi kerna sie perlu denga terdauhen isik-sik ras ipelajari alu pemeteh simeganjang, maka banci dat situhuna ras sipayona. Kerna sie perlu ras mbelin gunana maka ola dat turi-turin si la payo si banci erbahan sinursur kalak Karo pagi ikut papak ngelakokenca.

Penduduk asli yang mendiami wilayah Kabupaten Karo disebut Suku Bangsa Karo. Suku Bangsa Karo ini mempunyai adat istiadat yang sampai saat ini terpelihara dengan baik dan sangat mengikat bagi Suku Bangsa Karo sendiri.

Suku ini terdiri dari lima Merga, Tutur Siwaluh, dan Rakut Sitelu.
Merga silima yakni:
1. Karo-karo
2. Ginting
3. Sembiring
4. Tarigan
5. Perangin-angin

Dari kelima Merga diatas, masih terdapat sub-sub Merga.
Berdasarkan merga ini maka tersusunlah pola kekerabatan atau dikenal dengan Rakut Sitelu, Tutur Siwaluh dan Perkade-kade Sepuluh Dua Tambah Sada.

Rakut Sitelu yaitu:
1. Senina/Sembuyak
2. Kalimbubu
3. Anak Beru

Tutur Siwaluh yaitu:
1. Sipemeren
2. Siparibanen
3. Sipengalon
4. Anak Beru
5. Anak Beru Menteri
6. Anak Beru Singikuri
7. Kalimbubu
8. Puang Kalimbubu

Perkade-kaden Sepuluh Dua:
1. Nini
2. Bulang
3. Kempu
4. Bapa
5. Nande
6. Anak
7. Bengkila
8. Bibi
9. Permen
10. Mama
11. Mami
12. Bere-bere

Dalam perkembangannya, adat Suku Bangsa Karo terbuka, dalam arti bahwa Suku Bangsa Indonesia lainnya dapat diteria menjadi Suku Bangsa Karo dengan beberapa persyaratan adat. Masyarakat Karo terkenal dengan semangat keperkasaannya dalam pergerakan merebut Kemerdekaan Indonesia, misalnya pertempuran melawan Belanda, Jepang, politik bumi hangus. Semangat patriotisme ini dapat kita lihat sekarang dengan banyaknya makam para pahlawan di Taman Makam Pahlawan di Kota Kabanjahe yang didirikan pada tahun 1950.

Penduduk Kabupaten Karo adalah dinamis dan patriotis serta takwa kepada Tuhan Yang Esa. Masyarakat Karo kuat berpegang pada adat istiadat yang luhur, merupakan modal yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembamgunan. Dalam kehidupan masyarakat Karo, idaman dan
harapan (sura-sura pusuh peraten) yang ingin diwujudkan adalah pencapaian 3 (tiga) hal pokok yang disebut Tuah, Sangap, dan Mejuah-juah.

Tuah berarti menerima berkah dari Tuhan Yang Maha Esa, mendapat keturunan, banyak kawan dan sahabat, cerdas, gigih, disiplin, dan menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup untuk generasi yang akan datang,

Sangap berarti mendapat rejeki yang banyak, kemakmuran bagi pribadi, bagi anggota keluarga, bagi masyarakat serta bagi generasi yang akan datang.

Mejuah-juah berarti sehat sejahtera lahir batin, aman, damai, bersemangat serta keseimbangan dan keselarasan antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan lingkungan, dan antara manusia dengan Tuhan. Ketiga hal tersebut adalah merupakan satu kesatuan yang buat yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.


Posted at 11:52 pm by karina
Comments (1)

KERJA ADAT MANTEKI PERJABUN KALAK KARO

Mejuah-juah!
Ijenda lit luah ibas kami nari pengelola [link]/ kerna manteki perjabun ibas adat Karo. Artikel enda idat kami bas cerita orang tua-orang tuanta nari bage pe ibandingken kami ku piga-piga buku mengenai Adat Budaya Karo. Artikel silengkapna kari banci ibukandu bas webta enda kari.

Artikel enda perlu iakap kami radu ras sieteh gelah banci kita memperkaya pengetahuan tentang adat Karo si enggo ndube terlupaken akibat perkembangen modernisasi sigundari. Lit 3 erbage gelar kerja petumbukken/perdemuken rikutken peradadaten kalak Karo e me kap :
1. Kerja Erdemu Bayu
2. Kerja Ngeranaken
3. Kerja Petuturken.
Gelar kerja adat enda itentuken arah cibal pertuturen antara si erjabu erpalasken merga si lima. Ertina ngenen kubas merga si dilaki ras beru si diberu, seh kubas beberena duana, ntah kin tuturna rimpal, turang impal, sipemeren, rsd.

1. Erdemu Bayu
Kalak si erjabu ikataken Erdemu Bayu eme kap adi sekalak anak perana tumbuk ras singuda-nguda anak mamana kal, ntah pe singuda-nguda tersereh man anak bibina kal alu kata si deban ia tumbuk ras impalna kandung. Janah megati me si diberu enda igelari "beru singumban".
Utang adat si empo man anak beru si nereh ikataken "perkembaren" entah pe megati ikataken "ulih ermakan" janah labo banci mbelin ipindo anak beru perkembaren man si empo.

2. Ngeranaken
Kalak si erjabu ikataken Ngeranaken eme kap adi si empo ras si tersereh tumbuk labo ibas tutur rimpal, umpamana:
- Turang Sipemeren, emekap seri beberena duana, entahpe seri beru nande si empo ras beru nande si tersereh.
- Turang Impal, emekap merga si empo seri ras bebere si tersereh, entah pe seri merga bapa si empo ras beru nande si tersereh.
Alu bage ibas pedemukenca lit unsur pelanggaren adat. La arus ia tumbuk, sebab tuturna erturang. Emaka ibahan me utang si empo man anak beru sinereh siigelari "sabe". Janah megati ka pe ipindo anak beru sinereh "pengarusi", maka nggo iarusken pertumbukna. Belinna biasana sepersepuluh tukur.

3. Petuturken
Kalak si erjabu ikataken Petuturken lit dua erbage, emekap:
- Si empo ras si tersereh memang kin gel-gel labo sitandan, erkiteken kuta erkedauhen. Kenca ertutur maka ieteh payo tuhu ia ibas tutur rimpal.
- Si empo ras si tersereh rembang la lit jumpa merga ras beru bagepe beberen duana ibas merga silima, umpamana merga Sembiring bebere Ginting ras beru Karo bebere Tarigan.
Emaka ibahan me tutur rimpal gelah banci ipetumbuk. Ibas kecibal si enda utang si empo nandangi anak beru sinereh igelari "persadan", sebab ije nari maka enggo ersada si empo ndai ras anak beru sinereh.

Sibar enda me bas kami nari, bujur ras mejuah-juah.

Herland Sembiring


Posted at 11:48 pm by karina
Make a comment

BULANG-BULANG KARO

Ngikutken si enggo biasa ilakoken, adi lit sada kerja adat, sukut ibahan rose, maka sidilaki arus make bulang-bulang, sidiberu make tudung. Bage kape ibas kerja gendang guro-guro aron. Engkai maka bage? Eme erdandanken pengakap kalak Karo, maka mejile, mehaga, metunggung ras mehamat simada kerja.
Bulang-bulang si ipake sidilaki eme uis Karo, gelarna uis beka buluh. Uis beka buluh enda mula-mula ilipat dua, jenari ilipat sekali nari maka bentukna enggo telu suki. Lipaten sila kena tepina arah teruh ilipat ka maka enggo mekapal sitik. Enca bage ipakeken ku takal sidilaki alu ngelilet kenca arah pudi nari ku lebe, sada tampukna nimai sada ngelilet emaka tampuk si ililetken e isilepken arah teruh lipaten ibabo cuping. Tencukna arah babo takal siarah pudi, banci pe tencukna erlipat sitik. Bagem rupana adi idah ibas pemaken bulang-bulang sidilaki ngikutken sibiasana.
Tapi gundari enggo lit piga-piga lain. Bulang-bulang e, sierbahansa eme "persalon", itempahken man bana. Emaka persalon erbahan bulang-bulang e ngikutken pemetehna ras uga akapna maka murah erbanca. Sope denga bulang-bulang e jadi bagi tutup takal entahpe tengkuluk, ibentuk ije uis beka buluh. Enca dung, tading make kenca naring.
Bagepe min labo dalih adi mejile ras bentukna bagi bulang-bulang kalak Karo. Tapi rupana bagi tudung kalak Minang sidiberu, enggo ertanduk, dua tandukna, bagepe labo lit sekali pe kalak Karo sibeluh, erbahan Kata Suriang maka bulang sibage rupana labo pas bagi bulang kalak Karo. Situhuna si e perlu maka ola salih pagi dungna uis adat kalak Karo e ikut ras bulang-bulangna.
Maka kami tersinget bage, sebab inget ras igejapken kami paken adat kalak Karo e mejile, mehaga ras metunggung. Kerna sie banci kita erbanding-banding ku paken adat suku entah pe kalak sideban. Cubaken dage nen ku Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, ije ibas museumna lit serap ibanna paken piga-piga suku si lit ibas Indonesia. Paken ikut asesorina ipakeken ku bas patung gibs, cinder kerina ibas sada lemari galang. Teridah ije paken kalak Karo e la ketadingen, tuhu-tuhu mejile, mehaga ras metunggung.
Mulihi kita ningetken kerna bulang-bulang. Ise nge ndia mulana erbahan bulang-bulang e, jadina enggo ertanduk? Payona kal labo ieteh. Tapi pelu kuakap kami ersinget ijenda. Lit sekalak dilaki kalak Kalimantan tading ras ringan i Padang Bulang, Medan, gelarna la kueteh. Ia rusur itenahken ras isuruh kalak erbahan bulang-bulang kalak Karo adi lit kenca kerja. Entah ija nari guruna, bulang-bulang si ibahanna enggo ertanduk, dua ka tandukna. Bagepe ialoken kalak Karo si nuruh ia. Tahun 1995 iban Kongres Kebudayaan Karo i Hotel Sibayak Berastagi. Ia ikut iundang Panitia Kongres. Sekali ibas waktu la perlusakal, isuruh Panitia ia ncidahken uga erbahan bulang Karo. Paksa e contohna ibulangi Prof. DR. Masri Singarimbun. Enca dung ibulangina enggo idah bagi ertanduk. Tawa kerina jelma sienterem (peserta kongres) tapi lalit singataken bulang e lepak. Kukataken man kalak sierbahan bulang e, maka ningku bulang sibahanna la pas bagi bulang kalak Karo. Tapi ia tawa saja la tempa diatena. Emaka reh Sinik br Karo jumpaina aku,
"Payo katandu e, bulang sibahanna e la seri ras bulang kalak Karo, enggo salah kuakap banna e," nina.
"Kuakap pe bage turang, tapi la lit hakta ngataken man panitia, adi ia pe sinik saja," ningku ngaloi. Bagem sitik paksa e.
Enca si e, lit kenca kerja-kerja entahpe ercakap-cakap i kede kopi, usur aku tersinget. Subuk man kalak Karo i Gugung bagepe si i Jahe, kerina ngataken la payo, tapi tiap kerja kuidah bulang enggo ertanduk, mamang ateku. Bage nge kepe bulang Karo sigundari ateku. Sekali lenga uga dekahna, jumpa aku ras Hamid Meliala. Ia sekalak simeteh kerna paken adat Karo, usur pe tamu-tamu Pemerintah ibulangina. Kai nina enca kerna si e kusingetken?
"Situhuna bulang e enggo salah, lanai bage bulang Karo. Aku sendiri entah piga enggo jelma kubulangi, labo bage bentukna, labo ertanduk. Situhuna sienda jadi, enggo buen ulah persalon," nina ngaloi.
"Jadi adi bage ma perlu akapndu mehuli ipake bagi bulang kalak Karo?"
"Payo, tapi ikataken pe rusur lenga tentu ipake kalak, emaka kuakap, adi merhat kita bentukna ertanduk bage siban, sitempahken kusalon. Tapi adi la ateta bage, biasa saja, kita pe banci erbahan bulang-bulangta, entahpe kalak sideban sisuruh, tapi la bage bentukna."
Bagem percakapen kami sanga kami jumpa e. emaka kerna si e, mari ras kita ngukurisa. Janah iendesken kami man kalak Karo, enggo me iakap payo entah lang. Adi enggo siakap payo bagem siban, adi lang, sipakelah bulang sibentukna bagi bulang kalak karo nai nari see asa gundari.

Bujur Sitepu

Posted at 11:46 pm by karina
Make a comment

LUAH KALIMBUBU

Dalam pesta adat perkawinan suku Karo, ada tiga tahapan adat yang harus di lalui yaitu "Mbaba Belo Selambar”, “Nganting Manuk", dan “Erdemu Bayu” atau petuturken. Biasanya sebelum upacara Nganting Manuk dilakukan acara pemberkatan nikah di gereja, khususnya bagi pengantin orang Kristen.

Yang paling sarat upacara adalah saat Erdemu bayu karena upacara tersebut adalah puncak pesta dan salah satu event yang paling penting adalah penyerahan luah kalimbubu. Atau kalo di terjemahkan adalah Kado dari Kalimbubu karena tanpa luah dari Kalimbubu maka pesta menjadi hambar.

Akhir-akhir ini luah kalimbubu ini banyak disoroti dari sisi negatifnya karena adanya pandangan bahwa kegiatan penyerahan luah kalimbubu adalah pura-pura bukan merupakan suatu kenyataan sebab luah kalimbubu tapi dari pihak anak beru. Kalau yang mengadakannya dari pihak laki-laki kenapa disebut luah kalimbubu, kenapa justru kalimbubu yang menyerahkan hadiah? Kenapa kalimbubu yang membeli hadiahnya? Kenapa harus pengantin pihak laki-laki? Pertanyaan ini merupakan suatu gugatan terhadap adat Karo, yang belum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Dan walaupun selalu digugat tetap saja diadakan karena belum ada alternatif lain. Memang pada beberapa kasus tertentu luah kalimbubu disediakan oleh kalimbubu dan dia tidak mau kalau hadiahnya disediakan oleh orang lain . Pernah kalimbubu saksikan " luah kalimbubu " berupa kuitansi pembayaran seperangkat alat tidur tinggal mengambilnya di toko. Pernah juga penulis saksikan luah kalimbubu adalah kunci mobil tinggal mengambilnya dari showroom tapi yang paling banyak adalah luah kalimbubu berupa tilam dan alat dapur yang disewa dari pemilik jambur.

Bila ditelusuri asal-usul "luah kalimbubu", sebenarnya uang itu bagian dari uang mahar kalimbubu singalo bebere.Pihak pengantin laki-laki menanyakan kepada pihak pangantin peremouan berapa bagian dari kalimbubu? Lalu jawabnya sekian rupiah, sedangkan luah harus
disediakan sebagai tambahan. Jadi ada sejumlah uang dan seperangkat luah dimana uang langsung diterima sedangkan seperangkat luah dibeli pengantin lelaki dan nanti diserahkan sebelum upacara.

Kalau dilihat pada saat upacara penyerahan hadiah maka luah kalimbubu adalah milik orang lain (pengantin laki-laki) padahal bila ditinjau secara keseluruhan luah kalimbubu adalah merupakan hak kalimbubu, masalahnya adalah kenapa harus pihak pengantin laki-laki yang menyediakan? Kenapa tidak seluruh uang diberikan, lalu terserah kalimbubu apa mau dibelinya. Mau beli selimut beli lemari, beli tempat tidur terserah dia! Yang penting luah kalimbubu.

Menjadi jelas bagi kita adalah pada dasarnya luah kalimbubu adalah memang milik kalimbubu, tapi akhir-akhir ini keadaan berubah, luah kalimbubu disewa dari jambur yang nantinya dikembalikan setelah acara pesta selesai. Ini tidak benar dan yang membuat itu tidak benar
adalah kita sendiri.

Marilah kita tempatkan luah kalimbubu pada posisi sebenarnya untuk menghindari kemunafikan dalam melaksanakan adat-istiadat. Adat Karo sangat jauh lebih positifnya dan tidak bertentangan dengan agama Kristen. Adat Karo memberikan landasan berpikir bagi kehidupan orang Karo dan menunjukkan perilaku positif serta penampilan kita yang sering salah kaprah adalah kita sendiri manusianya!
Amin.

Pt.Ir.Perdana Gintings,Msi

Posted at 11:45 pm by karina
Make a comment

KUAN KUAN KALAK KARO

Melas pe ningen api adi la icikep labo meseng
Piga-piga erbage kesusahen nggeluh, adi la ibahan sababna labo jumpa. Mesui gia ningen ibas tutupen, adi la ibahan dalin itutup, labo jelma itutup.

Adi pajek gara api, kugapa pe rubatiGara api pajek adi si man tanggerenken la lit. Ertina, adi mesera kel baban nggeluh, nakan man pangan la lit, kutera pe labo i eteh mehuli.

Ngutkut bagi api bas segalIkataken ku jelma si permenek, nggit ngerem-ngerem ukurna. Atena segat entah morah-morahna ibuni-bunikenna. Seh mawen-mawen dagingna kertang itindan-tindan ukurna.

Keri-keri arang besi la tembe
Sibar ngasup enggo ikeriken, tapi sura-sura la seh. Umpama guna nekolahken anak, orang tua enggo tungtung kapur, lembu idayaken, sabah iputangken, tapi erkiteken anak la rate tutus, sekolahna la rasil.

Aras jadi Namo
Kalak si mesera babanna nggeluh jadi kalak bayak. Kebalikenna : Namo jadi Aras. Biasa ka ipersada, : Aras jadi namo, namo jadi aras. Ipake ngandingken kumalih jaman. Kalak si musil jadi jore, si jore salih ku mesera.

Ngasuhi anak arimo, jukut nakanna
Ikuanken ku jelma si la terasuhi perbahan seh royalna, la meteh mehuli.

Bagi si ngasuhi anak arimo, la lit nakanna, kita irigepna
Iandingken ku jelma si mesera manjangisa, janah adi la ibere, kita ikurukna entah duit ta i tangkona.

Bagi arimo natap tabe
Ningkalak, adi arimo ercurmin bas lau, megah akapna ngenehen rupana, seh lupa ndarami nakan. Ikuanken man jelma si labo entabeh babanna nggeluh, tapi la atena erdahin, perbahan jore akapna bana.

Bagi arimo tua-tua
Arimo tua-tua, janahna erdalan pe lit nge rusur sorana bagi sora kalak jungut-jungut.
Ikataken man jelma si mejungut, enggo me ia sinik nuate, jungut-jungut denga kang.

Bagi aringgeneng nandangi tongkap
Sorana nandangi tongkap, erdengung-dengung, sung megang sung lahang
Iumpamaken kusora kalak si nurdam mejile.

Bagi aringgeneng beru-beru, la neren
Iandingken ku jelma si la perpang, sitik pe kalak la mehangke. Biasa ikataken man anak perana, si la ibiari singuda-nguda sabap ngkuit pe la pang.

Labo terbuat ate tungir asa punggaAntusenna, pemindon si kutera pe ibahan la terdemi, pemindon si lang-lang. Umpamana danak-danak ngandung, ipindona gelah itukur kuda.

Gerantang Acih
Ngataken jelma pergerantang, mehantu tempa, tapi situhuna ia percikcik.

Menang bas babah, talu bas perukuren
Ikuanken ku kalak si la lit pemetehna, tapi ngerana la nggit talu, ia tempa si beluhna. Gelah menang bas cakap, rugi pe ia nggit.

Babahna bagi bulan erlajar
Ngataken tempas babah mejile.

Adi kidaram salu babah, ndigan pe la dat
Ikataken ku jelma si la mejingkat kidaram. "Ija kin, ..la kap lit ije", nina rusur. Biberna ngenca kemuit, tanna la cigargar, janah matana la metenget pepayosa.

Petembal bagi persepah babi
Ngandingken perukuren la des, entah pe silawanen. Umpamana, orang tua merincuh maka anakna mengketi sekolah guru. Ate anak, kujapa pe labo dalih, gelah ula ku sekolah guru.

La ngidah ikur babi pe
Ikataken kempak kalak si tutus kal atena erdahin. Pagi-pagi lampas ku juma, ikur babi pe lenga teridah. Karaben pe kenca gelap maka ku rumah, ikur babi lanai ka teridah.

Bagi babi Lau Baleng
Bagi babi Lau Baleng tersena galang janah mbur.
Ikateken kempak jelma si seh burna

Njula babi salu kedep
Ikuanken kempak jelma si la terjula. Bicara perbahan ate kalak nembeh pe maka ibere kalak, la mberat tanna ngalokenca.


Posted at 11:42 pm by karina
Make a comment

LEGENDA LAU KAWAR

Danau Kawar / Lau Kawar merupakan salah satu obyek wisata yang ada di Kabupaten Karo dengan luas lebih kurang 100 hektar. Jaraknya dari kota Medan lebih kurang 85 Km. Dulu objek wisata ini setiap hari sabtu dan Minggu serta hari-hari libur ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik dan manca negara, tapi 10 tahun terakhir ini kelihatannya sudah kurang terawat dan jarang dikunjungi oleh para wisatawan kata Kristian Sukatendel mengomentari keadaan Danau Lau Kawar kebanggan masyarakar Karo ini.

Konon menurut ceritanya, Danau Lau Kawar ini berasal dari lokasi sebuah perkampungan yang namanya Kawar. Penduduk desa yang pada umumnya bekerja sebagai petani sebagaimana dengan warga lainnya di Tanah Karo.

Hasil pertanian masyarakat selalu berlimpah ruah karena Tanahnya cukup subur. Para petani tidka ada memakai pupuk atau obat-obatan seperti sekarang.

Singkat cerita, tibalah musim panen padi. Seluruh warga gembira melihat hasilnya menguning bernas. Demikian juga tentunya kepala desa lau Kawar memiliki kebahagiaan tersendiri mengingat ladangnya cukup luas. Apa yang diharapkan penghulu desa selama ini ternyata
telah dikabulkan Tuhan pada tahun itu. Sebagai ucapan syukur kepada Tuhan maka penghulu Desa Kawar menyelenggarakan pesta Gendang Guro-guro aron di ladang tersebut selama empat hari-empat malam. Seluruh warga di undang berpesta pora yang luar biasa meriahnya.

Dapat dimaklumi, karena yang mengundang adalah penghulu desa maka tidak ada seorangpun yang berani menolak kecuali seorang wanita karena telah lanjut usia dan dia sendiri adlah ibu kandung dari pada penghulu Desa Kawar yang menyelenggarakan pesta yang meriah selama empat hari empat malam suntuk itu. Wanita tersebut tinggal sendirian di rumah, seluruh anak dan cucunya pergi. Bertalu-talu sayup-sayup suara gendang sesekali terdengar dari tempat wanita itu terbaring. Sekitar pukul satu siang acara menari di berhentikan karena tiba waktu makan siang. Penghulu dan warga desa seluruhnya makan dengan lauk pauk yang cukup mewah dan berkelimpahan. Lembu dan kambing serta babi dan ayam khusus dipotong semua kenyang puas dan gembira . Ini baru hari pertama

Setelah istirahat sebentar, acara menari dan menyanyipun dilanjutkan kembali dengan dipandu anak beru penghulu desa. Anehnya saat manari menjelang sore penghulu desa memanggil anak yang masih kecil dan lugu, rupanya dia teringan ibunya yang tertinggal sendirian dirumah belum ada yang mengantar nasi untuk makan siang.
Nasi dengan lauk pauk yang cukup dipersiapkan. Anak penghulu yang masih lugu dan kecil tadi disuruh mengantarkannya kerumah neneknya. Namun nasib malang lagi menimpa si nenek, sudah tidak diingat
mengantar nasi pada waktunya, malah nasi yang diantar cucunya
ditengah jalan bungkusannya di buka serta seluruh daging lembu, kambing, ayam, dan babi dimakan serta tulang belulangnya kemabali dimasukkan sang cucu kedalam bungkusan dan dikemas kembali seperti semula.

Sekalipun nasi untuk makan siang menjelang sore baru tiba ternyata baru tiba ternyata sang nenek masih mampu tersenyum melihat sang cucu datang membawa bungkusan. Begitu bungkusan di terima,si cucupun terus kembali menuju lading. Wanita tua inipun dengan susah payah bangun dari pembaringan agar segera makan.Begitu bungkusan di buka si nenekpun begitu terkejut karena yang ada didalam hanya tulang belulang.

Lama si nenek tercengang menatap bungkusan itu, tak sadar air matanyapun jatuh membasahi pipinya yang sudah keriput. Malang memang nasib si nenek. Anak seorang penghulu yang disegani namun dirinya sampai melupakan ibunya yang sejak kecil mangasuh, membesarkan dan membimbing. Hati nurani nenekpun memberontak tak terbendung lagi. Dia menangis terisak,bersumpah sembari memeras air susunya " aku yang melahirkan dan membesarkan engkau , engkau telah mendapt kedudukan terhormat ternyata engkau tidak dapat menghormati orangtua sendiri, air susu ini menjadi saksi anakku, untuk itu aku bersumpah tiada henti, tiada putus asa sembari air mata terus mengalir di pipi dan memeras air mata terus mengalir di pipi dan memeras air susunya. Tak lama kemudian sumpah nenek yang malang itupun terkabul, embun gelap mulai menutup langit seakan hari mulai malam. Kilat dan guntur bergemuruh sambung menyambung. Seluruh warga yang berpesta meriah mulai panik, terlebih-labih hujan mulai turun dengan derasnya.Pestapun mulai bubar seketika ,seluruh penduduk lari mencari tempat berteduh.

Hujan tiada mau peduli, selama tujuh hari-tujuh malam deras tiada hentinya, air bah pun terjadi.Desa kawar yang persis terletak di bawah gunung Kaki sinabung itupun tenggelam. Seluruh harta benda tidak ada yang terselamatkan. Desa Kawar telah berubah wujud menjadi sebuag danau, yang sekarang disebut dengan Danau Lau Kawar.

Dari legenda diatas bisa dipetik suatu kesimpulan bahwa,
1. Bila kehidupan telah tercukupi maka yang pertama yang harus dilakukan adalah bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Hendaknya janganlah berkelimpahan yang telah dimiliki menjadi lupa terhadap orang tua, sebagai wujud dan syukur kepada Tuhan harus dibuktikan pertama kepada orang tua, yaitu dengan memberikan yang terbauk kepada orang tua.
3. Jika menerima amanah dari seseorang untuk disampaikan kepada orang lain janganlah sesekali megutak-atiknya bertanggung jawablah atas kepercayaan yang telah diberikan.Sampaikanlah amanah itu kepada orang yang berhak menerimanya.



Emaka tuhu nge :
Jual jekol inang . . . .? ya. . . . . . . .
Kenapa terbuka inang ? bikin cotoh . . . .
Kenapa hitam inang ? karena sudah tua......
Kenapa berbulu inang ? ho mangitip kau rupanya.
Bodat.....



Posted at 11:40 pm by karina
Make a comment

BIAK BIAK SI LIMA MERGA

Nina tua-tua erpalasken pengalamen si lit bas ia, lit nge enda biak-biak kepribadian kalak Karo rikutken merga-merga i bas Merga Silima, e me Karo-karo, Ginting, Sembiring, Perangin-angin ras Tarigan, amin gia labo tepat kal. Biak entah pe temperamen kalak Karo rikutken mergana enda, mawen-mawen lit kebenarenna, e maka ijadiken kuan-kuan, ituriken kalak ersundut-sundut. Nina kuan-kuan e bagenda:
- Cerdik Karo-karo
- Jembua Ginting
- Mejeret Sembiring
- Perbual Tarigan
- Kecek Perangin-angin

Cerdik Karo-karo
Cerdik Karo-karo ningen e, lit buktina, e me: Tangtangna kalak Karo sarjana, e me Dr. B. Sitepu ras Mr. Jaga Bukit. Tangtangna Profesor kalak Karo e me Prof. A. T. Barus. Tangtangna kalak karo jadi Gubernur, e me Ulung Sitepu. Pecatur kalak karo si juara Internasional e me Cerdas Barus.

Jembua Ginting
Kalak mejembua lantang ngeranana, teridah biakna si mbisa kerna kebenaren. Erkiteken si e kalak Ginting terberita i bas kepangliman. Contohna Jamin Ginting ras Selamat Ginting. Tokoh enda duana cukup terkenal i Indonesia enda.

Mejeret Sembiring,
Kalak sembiring “agak diplomat”. Contohna: “enggo kam man?” nina man kalak Sembiring. Jababna: “Adi la aku man ma labo bagenda belinna!”. Kalak sembiring biasana sitik ngerana tapi mbages ertina janah tuhu ateta. Banci siidah ibas tahun lima puluhen i bas paksa pembangunan Territorium (I) uga cara Nelang Sembiring ngatur Kodam enda, banci ikataken menam bali ras perancang nasional. Jelas dage maka ide-ide pembangunen e uluna ibas Sembiring Mergana. Kalak diplomat ngerana manjar-anjar tapi tuhu ateta maka seh idena ialoken kalak. Siinget pe nai ibahanna Sekolah Asisten Perkebunan, seh maka kalak Karo enterem erdahin i bas perkebunen (ADM, Staf, rsd)

Bual Tarigan.
Bual labo ertina “bohong”. I bas jaman si adi mbue kal waktu kalak erbual-bual i jambur. Kalak si beluh erbual, ertina beluh maba bulung percakapen mahan bana ia jadi perlu ide-ide baru man kalak si deban. Dungna ia jadi kalak si erdolat erkiteken mbue pengikutna. Erbual-bual, ertina ercakap-cakap, ngerana seh binagana keri lako. Dage kalak Tarigan ngasup erbahan ate kalak tuhu arah pengeranana seh maka rulih me ia i bas biangana, budaya ras politik Kalak Tarigan nai nari termurmur i bas perbinagan. Lit beritana dalan Siantar nari ku Parapat kalak Tarigan erbanca. Stadion Teladan pe nai kalak Tarigan enda nge erbahanca. Terberita Tarigan Tua kalak si beluh erbinaga. i bas usaha pengangkuten nai “Firma Swift” kalak Tarigan kang empuna.

Kecek Perangin-angin.
Kecek ijenda, ertina beluh kal ia make dilahna erbahan ate kalak malem. Ukur kalak malem-malem sembelah ibahanna. I bas sejarah terberita kebeluhen Sibayak Kuta Buuh maka banci ia jadi Sultan Langkat. Ia terberita beluh ras mbisa. Tentu siinget denga Sibayak Garamata si jadi penentang penjajah Belanda ku Taneh Karo.

E maka bicara Merga Silima enda banci ersada ia, sendalanen ia, ola ia sparadis, tentu seh kal sikapna.

Bagem kira-kira batang belinna biak-biak si lima merga i bas Merga Silima.

diambil dari www.benziks.tblog.com


Posted at 11:37 pm by karina
Make a comment

PENANGGALAN KARO

Orang Karo mempunyai nama-nama penanggalan hari dan bulan serta pembagian waktu, demikian juga nama-nama dari mata-angin satu tahun dihitung 12 bulan, dan 1 bulan dihitung 30 hari.

Adapun nama-nama bulan dan binatang atau benda apa yang bersamaan dengan bulan bersangkutan adalah sebagai berikut:

Sipaka sada, merupakan bulan kambing
Sipaka dua, merupakan bulan lampu
Sipaka telu, merupakan bulan gaya (cacing)
Sipaka empat, merupakan bulan katak
Sipaka lima, merupakan bulan arimo (harimau)
Sipaka enem, merupakan bulan kuliki (elang)
Sipaka pitu, merupakan bulan kayu
Sipaka waluh, merupakan bulan tambak (kolam)
Sipaka siwah, merupakan bulan gayo (kepiting)
Sipaka sepuluh ,merupakan bulan belobat (baluat)
Sipaka sepuluh sada, merupakan bulan batu
Sipaka sepuluh dua, merupakan bulan nurung (ikan)

Nama-nama hari pada suku Karo apabila diperhatikan banyak miripnya dengan kata-kata Sansekerta. Setiap hari dari penanggalan itu mempunyai makna atau pengertian tertentu.
Oleh karena itu jika seseorang hendak merencanakan sesuatu, misalnya keberangkatan ke tempat jauh, berperang ke medan laga, memasuki rumah baru dan berbagai kegiatan lainnya, selalu dilihat harinya yang dianggap paling cocok.
Disinilah besarnya peranan "guru sibeloh niktik wari" (datuk yang pintar melihat hari dan bulan yang baik dan serasi), yang dengan perhitungannya secara seksama, ia menyarankan agar suatu acara yang direncanakan dilakukan pada hari X.

Adapun nama yang 30 dalam satu bulan adalah sebagai berikut:

1 ADITIA, Wari medalit, mehuli mena, ngumbung, arih-arih (runggu)

2 SUMA, Wari sidua nahe, manusia ras manuk, wari kurang mehuli, ngkuruk lubang lamehuli, mehuli erburu, niding, ngkawil, njala.

3 NGGARA, Wari merawa/merampek, mehuli erperang, ngulak, buang sial, erbahan tambar, erburu, ngerabi, ndapeti mehuli, sinidapeti latahan.

4 BUDAHA, Wari si empat nahe, wari page, simehuli nuan-nuan, nama page ku keben, mena merdang tah nuan, kerja-kerja pe mehuli.

5 BERAS PATI, Wari medalit, wari mehuli erbahan kerja-kerja, majek rumah, mengket rumah, mulai erbinaga, ngelamar dahin, ula pesimbak sora.

6 CUKRA ENEM BERNGI, Wari pembukui, wari salang sai, mehuli berkat erlajang, berkat ngepar lawit, ngelamar dahin, ngadap man simbelin, mulai erbinaga. Kerja-kerja nereh-empo, erkata gendang, ngumbung, mena ku juma, nungkuni ate ngena.

7 BELAH NAIK, Wari pengguntur, wari Raja, adil berkat usur jumpa teman, nangkih, ngelamar dahin, mukul, ngaleng tendi, erpangir enggo seh sura-sura, kerina kerja-kerja simehuli banci erkata gendang.

8 ADITIA NAIK, Wari mehuli, kerina kerja-kerja mehuli saja, runggu, erkata gendang, erpangir kulau, erdemu bayu, mengket rumah, purpursage, mulai muka erbinaga/kede, maba nangkih, nukur barang upah tendi.

9 SUMANA SIWAH, Wari kurang ulina, metenget erkai pe, simehuli erburu, nogeng-nogeng ku darat tah ku lau.

10 NGGARA SEPULUH, Wari melas, metenget ranan, ula pesimbak sora, awas api, simehuli erbahan tambar, erperang, ngulak, menaken dahin, buang sial, mengket rumah, nereh-empo, erkata gendang, wari merawa. nampeken tulan-tulan.

11 BUDAHA NGADEP, Wari salang sai, wari mehuli, kerina kerja-kerja mehuli, runggu, ndahi kalimbubu, nereh-empo, muka usaha, ngelamar pendahin, kerja erkata gendang.

12 BERAS PATI TANGKEP, Wari simehuli, mehuli njumpai simbelin/sierpangkat, ngelamar pendahin, perumah-rumahken, erpangir rimo, kerja-kerja mindo rejeki, nereh-empo, ersembah man Dibata.

13 CUKERA DUDU (LAU), Wari mehuli, nereh-empo, nuan galuh lape-lape tendi, ngeluncang, ndahi orang tua/kalimbubu, mengket rumah, erpangir ku lau.

14 BELAH PURNAMA RAYA, Wari Raja, kerja-kerja mbelin, kerja kalak si erjabaten, erpangir ku lau/nguras, ngeluncang, guro-guro aron, nunggahken lau meciho, naruhken anak ku kalimbubu.

15 TULA, Wari sial, mekisat kalak kerja-kerja ibas wari si e, simehuli ngerabi, nuan tualah.

16 SUMA CEPIK, Wari la mehuli, adi lit urak bilangan man bahanen bulung-bulung simalem-malem, simehuli: erburu, nogeng siding, ngkawil, njala.

17 NGGARA ENGGO TULA, Mehuli buang sial, erbahan tambar, muro kengalen, erpangir selamsam.

18 BUDAHA GOK, Wari page mbuah, mulai mutik, mere page, mena nuan, nama page ku keben, mulai muat page i keben, ngerik, numbun page, wari kurang ulina.

19 BERAS PATI, Menaken rabin, nabah kayu rumah, ngkawil, erbahan sapo juma.

20 CUKRA SI 20, Mehuli erbahan tambar, mengket rumah, nampeken tulan-tulan erkata gendang, mehuli berkat gawah, perumah-rumahken.

21 BELAH TURUN, Buang sial, ncibali siding, ngekawil, erburu, ngaci.

22 ADITIA TURUN, Erbahan tambar, erpangir kengalen, buang sial, erburu, ngkawil, ngulakken pinakit, turun ku lawit.

23 SUMANA MATE, Mehuli erbahan togeng-togengen darat tah i lau, ncibali siding, erburu rubia-rubia.

24 NGGARA SIMBELIN, Mehuli erbahan tambar, erpangir buang sial/pinakit, ertoto man Dibata kerna si mehuli.

25 BUDAHA MEDEM, Wari sinuan-nuan, nuan-nuan, kujuma, mere page, muti, muat page ku keben, ngerik, berkat erdalan.

26 BERAS PATI MEDEM, Wari si malem-malem, mere nakan man orang tua, ndahi kalimbubu, kerja nereh empo, erbahan tambar.

27 CUKRANA MATE, Buang sial, erbahan tambar, erburu, engkawil, ngerabi.

28 MATE BULAN, Ngulak, buang sial, nubus semangat, erburu, ngkawil turun ku lawit.

29 DALAN BULAN, Wari kurang ulina, simehuli tupuk.

30 SAMI SARA, Nutup Kerja, numbuki aron, pupursage, ertoto man Dibata, man nini-nini, nendungi guru.

diambil dari www.benziks.tblog.com


Posted at 11:30 pm by karina
Make a comment

Next Page



:: Web Shoutbox
:: Isi komentar disini

:: Favorite
:: Batak Web
:: Batak Pelangi
:: Detik
:: Kompas
:: Google

:: Recomeded
:: Batak
:: Karo
:: Simalungun
:: Batak Spot
:: Siantar
:: Horas


:: Login


<< July 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


blogdrive