Jul 31, 2004
Herris B. Simandjuntak

Semenjak menjadi CEO PT.Asuransi Jiwasraya tahun 2001 lalu, Herris B. Simanjuntak bertekad menjadikan Jiwasraya sebagai perusahaan asuransi jiwa komersial terbesar di Indonesia, serta menjadi pemain yang tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga menjadi pemain di tingkat regional Asia Pasifik. Sebagai agen perubahan dia menekankan dua hal penting yaitu menjadi teladan dan menerapkan prinsip good corporate governance di Jiwasraya.

Simanjuntak, kelahiran Pematang Siantar, 9 Januari 1950, ini dalam setiap mengawali kepemimpinannya selalu dengan cara memberi keteladanan. Menurutnya, jika ingin sukses memimpin suatu perusahaan harus memberi keteladanan dan menerapkan prinsip good corporate governance. Tanpa keteladanan, menurutnya, perubahan apa pun yang dilakukan tidak akan berdampak besar bagi perusahaan. Prinsip itu jugalah yang dipegangnya ketika dipercaya memimpin PT. Asuransi Jiwasraya, perusahaan asuransi milik negara (BUMN) yang mempunyai aset Rp 2,5 triliun itu.

”Pada akhirnya yang terpenting adalah keteladanan. Kita ngomong ke sana ke mari, kalau kita tidak bisa memberi keteladanan yang baik, jangan mimpi berhasil. Jadi sebenarnya memimpin perusahaan tidak ruwet-ruwet banget, asal kita bisa memberikan keteladanan, dan melakukan good corporate governance, maka sebagai Chief Executive Officer (CEO) bisa berhasil,” tuturnya.

Berbagai cara diusahakannya untuk memajukan perusahaan yang telah berusia 140 tahun itu. Berbicara di hadapan publik, juga dijadikannya sebagai ajang promosi gratis untuk perusahaan. Menurutnya, setidaknya dengan cara itu dia bisa mengangkat citra perusahaan sebagai perusahaan profesional. Dengan tujuan itu pula, maka dia sangat rajin menjadi pembicara publik. Bahkan kepada anak buahnya, ia juga mewanti-wanti agar mengambil setiap kesempatan menjadi pembicara, yang tentu saja untuk urusan asuransi.

”Saya bilang ke teman-teman di daerah, kalau ada seminar di universitas dan diminta bicara, kalian maju, jangan pikirkan honornya. Itu nanti akan menjadikan citra, bahwa perusahaan ini merupakan perusahaan profesional,” tuturnya.

Lagi-lagi demi menciptakan citra Jiwasraya sebagai perusahaan yang terbuka, transparan dan profesional, alumni Universitas Krisnadwipayana Jakarta ini juga paling gampang dihubungi, khususnya wartawan. Di mana pun dia berada, entah di luar kota atau di luar negeri, kalau ada wartawan menghubungi via telepon tak bakal ditolaknya. Sehingga banyak tulisan dan hasil wawancaranya menghiasi beberapa media. Dan uniknya, tulisan-tulisan tersebut dijadikannya sebagai media promosi bagi agen-agen Jiwasraya dan ternyata sangat membantu meyakinkan calon nasabah. ”Mereka bahkan meminta saya agar sering menulis di media,” katanya menambahkan.

Bagi pria yang pernah kuliah di Akademi Usaha Perikanan Jakarta, ini dunia asuransi bukan dunia baru lagi. Sejak tahun 1977, dia sudah meniti karier di PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), kemudian tahun 1993-1995 sudah dipercaya menjabat Kepala Divisi Reasuransi, dan tahun 1995-1996 menjadi Kepala Divisi Klaim. Selanjutnya ia ditunjuk menjadi Managing Director PT Asuransi Allianz Utama Indonesia (1996-2001) mewakili Jasindo yang juga memiliki saham 40 persen di perusahaan tersebut. Dan terakhir sempat menduduki posisi teratas di PT Asuransi Jasindo tersebut yakni sebagai Direktur Utama selama enam bulan sebelum kemudian dipercaya memimpin PT Asuransi Jiwasraya perusahaan asuransi yang telah berusia 140 tahun itu.

Pengalaman-pengalaman selama berkarier di asuransi tersebut khususnya di PT Asuransi Alianz Utama Indonesia, perusahaan asuransi patungan itu, dia mengaku banyak belajar terutama dalam penerapan prinsip good corporate governance, yang menjadi modalnya dalam memimpin Jiwasraya.

Herris yang mendapat beasiswa pendidikan di Glasgow Caledonian Univesity, Department of Banking and Insurance, Glasgow, Skotlandia ini mengaku bahwa ketika baru saja memimpin Jiwasraya tahun 2001 silam, ia merasa diwarisi sejumlah beban berat. Sebagaimana juga merupakan beban yang dialami BUMN pada umumnya, Jiwasraya tak luput dari citra yang kurang sedap, dimana disebutkan bahwa BUMN itu lamban, SDM banyak tetapi kualitasnya rendah, birokratis dan juga sering diasosiasikan sebagai lahan KKN, pencitraan yang sedikit banyak berpengaruh terhadap citra Jiwasraya.

Demikian juga mengenai citra asuransi pada umumnya yang memang kurang begitu bagus sehingga masih belum dipercaya masyarakat. Sering disebutkan bahwa asuransi pada umumnya, ‘manis di depan pahit di belakang’, pengurusan klaim yang susah, proses yang berbelit-belit, kurang ada jaminan, dan pelayanan yang tidak memuaskan. Itu semua merupakan beberapa citra negatif di bidang asuransi.

”Kalau seseorang masuk menjadi CEO di BUMN, yang pertama dihadapi adalah masalah image BUMN. Citra BUMN itu banyak jeleknya, meskipun kita sudah melakukan perubahan tetapi orang masih menduga-duga, ah BUMN. Tetapi apa boleh buat, itu sudah merupakan beban kita. Kemudian kita menghadapi tantangan kedua yaitu citra asuransi juga tidak bagus-bagus banget,” ujarnya.

Pria yang juga Dosen pada Sekolah Tinggi Manajemen Asuransi Trisakti ini mengaku beban lain yang dihadapinya selain citra BUMN dan perusahaan asuransi umumnya adalah menyangkut citra perusahaan Jiwasraya sendiri. Hasil sebuah survei kecil-kecilan menyebutkan, asuransi Jiwasraya cocoknya untuk orang tua, logonya terkesan kuno dan kaku, birokratis, kerjanya lambat, dan kurang dikenal.

”Jadi ketika ditunjuk pemerintah menjadi CEO Jiwasraya, saya menghadapi tiga image ini. Citra BUMN yang kurang baik, citra industri asuransi yang kebanyakan negatifnya dan citra terhadap Jiwasraya sendiri,” lanjutnya.

Tetapi tantangan sebenarnya baginya adalah kecenderungan market share dari Jiwasraya yang menurun tiap tahunnya, meskipun dari segi pendapatan premi meningkat 10-15 persen. Penurunan market share ini terjadi dipengaruhi kenaikan rata-rata pertumbuhan industri asuransi yang naik 25-30 persen per tahunnya. Pertumbuhan yang membuat persaingan merebut pasar menjadi sangat ketat.

Khusus untuk asuransi jiwa, Jiwasraya masih berada di urutan tiga besar dari 61 perusahaan asuransi yang meraih pendapatan premi tertinggi. Tetapi perusahaan asuransi lain terutama perusahaan asuransi patungan terus membuntuti dan menempel ketat posisi Jiwasraya tersebut. Menurutnya, jika ingin tetap bersaing dengan perusahaan lain, tidak ada jalan lain kecuali melakukan perubahan.



Dan yang menjadi tantangan menurutnya adalah, bagaimana mengangkat citra Jiwasraya agar makin membaik, produktivitas meningkat dan bisa mengejar market share Jiwasraya agar tumbuh minimun sebesar rata-rata pertumbuhan industri. ”Kita melihat sebenarnya pesaing terdekat kita adalah swasta asing (joint venture). Sedangkan, kalau yang lokal masih bisa kita tandingi,” katanya.

Menyadari peta dan iklim industri asuransi jiwa saat ini dan mendatang sudah jauh berbeda maka pembenahan citra perusahaan merupakan keharusan. Jiwasraya bertekad menjadi perusahaan asuransi jiwa komersial terbesar di Indonesia, serta menjadi pemain tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga menjadi pemain di tingkat regional Asia Pasifik. Inilah visi Jiwasraya sekaligus visi Simanjuntak yang akan dipertajam.

Menurut penyandang gelar Magister Manajemen dari Prasetya Mulya Business School ini, upaya masuk pasar regional itu telah mulai dirintis. Tapi sementara masih menunggu perangkat pendukung seperti perbankan. Nantinya, mungkin di Timor Leste dulu yang pertama dibuka, kemudian Kuching, Serawak dan Papua Nugini. Setelah semua itu berjalan bagus, selanjutnya baru ekspansi lebih jauh. ”Intinya, Jiwasraya ingin berubah menjadi pemain global,” tuturnya.

Mendengar pencitraan Jiwasraya yang disebutkan cocoknya untuk orang tua, tidak dikenal dan terkesan kaku dan kuno maka diapun melakukan terobosan dengan mengganti logo perusahaan menjadi logo yang memberi kesan modern dan dinamik. Melalui perubahan tersebut, diharapkan timbul kesan menarik, optimisme dan perubahan di bidang pelayanan di semua jajaran.

Di bidang target pasar, Jiwasraya juga mulai memperluas. Kalau sebelumnya ‘captive market’ Jiwasraya adalah instansi pemerintah seperti Pemerintah Daerah, DPRD, Bank-bank Pembangunan Daerah, BUMN, dan BUMD, kini akan diperluas supaya bisa mencakup segmen usia 25-45 tahun.



”Diharapkan dengan perubahan identitas perusahaan, kita akan menjadi perusahaan asuransi jiwa yang profesional. Ke depan, kita juga tidak terlalu mengunggul-unggulkan bahwa Jiwasraya merupakan perusahaan asuransi jiwa milik negara. Kita hanya mau tonjolkan bahwa Jiwasraya merupakan perusahaan asuransi jiwa yang profesional, kuat, dikenal dan dipercaya masyarakat,” ungkapnya.

Untuk mewujudkan dan mencapai visi tersebut, Ketua Bidang Litbang Asosiasi Ahli Manajemen Asuransi Indonesia (AAMAI), ini sudah menyiapkan strategi dengan apa yang dinamakannya 3 P (Product, Process dan People).

Soal produk, Jiwasraya harus terus menciptakan produk-produk yang kompetitif dengan mempunyai nilai yang tinggi. Belum lama ini Jiwasraya telah mengeluarkan produk unit link (kombinasi antara asuransi dan investasi) yang dinamakan JS Link. Respons pasar luar biasa terhadap produk ini, bahkan saat ‘soft launching’ saja sudah Rp 1,1 miliar premi masuk. Dalam waktu dekat Jiwasraya juga akan mengeluarkan produk bancansurance kerja sama dengan sejumlah bank. Selain itu akan dikeluarkan juga health insurance yang lebih kompetitif.

Sedangkan proses bisnis seperti mulai dari permintaan penutupan asuransi, penerbitan polis, pembayaran premi, penyelesaian klaim, perpanjangan polis dan yang lainnya, akan dilakukan secara efisien. Jiwasraya bahkan telah menggunakan sistem online XL Indo (untuk pertanggungan perorangan) dengan 17 kantor-kantor regional dan 70 kantor cabang. Untuk keperluan ini investasi yang telah dikeluarkan mencapai Rp 6 miliar. ”Kita bisa menjadi pelopor teknologi informasi di asuransi jiwa. Sejauh ini belum ada perusahaan asuransi yang menggunakan teknologi sejenis ini,” ujarnya.

Di samping itu, Jiwasraya juga mengembangkan GL Indo, sistem online untuk pertanggungan kumpulan, yang selesai pertengahan 2003. Kemudian dilanjutkan dengan mengembangkan mengembangkan PL Indo, untuk pertanggungan pensiun.

People, diartikan sebagai SDM yang berkualitas. Selain pendidikan dan latihan untuk karyawan, Jiwasraya juga meningkatkan kesejahteraan yang cukup signifikan bagi karyawannya. ”Bagi karyawan kan yang penting itu, kalau kita ngomong perubahan-perubahan segala macam, kalau income-nya tidak naik, mereka akan bilang ngomong doang nih,” kata Herris.

Wakil Ketua Bidang Pengembangan Industri Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) ini mengatakan bahwa ketiga strategi tersebut bisa sukses dijalankan kalau prinsip-prinsip good corporate governance seperti transparansi, fairness dan tanggung jawab bisa diterapkan di Jiwasraya. Lebih penting lagi adalah keteladanan dari pemimpinnya. Tanpa itu, jangan bermimpi perubahan-perubahan yang dilakukan akan berhasil.

”Misalkan kalau rapat dimulai jam sembilan, ya... bosnya sebelum jam itu harus sudah datang, tidak harus menunggu. Kalau dulu budayanya biasanya telat. Kalau rapat mulai pukul sembilan, bosnya datang pukul sembilan lewat atau pukul sepuluh. Sekarang harus on time, anak buah sudah lengkap atau belum rapat dimulai. Akhirnya yang berikutnya, anak buah tidak ada yang terlambat, takut. Juga kalau tidak ingin ada KKN, maka pemimpinnya jangan KKN,” katanya.

Penggemar olahraga golf ini merasa perubahan manajemen yang dilakukan di Jiwasraya sudah mulai terasa efeknya, meski secara kuantitatif belum terlihat. Tetapi dalam jangka panjang 3-4 tahun mendatang, perubahan tersebut akan menjadikan Jiwasraya sebagai perusahaan yang kuat dan profesional.

Mengenai kinerja Jiwasraya, sampai akhir tahun 2002 terlihat terus meningkat setiap tahunnya. Akhir Desember 2002, perusahaan ini mempunyai Risk Based Capital (semacam rasio kecukupan modal di bank) yang lumayan tinggi 109,51 persen atau melebihi ketentuan minimum yang ditentukan pemerintah sebesar 75 persen. Bahkan ketentuan minimum tahun 2003 sebesar 100 persen pun telah terlampaui. ”Memang RBC kita disetel tidak perlu terlalu tinggi. Kalau terlalu tinggi itu malah modalnya banyak yang tidak jalan (idle),” ungkapnya menanggapi peningkatan RBC tersebut.

Demikian juga perolehan Jiwasraya dari premi terus meningkat tiap tahunnya. Jika pada tahun 2001 premi yang bisa diraih Rp 908,715 miliar, maka pada tahun 2002 melambung menjadi Rp 955,001 miliar. Melihat perkembangan tersebut maka untuk tahun 2003, Jiwasraya berani membuat target fantastis sebesar Rp 1,4 triliun.

Dalam hal investasi, Jiwasraya masih dominan menginvest dalam bentuk deposito. Dari total investasinya sebesar Rp 2,25 triliun pada tahun 2003 misalnya, sekitar 40-50 persen masih berupa deposito, 20 persen di obligasi, sekitar 15 persen di properti, dan sisanya ada di reksadana, pinjaman pemegang polis dan saham.

”Problemnya di asuransi jiwa sekarang, ‘kan idealnya kalau kita punya kewajiban jangka panjang maka investasinya juga jangka panjang. Tetapi di Indonesia, instrumen investasinya terbatas, sehingga kebanyakan liability kita panjang tetapi kita investasikan dalam jangka pendek”. Ucap pria peraih kualifikasi profesional, Associate of the Chartered Insurance Institute (ACII), London (1989), Ahli Asuransi Kerugian, Asosiasi Ahli Manajemen Asuransi Indonesia (1996), dan Chartered Insurer, the Chartered Insurance Institute, London, (1997) ini menjelaskan perihal investasi tersebut.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Posted at 09:18 pm by karina
Make a comment

Harry Tjan Silalahi

Wakil Ketua Dewan Direktur dan Anggota Dewan Kehormatan sebuah lembaga pengkajian bernama CSIS (Center For Strategic & International Studies) ini dikenal luas sebagai peneliti senior bidang politik, budaya dan pertahanan. Sejak awal tahun 50-an, ia mulai aktif memberikan kontribusi dalam dunia politik nasional dan banyak menulis di berbagai surat kabar dan buku.


Lahir 11 Februari 1934 di Kampung Terban, Yogyakarta, kehidupan masa kecil Harry Tjan Tjoen Hok, anak kedua dari sepuluh bersaudara, serba sulit. Ayahnya buta huruf, ibunya penjual makanan kecil dan gudeg. Kedua orangtua itu mengharapkan Harry menjadi orang berpendidikan. Bahasa ibu yang pertama kali dia kenal bukanlah Mandarin, melainkan Jawa ngoko. Bahasa Indonesia dikenalnya di sekolah menengah lewat judul bacaan Empat Sekawan.


Awalnya Harry Tjan bercita-cita menjadi dokter. Selepas SMP St Yusuf di Dagen, Yogyakarta, dia masuk jurusan A (ilmu pasti) di SMA de Britto. Selain gemar berorganisasi, di sekolah ia menyenangi pelajaran sejarah, kesenian, dan ilmu kemasyarakatan. Karena sibuk berorganisasi, hal yang menjadi kegemarannya selain berpidato, dia tidak naik kelas. Dia harus pindah jurusan, ke jurusan C (ilmu sosial).


Ketika di SMA di kota kelahirannya, Harry anggota organisasi peranakan Cina, Chung Lien Hui. Di masa kepemimpinannya, organisasi ini beralih nama menjadi Persatuan Pelajar Sekolah Menengah Indonesia (PPSMI). Ia juga aktif di Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI).


Setelah tamat SMA, Harry pindah ke Jakarta dan kuliah di Fakultas Hukum dan Ilmu Kemasyarakatan Universitas Indonesia, hingga lulus tahun 1961. Pilihan ke fakultas hukum pun, katanya, dipengaruhi oleh pernyataan Muhammad Yamin di tahun 1946, yang menolak diadili Pemerintah Indonesia karena Republik Indonesia masih memakai hukum Belanda.


Semasa kuliah di Jakarta, ia menjadi aktivis, sekaligus menjadi guru sekolah dasar dan kepala sekolah menengah pertama (SMP). Ia juga aktif di perkumpulan Sin Ming Hui, dan Perkumpulan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI).



Giat di bidang sandiwara, ia pernah main dalam Taufan arahan Teguh Karya, malah pernah menyutradarai Mawar Hutan. Selepas fakultas hukum, ia bekerja beberapa tahun di sebuah perusahaan minyak asing di Pekanbaru. Ia kemudian terpilih sebagai Ketua PMKRI. Pada tahun 1964-1971, ia duduk sebagai Sekretaris Jenderal Partai Katolik yang diketuai Frans Seda. Dalam posisi sekjen itulah Harry menjadi anggota DPR-GR/MPRS sampai tahun 1971.


Namanya mulai terkenal setelah aktif memimpin pengganyangan G-30-S/PKI, dan menjadi Sekjen Front Pancasila. Giat dalam gerakan pembauran, aktivitasnya di Partai Katolik mengantarkan ia ke kedudukan sebagai ketua, hingga peleburan ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI).


Pada saat itulah ia memperoleh marga Silalahi lewat persahabatannya dengan Abe, alias Albertus Bolas Silalahi, yang juga pernah memimpin Partai Katolik. Harry sebagai sekjen pengurus pusat, dan Abe ketua di Tapanuli Utara.


Waktu itu, AB Silalahi mempunyai saudara yang merantau ke Pulau Jawa dan tidak pernah kembali. Harry "ditemukan" AB Silalahi sebagai pengganti saudaranya yang hilang itu, yang dianggap telah kembali dan diberi marga silalahi berikut segala hak karena gelar itu. Ia dianggap keluarga penuh yang mempunyai orangtua, kakak, adik, keponakan, juga sawah dan ladang. Kedua anak Harry juga diberi nama dengan marga silalahi.



Usai pemilu 1971, Harry tidak lagi giat di dunia kepartaian. Ia memilih kegiatan di CSIS dan Yayasan Pendidikan Trisakti. Di yayasan ini ia mengetuai bidang kemasyarakatan.


CSIS menurut Harry, berkeinginan menjadi think tank berbagai persoalan bangsa. Ia menyangkal mentah-mentah bila CSIS dikesankan berhubungan langsung dengan Golkar apalagi menjadi dapurnya Golkar. Menurutnya, sejak awal CSIS tidak pernah jadi think tank untuk satu partai apa pun.


Harry juga menolak pernyataan pamor CSIS menyurut. Yang dia akui, CSIS semakin inklusif. Ini pun sebuah hasil perjuangan yang dirajut bertahun-tahun. Sejak awal berdiri, CSIS tak dikembangkan sebagai lembaga eksklusif. Selain sejumlah nama orang Katolik dan Cina, ada juga Daoed Joesoef, Barlianta Harahap, dan lain-lain, apalagi sekarang.


Hari-hari ini CSIS, sebagai lembaga pengkajian, tetap dikunjungi banyak orang. Diskusi, seminar, ataupun acara bedah buku tetap dihadiri banyak orang. Perpustakaan dengan lebih dari 50.000 eksemplar buku setiap hari dikunjungi 100-150 orang. Dengan sekitar 130 karyawan, 50 di antaranya analis dan sepertiga dari mereka adalah doktor lulusan luar negeri, CSIS tetap diperhitungkan. Harry mengatakan bahwa mereka dilatih untuk bekerja tanpa pamrih dan tidak menjadi penjual gagasan atau orang ke pemerintahan.


Di usianya yang ke-70 bulan Februari 2003 ini, ia ia mengaku bahagia karena bisa menimba banyak ilmu kehidupan dari orang-orang dekatnya. Tidak hanya dari kedua orangtuanya, mantri pembantu dokter mata terkenal Yap Hong Tjoen (Yap senior), dari refleksi keagamaan yang dianut dan pergaulan banyak orang, tetapi terutama juga dari rekan-rekan di Centre Strategic for International Studies (CSIS). Ia mengakui bahwa CSIS telah membuat dirinya terus-menerus muda.


Bukan hanya itu, wayang pun memperkaya dan membentuk sosok Harry Tjan Silalahi. Di kamar kerjanya, tokoh Sukrosono, adik Sumantri dalam lakon Sumantri-Sukrosono, ditempatkan dalam pigura besar. Baginya tokoh Sukrosono memberikan teladan kesetiaan yang patut ditiru. Menonton wayang juga membuatnya terkenang sebagai anak Tionghoa di tahun 40-an bertelanjang kaki bersama teman-teman sekampung nglurug nonton wayang ke mana-mana.



Sehari-hari ia bersama mereka cebar-cebur di Kali Code, yang mengalir deras di samping rumahnya. Tak ada perasaan sebagai "anak Cina". "Lingkungan saya adalah anak Jawa kampung," katanya.


Menikah dengan Theresia Marina Gani (almarhumah), dosen sastra Inggris FS UI, Harry dianugerahi dua anak, Herman dan Harin. Pada tahun 1996, ia menikahi Theresa Catharina Jing Liong dari Selandia Baru. Mengomentari pernikahan keduanya, Harry bilang "Love in the afternoon," cinta senja hari.



Hingga kini, penggemar olah raga renang ini masih melakukan lari pagi, atau bersepeda. Ia juga masih tetap senang membaca, ia pengagum Dr. Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantoro, Bung Karno, Bung Hatta, juga Soeharto.

(Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Posted at 09:17 pm by karina
Make a comment

Elisa Lumbantoruan

Presiden Direktur HP Indonesia

Di Indonesia, integrasi HP dengan Compaq terealisasi Mei 2002 dan tak kurang enam bulan kemudian tepatnya 1 November 2002 Elisa Lumban Toruan, ayah dua orang anak perempuan kelahiran Siborong-borong tahun 1960 ini dipercaya sebagai Presiden Direktur HP Indonesia. Sebelum integrasi itu, “Pak El’, demikian dia biasa disapa para sahabat maupun oleh 271 orang karyawannya, telah menempati posisi Direktur Pemasaran pada Compaq Indonesia. Dan sebelumnya lagi, sebagai Country Marketing Manager pada PT Digital Astra Nusantara, perusahaan patungan antara DEC dengan PT Astra Graphia.

Pada tahun 1998 ketika tiga raksasa industri IT (information technology) yaitu Compaq, Digital Equipment Corp. (DEC), dan Tandem bergabung menjadi satu nama Compaq Computer Corp., adalah merupakan berita heboh di negeri asalnya Amerika Serikat dan meluas hingga ke Indonesia. Namun, penggabungan itu masih belum cukup untuk berhadapan dengan “si biru” IBM sehingga di tahun 2002 Compaq kembali bergabung dengan Hewlett-Packard (HP) untuk membawa satu nama HP sebagai identitas tunggal. Elisa Lumbantoruan, 44 tahun, adalah Presiden Direktur HP Indonesia.

Penguasa pasar, itulah yang kini sangat dibanggakan oleh Elisa Lumbantoruan. Dikatakannya, seandainya Indonesia dipetakan dimana terdapat titik-titik pelayanan HP, maka dengan jarak dua jam saja seluruh Indonesia sudah bisa dicapai. Kendati HP di dunia masih nomor dua, tetapi di Indonesia posisi nomor satu sudah jatuh ke Compaq sejak bergabung dengan DEC dan Tandem. Karena itu, penggabungan HP dengan Compaq semakin menggelembungkan pangsa pasar HP.

Elisa menggambarkan, HP Indonesia kini memiliki lini produk yang paling lengkap. Bahkan, dia memperkirakan belum ada kompetitor yang memiliki product line selengkap miliknya. Mulai dari printer, PDA, notebook, desktop, networking, server, storage, sampai services dan outsourcing. Untuk kamera digital sengaja tidak dipasarkan secara agresif di Indonesia.

Demikian pula soal infrastruktur, Elisa yang selalu ramah dan murah senyum ini menyebutkan HP memiliki cakupan paling luas di Indonesia. Misalnya dilihat dari sisi purnajual yang dilakukan melalui HP Service Center maupun Authorized Service Provider (ASP), yang mengkover seluruh Indonesia. Kemudian, jika menginginkan kemudahan akses terhadap produk maupun interaksi dengan HP, HP Indonesia mempunyai jaringan reseller dan wholesaler yang juga sudah menyebar di Indonesia. Jadi, jelas dia, orang bisa dengan sangat mudah mendapatkan produk HP begitu pula dengan purnajualnya. “Itulah, yang menjadi keuntungan kompetitif HP Indonesia dibanding kompetitor di pasar,” tutur Elisa, pemasar baik yang selalu ingin bersahabat dengan siapa saja.

Lengkap dan beragamnya produk HP membuat Elisa kini leluasa memasuki semua segmen pasar, tidak seperti sebelumnya didominasi korporasi yang mengharuskannya fokus ke industri vertikal yang berat-berat amat seperti industri manufaktur, telekomunikasi, perbankan, dan pemerintahan. Menurut dia, sekarang HP Indonesia bisa masuk ke pasar konsumen seperti notebook, desktop, personal digital assistant (PDA), dan printer. Selain korporasi, dia juga bisa masuk ke usaha kecil dan menengah atau SMB (Small and Medium Business). Suami dari boru Butar-butar yang memilih tetap tinggal di Bogor ini berujar, seluruh segmen pasar bisa dimasukinya membuat HP berbeda dengan kompetitor.

Elisa lalu membagi bisnisnya ke dalam empat kelompok, yakni kelompok imaging and printing, personal system, enterprises system, dan services dimana masing-masing kelompok mempunyai suatu target dan dijalankan sebagai entitas bisnis yang harus bisa mempertahankan profitabilitas dan pertumbuhan.

Di kelompok printer, misalnya, jika dulu pasar mempersepsi printer HP mahal, sekarang dengan ketersediaan produk low end Elisa kini mempunyai produk-produk seperti ink jet, desk jet yang harganya cukup kompetitif. Dari segi fungsi, kata dia kini printer HP sudah multi purpose printer yang menyatu dalam satu alat saja, yaitu printer yang sekaligus bisa untuk scanner, fotokopi, dan faksimili.

Tingginya inovasi yang terjadi di HP membuat Elisa sibuk mematenkan beragam produk unggulan baru sebab produk itu harus segera dimunculkan ke pasar. Pernah, dalam tempo 12 bulan saja, misalnya, dia harus mendaftarkan 1.600 paten baru di Indonesia yang menggambarkan pencapaian tertinggi dalam sejarah implementasi atas inovasi yang terjadi pada HP.

Penggemar golf ini tergolong tipe pekerja keras. Bukan hal aneh jika hingga larut malam dia masih bekerja di kantor. Bahkan, sosok sebagai manusia sibuk sudah dimulainya saat masih kuliah di ITB Bandung, jurusan Matematika, yang ditempuhnya antara tahun 1979 hingga 1985. Ketika masih kuliah itu dia sudah pandai cari uang dengan mengajar matematika di sejumlah pusat bimbingan belajar untuk SMA di Bandung. Sebelum bahkan hingga setahun setelah tamat menjadi sarjana pun, profesi yang digeluti Elisa adalah dosen matematika dan komputer di sejumlah institut maupun universitas yang ada di Bandung dan Jakarta. Karena itu, sekarang ini dia justru merasa terdampar bekerja di dunia teknologi informasi. Sebab, ayah dan ibunya yang guru SD dan SMP sangat menginginkannya meneruskan profesi pengajar, dan kalaupun menjadi dosen itu adalah buah sebuah ketekunan.

Sebagai profesional, Elisa pertama kali memasuki dunia IT pada tahun 1986 saat diangkat sebagai account manager di PT Astra Graphia. Karirnya cukup baik dan melesat bagus di sini. Dia lalu ingin mencoba memasuki industri IT lain, pilihan itu jatuh ke Oracle Indonesia, perusahaan piranti lunak terbesar kedua dunia yang didirikan dan dipimpin oleh Larry J. Elison, dari Amerika Serikat. Di sini pun dia cukup baik, menjabat sebagai Alliances Manager selama dua setengah tahun, dan mulai populer di berbagai kalangan terutama wartawan karena keramahan dan sikap simpatiknya. Nah, ketika terjadi kekosongan Country Marketing Manager pada PT Digital Astra Nusantara karena pejabatnya memilih hidup melayani Tuhan, nama yang banyak disebut-sebut pengisinya adalah Elisa Lumbantoruan. B.T. Lim, Presiden Direktur Digital Astra ketika itu tidak bisa berbuat lain selain memilihnya sebagai tenaga pemasar yang paling bisa diandalkan.

Ketika di tahun 1997 Compaq Indonesia didirikan untuk mengakomodasi penggabungan Compaq dengan DEC dan Tandem, dia didudukkan sebagai Direktur Pemasaran. Dan ketika Mei 2002 PT Compaq itu bergabung lagi dengan HP dia tetap dipercaya sebagai direktur pemasaran, untuk enam bulan kemudian tepat 1 November 2002 dipromosikan sebagai orang tertinggi di HP Indonesia untuk membawahi 271 orang karyawan.

Sebagai profesional murni dia tidak lupa menaruh harapan supaya kehidupan bisnis bisa berjalan lebih baik. Pada sisi internal HP Indonesia, dia ingin agar entitas bisnis ini posisinya semakin tegas diantara 142 perusahaan subsidiary HP di seluruh dunia. Dia ingin HP menjadi perusahaan IT terkemuka di Indonesia, demikian pula untuk tingkat region Asia Tenggara harus lebih unggul atas subsidiary HP lain, hingga ke tingkatan Asia Pasifik dan global worldwide agar semakin diperhitungkan. Dia ingin HP Indonesia menjadi pemenang di setiap tingkatan itu.

Indikator lain keberhasilan kehidupan bisnis yang lebih baik bagi dia adalah, bagaimana HP berinteraksi dengan pelanggan di tiga segmen pasar. Dia mengungkapkan, implementasi HP Indonesia adalah yang terbaik saat ini di Asia Tenggara, demikian pula pertumbuhan bisnis yang jauh meningkat dibanding negara Asia Tenggara lain. Ini menguntungkan bagi nama baik Indonesia secara keseluruhan. Jujur saja, kata dia, bicara Indonesia yang terdengar hanyalah persepsi negatif.

Dengan menunjukkan hasil kerja HP Indonesia yang seluruh karyawan adalah orang Indonesia, Elisa berharap mudah-mudahan bisa mengubah persepsi negatif tadi. Selain sebagai Presiden Direktur HP Indonesia, Elisa adalah juga Direktur Pelaksana pada Enterprise Systems Group HP Indonesia, serta sebagai Business Director for Industry Srandard Servers Business Unit pada HP Asia Tenggara. Dia memang sudah lama diperhitungkan di tingkat region Asia Tenggara, mengingat 20 tahu terakhir ini dia sangat berpengalaman di industri IT.

Obsesi lain dari aktivis gereja dan adat Batak ini adalah, bagaimana IT mempengaruhi industri lain supaya tumbuh lebih cepat dan paralel dengan itu akan pula mempercepat pertumbuhan serta pemulihan ekonomi nasional. Dia mencontohkan bagaimana Korea Selatan bangkit dari krisis hanya dengan modal cadangan devisa lima miliar dolar AS, namun kini sudah memiliki devisi lebih dari 100 miliar dolar AS. ”Itu karena mereka mengimplementasikan IT,” simpul Elisa yang praktis 20 tahun terakhir dalam hidupnya adalah garam dan terang dalam dunia IT.

Di antara pilihan berkarir profesional, berkeluarga yang baik, memelihara kesehatan yang prima, serta sosialisasi kehidupan dengan sesama yang kesemuanya memberi Elisa kesibukan, dia lebih mengutamakan karir sebab indikator keberhasilannya bisa diukur dengan mudah. Dikatakannya, karir ditempatkannya sebagai prioritas karena dia mempunyai tanggungjawab yang bisa diukur berdasarkan pencapaian dan ekspektasi dari si pemberi kerja. Itu hal yang tidak ada dalam keluarga. “Tetapi saya harus menyadari, bahwa dengan peningkatan di sisi karier konsekuensinya adalah waktu untuk keluarga akan berkurang. Oleh karena itu kualitas pertemuan harus diperhatikan,” kata Elisa dengan santun.

TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia

Posted at 09:11 pm by karina
Make a comment

ERWIN PARDEDE

Namanya menjadi terkenal saat sebuah gedung miliknya di Jalan Raya Tengah, Condet, Jakarta Timur, dia kontrakkan kepada kelompok PDI Pro Mega yang sedang dijegal rezim Orde Baru, di tahun 1996. Hal itu memberinya kesempatan berkenalan lebih dekat dengan Megawati Soekarnoputri. Bahkan menghantarkan pria kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara pada 17 Agustus 1943 ini berpolitik ke Senayan sebagai anggota Fraksi PDI-P DPR RI dari daerah pemilihan Simalungun, Sumatera Utara.

Erwin Pardede mempunyai Kartu Tanda Anggota (KTA) PDI Perjuangan keluaran tahun 1998, bernomor B.4-7/27640/KA/DPC/IX/98. Bekerja sebagai wiraswasta, tepatnya kontraktor jasa konstruksi sebagai pemegang saham sekaligus pimpinan berbagai perusahaan yang dia dirikan.

Pria penganut paham sekuler namun mengaku menganut pula agama Kristen Protestan menamatkan pendidikan SD tahun 1958, SMP tahun 1961, dan SMA tahun 1964 ketiganya di Pematang Siantar. Sedangkan pendidikan Diploma III dia selesaikan di Bandung tahun 1968.

Dari istrinya Rusline Hutasoit dia dikaruniai lima orang anak, yaitu putri sulung Errata Jundini Atmira kelahiran 10 Juni 1972 yang menikah dengan Sibarani dan telah memberinya seorang cucu. Lalu, Errinto Sahat Pahala anak lelaki tertua kelahiran 16 Juli 1973, Erly Ika Suminar lahir 12 September 1974, Ersan Timbul Marudut lahir 8 Agustus 1977, dan si bungsu Erna Ade Surya Ponti kelahiran 19 September 1981.

Dua keahlian khusus yang dia torehkan dalam catatan pribadinya adalah bidang teknik bangunan dan berorganisasi. Aktivitas dan jabatan resmi yang pernah dia pegang selama di PDI Perjuangan adalah Wakil Bendahara Pemenangan Pemilu Pusat PDI Perjuangan Tahun 1999.

Dia sangat familiar dengan insan pers. Nama dan tampangnya kerapkali menghias lembar suratkabar dan majalah serta layar kaca televisi. Sekalipun topik yang dibangun begitu ringan. Semisal, kaitan antara posisi anggota dewan yang terhormat di DPR RI dengan kebiasaan menggunakan pakaian setelan jas yang rapi.

Jika diajak bicara dia yang menyebut pimpinan partainya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri dengan Ibu Mega, selalu memposisikan diri “antagonis” untuk mampu melahirkan wacana baru perdebata. Peran “antagonis” itu lalu terkadang mengarah ke hal-hal pembicaraan yang kontroversial sehingga yang lalu ada adalah semacam parodi anti kemunafikan sesuai dengan “trade mark” diri yang mulai dia perkenalkan, anti kemunafikan.

Dia mendekati paham filosofi Kahlil Gibran, yang pernah menyebutkan, ‘Sampaikanlah pikiranmu. Jika itu benar dia telah menunjukkan sebagian dari kebenaran. Jika itu salah dia akan merangsang lahirnya pikiran yang lebih benar. Baik ketika benar maupun ketika salah menyampaikan pikiran selalu lebih baik daripada diam sama sekali’. Itulah Erwin Pardede yang “rajin” bicara.

Dahulu dia adalah pendengar yang baik. Ketika ilmu sudah cukup sebagai pendengar maka dia berubah menjadi pembicara yang baik terutama di gedung DPR/MPR RI Senayan Jakarta. Di situ dia menyampaikan, kalau bisa sekaligus memperjuangkan aspirasi rakyat yang sampai kepadanya. Dia berencana meluncurkan buku berisi pesan anti kemunafikan persis pada tanggal 17 Agustus 2004. Derivatif dari judul buku itu menurutnya masih bisa melahirkan tujuh puluh judul buku baru yang siap dia tuliskan.

Erwin Pardede memang politisi yang berbeda. Dia terjun ke gelanggang politik setelah merasa cukup secara materi. Awalnya dia bertekad, persis pada usia lima puluh tahun sudah harus berhenti bekerja alias pensiun setelah materi yang dia persiapkan cukup untuk kebutuhan satu generasi. Setelah tekad awal itu tercapai tinggallah berpolitik praktis sambil tetap menyalurkan hobi arsitek dengan mendesain rumah, membangun, lalu menjual rumah tersebut dengan nilai tambah yang sudah berlipat kali ganda.

Berpolitik praktis memperoleh momentum tepat saat seorang anak bangsa bernama Megawati Soekarnoputri, yang notabene adalah putri sulung tokoh nasional Proklamator Bangsa Ir Soekarno mengalami kematian hak-hak politik. Oleh rezim yang sedang berkuasa ketika itu dia ditindas, karakternya dibunuh bahkan menjadi assasinate kesohor di era Orde Baru.

Sebagai assasinate Megawati bukan hanya tidak boleh memimpin partai. Bahkan, berdiripun di kantornya di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusatdia tidak diizinkan. Kantor itu dihancurkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Megawati menjadi pesakitan politik dan tidak tersedia satu tempat pun bagi dia untuk berlindung.

Rasa simpati terhadap Mega muncul dari mana-mana namun hanya Erwin Pardede yang berani “menampung” pesakitan politik itu di sebuah gedung di Jalan Raya Tengah, Kelurahan Gedung, Condet, Jakarta Timur, miliknya. Gedung itu menjadi tempat bersinggah bagi kelompok PDI Pro Mega, yang pada 27 Juli 1996 diperlakukan seperti manusia tanpa jiwa.

Erwin menerima uang kontrak dari kelompok PDI Pro Mega sebab deal-nya adalah sewa-menyewa. Tapi apa lacur di sini pun PDI Pro Mega tetap diburu. Kantor itu oleh aparat berwenang disegel dengan alasan peruntukan bukan untuk perkantoran.

Uniknya, dengan ketulusan mengontrakkan gedung yang lalu disegel itu nama Erwin ikutan meroket sebagai assasinate baru. Dia tidak mempedulikan usaha jasa konstruksinya dipotong dimana-mana sebab sudah tidak diperkenankan lagi mengerjakan proyek-proyek baru yang biasanya mudah dia peroleh. Peristiwa yang menimpanya membuat rasa simpati dia terhadap Mega sebagai orang tertindas malah menjadi makin menggebu-gebu.

Dia yang sebelumnya selalu golongan putih (golput) alias tidak pernah menggunakan hak pilih pada setiap pemilihan umum (pemilu), tiba-tiba muncul di sebuah koran pagi nasional terbesar Indonesia. Nama dia bersama beberapa pengusaha terkemuka lain menyatakan diri bergabung ke partai pimpinan Megawati, di tahun 1998.

Karena reformasi masih terus bergulir maka pada Pemilu 1999 posisi PDI-Perjuangan sudah sangat didukung oleh rakyat untuk menumbangkan rezim lama secara politis dan ksatria. Dengan posisi sebagai Wakil Bendahara Pemenangan Pemilu Pusat (Pappusat) PDI Perjuangan Erwin Pardede bahu-membahu memenangkan partai.

Walau begitu langkah dia ke Senayan mewakili daerah pemilihan (Dapil) Simalungun, Sumatera Utara tidak mudah. Keputusan partai memilih Erwin, nama yang tidak berhasil memperoleh bilangan pembagi pemilih (BPP), ke Senayan ditentang berbagai pihak terutama kader pendukung kandidat lain dari PDI-P dari Dapil sama. Uniknya Erwin ada bersama para pendemo itu menggugat keputusan pengurus partai yang meloloskan namanya ke Senayan. Entah, dia sekadar bergurau atau serius.

Rendah hati
Erwin Pardede selalu berbicara apa adanya. Rendah hati namun penuh rasa percaya diri. Dia menyebutkan dirinya tak lebih sebagai masyarakat kecil seorang awam yang tidak mempunyai andil untuk republik. Bukti bahwa dia seorang awam adalah PDI-P menempatkan namanya hanya di nomor urut lima Dapil III Sumatera Utara pada Pemilu 2004. Dikatakannya, kalau dia orang berpengaruh seharusnya nomor urutnya dibuat di nomor satu atau dua untuk mempengaruhi orang lain.

Dia menyebutkan kemungkinan namanya akan berpengaruh jika telah meluncurkan buku yang sedang ditulisnya, “Anti Kemufikan”. Buku tersebut sebelum diluncurkan telah menuai banyak kontroversi mengingat isinya sangat bertentangan dengan budaya dan keyakinan yang dianut kebanyakan orang. Dengan buku itu pria yang menolak disebutkan mulai melempem dan tidak lagi dinamis tersebut berharap bisa mengubah sikap manusia Republik Indonesia menjadi tidak munafik.

“Saya manusia yang dinamis dan berani menantang keadaan,” tegas dia. Dia selalu konsisten terhadap sikap dan jatidirinya untuk menjadi jujur, berani menantang orang lain dalam soal cara berfikir dan yang terutama konsisten sebagai penganut anti kemunafikan. Dia malah menyimpulkan bahwa republik ini jatuh karena kemunafikan.

Fungsi dan peran dia selama lima tahun di kursi terhormat DPR disebutkannya banyak kerjaan namun tidak pernah menjadi ketua. Karena itu prestasinya sebagai wakil rakyat dia anggap biasa-biasa saja. Padahal, kliping berita kegiatan dan pernyataan sikap politik dia sebagai anggota dewan telah menghasilkan tumpukan bundel berita yang sudah tak terhitung jumlahnya. Toh, kemunculan dia di media massa itu dikatakannya sekedar sekedar saja.

Menang di putaran pertama
Sebagai kader yang direkrut di puncak pergolakan PDI Pro Mega loyalitas dia kepada partai terutama figur Megawati sangat tinggi. Dia selalu menyebut pimpinan partainya itu dengan sebutan Ibu Mega. Tidak lebih tidak kurang. Karena itu, walau di luaran terdengar begitu banyak suara prihatin terhadap PDI-P namun dia konsisten menyebut partainya tetap solid dan cukup baik. Kali ini dia bicara tanpa bertendensi kemunafikan. Nomor urut lima bukan kendala baginya untuk mengubah loyalitas kepada partai apalagi kepada pimpinan tertinggi yang kini dipercaya memimpin republik.

Dia memprediksi partainya akan memperoleh suara antara 35 hingga 45 persen pada Pemilu Legislatif 2004. “Dan, Ibu Mega akan menjadi presiden pada Pemilu Presiden di putaran pertama. Kalau putaran pertama sudah 51 persen yang mendukung dia, maka, sudah tidak perlu ada putaran lain lagi,” tegasnya. Optimisme itu menurutnya didasari oleh kinerja Megawati yang cukup baik.

Partai yang paling menarik di masa depan menurutnya adalah partai nasionalis. Sebab, tutur dia, tidak akan mungkin republik ini menjadi kekuasaan yang berazaskan agama melainkan nasionalis. Karena hal itu sudah menjadi tekad pada saat republik ini dibentuk. “Para proklamator kita dahulu menginginkan republik ini adalah republik yang nasionalis, bukan republik yang agamis. Republik ini dibangun di atas keragaman dan di atas azas kenegaraan.”

Dia pun menepis adanya semacam konsensus diantara para patron pendiri PDI Perjuangan, yang dahulu bernama Partai Demokrasi Indonesia (PDI) hasil fusi berbagai partai aliran nasionalis dan aliran agama Nasrani. Konsensus yang tidak tertulis itu mengisyaratkan jika ketua umumnya muslim maka sekjen sebagai orang kedua diberikan kepada umat Nasrani, atau sebaliknya.

Konsensus tersebut dirasa mulai hilang saat Alexander Litay tidak lagi menjadi Sekjen PDI-P, digantikan oleh Sutjipto saat Kongres Semarang tahun 2000. Tergusurnya Alex Litay bukan hanya dinilai mengingkari konsensus namun menafikan kesetiaan Alex saat berjuang berdua saja bersama Mega dalam kelompok PDI Pro Mega.

Erwin menyebutkan konsensus itu menurut sejarah tidak pernah ada. Demikian pula dalam penyusunan daftar calon legislatif yang konon hanya ditentukan oleh 11 orang, termasuk penentuan nama dia di nomor urut lima Dapil III Sumatera Utara. PDI Perjuangan tidak pernah bicara muslim bukan muslim, warna kulit, dan sebagainya sebab PDI Perjuangan konsisten dengan apa yang mesti dilakukan.

“Tapi, kalau pun ada pribadi atau sikap-sikap yang demikian, kita tidak perlu mengatakan itu adalah PDI Perjuangan. Kalau umpamanya ada yang diskriminatif di sana, itu bukan PDI Perjuangan tapi oknum,” kata Erwin yang meminta agar dibedakan antara kehendak institusi dan oknum pribadi.
*****

Dua keahlian khusus ditorehkan Erwin Pardede dalam catatan pribadinya. Yaitu di bidang teknik bangunan dan berorganisasi. Aktivitas dan jabatan resmi yang pernah dia pegang selama di PDI Perjuangan adalah Wakil Bendahara Pemenangan Pemilu Pusat PDI Perjuangan Tahun 1999.

Sebagai ahli di bidang teknik bangunan, Erwin Pardede antara lain pernah bekerja sebagai Kepala Bagian Teknik N.V. Zain di Bandung, tahun 1965 hingga 1967. Lalu, sebagai Pimpinan Proyek pada PT Sapta Daya di Bandung tahun 1967-1968, mengekspor barang kerajinan ke Singapura tahun 1968-1970, Direktur dan Pemegang Saham PT Lanze sejak tahun 1970 hingga sekarang, Direktur dan Pemegang Saham PT Daya Mandiri Alam sejak tahun 1985 hingga sekarang, serta Direktur dan Pemegang Saham PT Naga Saco sejak tahun 1994 hingga sekarang.

Keahlian dia berorganisasi cukup beragam baik organisasi profesi maupun kemasyarakatan. Di organisasi profesi, Erwin Pardede pernah menjadi Wakil Ketua BPD Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional (Gapensi) DKI Jakarta antara tahun 1980 hingga 1983, sebagai Wakil Ketua Bidang Konstruksi Kadin Jaya tahun 1981-1983, Ketua Departemen Konstruksi Kadin Jaya tahun 1983-1985, Sekretaris Jenderal BPP Gapensi tahun 1983-1987, Ketua Kompartemen Jasa Konstruksi Kadin Jaya tahun 1985-1994.

Kemudian, sebagai Ketua Bidang Organisasi BPP Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI) pada tahun 1986 hingga 1994, Anggota Dewan Penasehat Kadin Jaya tahun 1993-1994, Ketua Bidang Pemagangan, SDM, dan Ketenagakerjaan Kadin Indonesia tahun 1994-1998, Ketua Bidang Organisasi DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) tahun 1994-1998, Ketua BPP PATI sejak tahun 1994 hingga sekarang, Ketua DPP Apindo Urusan Sosial sejak Juni 1998 hingga sekarang, Sekretaris Kelompok Kerja (Pokja) Sertifikasi Pekerja Bangunan di Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) sejak Juli 1998 hingga sekarang, dan sejak Oktober 1998 hingga sekarang sebagai Anggota Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat (P4P).

Di bidang kemasyarakatan, istri dari Rusline Hutasoit antara lain aktif sebagai Tim Koordinasi Usaha Kesejahteraan Sosial bagi Penyandang Cacat di Departemen Sosial (Depsos) sejak Juli 1997 hingga sekarang, Tim Koordinasi Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis di Depsos sejak Agustus 1997 hingga sekarang, Tim Koordinasi (Joint Coordinating Comitte) Pengembangan Sistem Rehabilitasi Vakasional di Depsos sejak April 1998 hingga sekarang, Koordinator Umum Forum Peduli Anak Indonesia (FPAI) sejak Juli 1998 hingga sekarang, Wakil Sekretaris Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) sejak November 1998 hingga sekarang, Ketua Perhimpunan Keluarga Pardede Se Jabotabek tahun 1986-1995, serta Sekretaris Jenderal Paguyuban Partukkoan Dalihan Natolu (Palito) sejak 1994 hingga sekarang.

Aktivitas dan partisipasi dia dalam pertemuan tingkat nasional tercatat antara lain sebagai Tim Perumus pada Rakernas Pengusaha Kecil KP2KO Maret 1985, Ketua Komisi B pada Rakernas JKKRET Kadin Indonesia Juli 1985, Tim Perumus pada seminar ekonomi negara-negara Eropa Timur di Lemhanas Desember 1985, Tim Perumus Munas ke-VI Kadin Indonesia September 1985, sebagai moderator di beberapa seminar dan pertemuan tingkat nasional lainnya, serta sebagai pembicara pada berbagai seminar nasional khususnya bidang yang terkait dengan masalah sosial, anak terlantar, dan ketenagakerjaan.

Walau ditempatkan di nomor urut lima dalam daftar calon legislatif DPR RI pada daerah pemilihan III Sumatera Utara, yang pasti Erwin Pardede menyebut diri tetap happy dan enjoy berjuang untuk diri dan bangsanya. Dia menyebut berjuang untuk dirinya dahulu, baru untuk bangsa. Sebab, adalah omong kosong jika ada orang mengatakan berjuang untuk bangsa tanpa berjuang untuk dirinya. “Karena tidak ada pejuang yang sakit menjadi berjuang, kecuali Sudirman.”

Berdasar filosofi sederhana itu, dengan rendah hati dia menyebut dirinya tidak punya jasa di PDI Perjuangan. Melainkan, dia malah mengambil dari PDI-P. Dia juga mengaku tidak pernah dekat dengan Ibu Mega. Melainkan, pernah mengenal Ibu Mega. Itupun saat mengontrak gedung miliknya di Condet. “Pada saat dia disingkirkan orang lain, atau orang lain tidak mau mengontrakkan rumah atau gedung kepada PDI Pro Mega, ya saya bersedia untuk mengontrakkan kepada PDI Pro Mega walaupun kontrak itu hanya untuk sekedar uang pindah. Itu saja.”

Walau hanya mengontrakkan namun efeknya cukup banyak buat Erwin. “Pada saat itu saya berbisnis saya dijegal, saya di-cut tidak bisa lagi dapat proyek. Itu saja. Tapi bukan berarti itu jasa saya kepada PDI Pro Mega. Tidak. Saya tidak punya jasa kepada PDI Pro Mega.”

Karena itu Erwin tidak berani menyebut kedudukannya di DPR adalah atas jasa dia terhadap PDI Pro Mega. Melainkan, karena kenal dengan Megawati pimpinan partai wong cilik itu lalu diberi kesempatan kepada dia untuk menjadi anggota DPR. “Apakah itu penilaian karena saya pernah memberikan kantor saya untuk dikontrak, itu urusan Bu Mega. Tapi yang pasti, saya sudah mengambil hikmah dari perkenalan saya dengan PDI Pro Mega: Saya menjadi anggota DPR satu periode,” ujarnya sambil menyebut merasa puas satu periode saja sebab sebelumnya sama sekali tidak pernah berangan-angan menjadi anggota DPR.

Erwin menyebutkan daerah pemilihannya adalah gudang PDI Perjuangan. Karenanya dia memperkirakan perolehan suara partainya bisa mencapai 30 hingga dibawah 50 persen. Dia kini tinggal membuktikan apakah pemilih itu juga cinta terhadap Erwin Pardede untuk meraih BPP, satu-satunya kesempatan terbuka bagi pemegang nomor urut lima ini melenggang ke Senayan.

Namun Erwin tidak menetapkan perolehan BPP sebagai tujuan berkampanye. Melainkan, “… saya akan menunjukkan kepada rakyat bahwa PDI Perjuangan itu masih yang solid dan mempunyai harapan untuk membangun republik ini.” Sebagai tokoh anti kemunafikan Erwin dipastikan tidak akan mengatakan bisa memperjuangkan sesuatu yang memang tidak bisa dia perjuangkan.

“Tapi, saya mengatakan PDI Perjuangan akan berjuang. Kalau pribadi Erwin Pardede belum tentu bisa berjuang,” tegas pria tambun ini. Sikap mengedepankan perjuangan atas nama partai itu pula yang menyebabkan dia tidak mau menandatangani kontrak sosial dan politik dengan konstituen. Masalahnya, demikian Erwin yang sesungguhnya selalu berusaha berbuat baik terhadap semua orang, jangankan kontrak sosial dirinya pun tak bisa dia kontrak untuk berbuat baik. Terlebih kontrak dengan orang lain.

“Tapi, kalau saya akan berbuat baik untuk rakyat Sumatera Utara itu bisa saya katakan, ya, tapi bukan kontrak. Karena diri saya pun tidak bisa saya kendalikan,” tegas penggemar renang yang sudah mulai membiasakan diri pensiun dari DPR. Pembiasaan itu, misalnya saat ini mulai gemar menulis buku. Dulu dia adalah pendengar yang baik, setelah menjadi anggota DPR menjadi pembicara yang berusaha baik, dan setelah selesai menjadi pendengar kini dia menjadi penulis yang berusaha untuk menjadi penulis yang baik. Bagi dia mendengar adalah untuk mencari ilmu, berbicara setelah mempunyai ilmu, dan menulis setelah bisa membuat beberapa ide untuk republik ini. “Diantaranya, buku yang menghapuskan kemunafikan dari republik ini.”

Sebagai orang yang rendah hati dan mengedepankan atas nama partai selalu, Erwin pun tidak menyebut pencapaiannnya selama di DPR sebagai kinerja pribadi melainkan atas nama Komisi IV, khususnya Sub Komisi Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) dimana dia sebagai pimpinan. Seperti, beberapa undang-undang yang berhasil diundangkan, kebijakan-kebijakan pemerintah yang berhasil diarahkan supaya menjadi baik serta kontrol terhadap anggaran dan proyek-proyek. Demikian pula keberhasilan mewujudkan double track jalur kereta api sepanjang Pantura.

Demikian pula tentang Undang-Undang Sumberdaya Air (SDA), dimana nama Erwin Pardede cukup dominan berperan. Disebutkannya, walaupun masih ditentang oleh sebagian kelompok orang namun keberadaan undang-undang ini sudah cukup baik sebab ada keinginan mengelola air secara baik dari air kotor menjadi air bersih. “Mengelola air ‘kan tidak bisa berdoa saja, harus ada usaha, atau usahe,” katanya berlogat Betawi menanggapi kekhawatiran banyak orang akan tendensi privatisasi pengelolaan air. Menurut Erwin privatisasi bukanlah tujuan UU melainkan sebentuk usaha pengelolaan.

Sebagai pembuat kebijakan di tingkat undang-undang Erwin menyebut tujuan UU SDA adalah agar pemanfaatan air lebih efektif dan tidak terbuang percuma. Lalu, kualitas air diharapkan semakin lama semakin baik sebab sifatnya sudah dikelola. Demikian pula kepemilikan air akan bisa menjadi lebih merata untuk semua orang sebab proporsi pengusahaannya sudah mulai terbagi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, antara swasta dengan koperasi, dan antara swasta dengan BUMN sebab semua mempunyai proporsi yang sudah diatur. Mudah-mudahan anak cucu Erwin kelak mengucap syukur atas pengundangan sumberdaya air itu.


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Posted at 09:09 pm by karina
Comments (1)

Edith D Tobing Nababan, SH

Ia seorang hakim yang meniti karir dari bawah sampai mencapai hakim agung. Puteri (srikandi) yang sejak tahun 1963 berkarir sebagai hakim ini sebelum terpilih menjadi Hakim Agung (2000-2002), menjabat Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Tanjungkarang. Lulusan sarjana hukum Universitas Sumatera Utara (USU) ini seorang hakim perempuan yang telah teruji dan tergolong bersih dari KKN.


Edith memulai karier sebagai hakim sejak tahun 1963, di Pengadilan Negeri (PN) Balige (kemudian menjadi menjadi PN Tarutung dan PN Sidikalang). Kemudian menjadi hakim TK-3 PN/Ekonomi Klas IA Medan, Ketua PN/Ekonomi Klas IA Medan dan Hakim Anggota PT Medan. Pada tahun 1981 ia bertugas sebagai Ketua Panitia Penelitian Hukum Adat Tentang Anak Angkat di daerah Hukum PN Lubuk Pakam dan Ketua Panitia Peneliti Hukum Adat di daerah Hukum PN Tarutung tentang Hukum Adat Tanah (1983).


Setelah itu (1988-1992) ia hijrah ke Jakarta sebagai Hakim Anggota pada PT DKI Jakarta dengan tugas tambahan sebagai Hakim Tinggi Pengawas PN Jakarta Utara. Pada saat itu (1990-1992) ia juga menjabat Ketua I IKAHI DKI Jakarta dan Anggota Dewan Kehormatan Hakim Daerah DKI Jakarta. Sebelum diangkat menjadi menjadi Ketua PT Tanjungkarang, ia menjabat Wakil Ketua/Hakim Anggota PT Kalimantan Barat di Pontianak.


Istri dari mendiang Ir Sahat L Tobing dan ibu dari tiga anak ini, lahir pada 13 Juli 1937 di Tarutung, Tapanuli Utara. Ia lulusan Sarjana Hukum dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, pada tahun 1957.


Selain itu, berbagai pendidikan yang pernah diikutinya antara lain International Visitor Program yang diadakan International Visitor Program Bureau of Educational and Cultural Affairs di Washington DC AS, dan Sespa Depkeh RI, di mana ia masuk 10 besar.


Sebelum menjabat hakim agung, ia mempunyai tiga rumah termasuk sebuah rumah pusaka di Tarutung, dan lima lokal tanah termasuk sebuah sawah pusaka di Tarutung, yang diakui sebagai harta bersama dengan ahli waris mendiang suaminya. Tanah yang semuanya terletak di Medan itu, total luasnya mencapai 9.220 meter persegi. Kekayaan lain, mobil jeep Suzuki Katana tahun 1995, tiga buah televisi, perhiasan senilai Rp 60 juta, dan tabungan berjangka Rp 140 juta (simpanan mendiang suaminya).

(Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Posted at 09:07 pm by karina
Make a comment

Jul 21, 2004
RUMAH ADAT BATAK DAN PERBEDAANNYA

Anjungan Sumatera Utara berada di sebelah Utara arsipel Indonesia dengan batas sebelah Barat anjungan propinsi Sumatera Barat, sebelah Timur propinsi Daerah Istimewa Aceh dan sebelah Utara jalan raya. Anjungan Sumatera Utara diresmikan pada tahun 1975, dengan arsitek bangunan dari Dinas Pekerjaan Umum Tingkat I Sumatera Utara.

Rumah adat Simalungun
pada dasarnya hampir sama dengan rumah adat Batak Toba, karena daerahnya terletak antara pemukiman suku Batak Karo dan suku Batak Toba. Dalam bidang arsitektur Simalungun mempunyai ciri khas pada bangunan, yaitu konstruksi bagian bawah atau kaki bangunan selalu berupa susunan kayu yang masih bulat-bulat atau gelondongan, dengan cara silang menyilang dari sudut ke sudut. Ciri khas lainnya adalah bentuk atap di mana pada anjungan diberi limasan berbentuk kepala kerbau lengkap dengan tanduknya.

Di samping itu pada bagian-bagian rumah lainnya diberi hiasan berupa lukisan-lukisan yang berwarna-warni yaitu merah, putih dan hitam. Ragam hias rumah bolon Simalungun antara lain hiasan Sulempat pada tepian dinding bagian bawah, hiasan saling berkaitan. Kemudian hiasan hambing marsibak yaitu kambing berkelahi. Hiasan Sulempat dan Hambing Marsibak menggambarkan kehidupan yang kait-berkait sehingga melahirkan kekuatan dan kesatuan yang tidak tergoyahkan. Hiasan pada bagian tutup keyong dengan motif segitiga, motif cicak, ipan-ipan serta motif ikal yang menyerupai tumbuhan menjalar. Biasanya pada bagian ini diberi hiasan kepala manusia yang disebut bohi-bohi, sebagai pengusir hantu. Seperti halnya hiasan ipan-ipan yang menggambarkan segi-segi runcing mempunyai maksud untuk menghambat hantu-hantu yang akan masuk rumah.


Rumah adat kedua Siwaluh Jabu, rumah adat Batak Karo.
Rumah ini juga bertiang tinggi dan satu rumah biasanya dihuni atas satu keluarga besar yang terdiri dari 4 sampai 8 keluarga Batak. Di dalam rumah tak ada sekatan satu ruangan lepas. Namun pembagian ruangan tetap ada, yakni di batasi oleh garis-garis adat istiadat yang kuat, meski garis itu tak terlihat. Masing-masing ruangan mempunyai nama dan siapa yang harus menempati ruangan tersebut, telah ditentukan pula oleh adat. Urutan ruangan dalam rumah Siwaluh jabu adalah sebagai berikut :

Jabu bena kayu yaitu ruangan di depan sebelah kiri, didiami oleh pihak marga tanah dan pendiri kampung. Ia merupakan pengulu atau pemimpin rumah tersebut.

Jabu sedapur bena kayu yaitu ruangan berikutnya yang satu dengan jabu bena kayu, juga dinamai Sinenggel-ninggel. Ruang ini didiami oleh pihak Senina yakni saudara-saudaranya yang bertindak sebagai wakil pemimpin rumah tersebut. Sedapat artinya satu dapur, karena setiap dua ruangan maka di depannya terdapat dapur yang dipakai untuk dua keluarga.

Jabu ujung kayu, dinamai Jabu Sungkun Berita, didiami oleh anak Beru Toa, yang bertugas memecahkan setiap masalah yang timbul.

Jabu sedapur ujung kayu yaitu ruangan sedapur dengan jabu ujung kayu, dinamai Jabu Silengguri. Jabu ini didiami oleh anak beru dari jabu Sungkun Berita.

Jabu lepan bena kayu, yakni ruangan yang terletak berseberangan dengan jabu bena kayu, dinamai jabu simengaloken didiami oleh Biak Senina.

Jabu sedapur lepan bena kayu yaitu ruangan yang sedapur dengan jabu lepan bena kayu, didiami oleh Senina Sepemeren atau Separiban.

Jabu lepan ujung kayu, didiami oleh Kalimbuh yaitu pihak pemberi gadis, ruangan ini disebut Jabu Silayari.

Jabu sedapur lepan ujung kayu yaitu ruangan yang sedapur dengan jabu lepan ujung kayu. Ruangan ini didiami oleh Jabu Simalungun minum, didiami oleh Puang Kalimbuh yaitu Kalimbuh dari jabu silayari. Kedudukan Kalimbuh ini cukup dihormati di dalam adat.
Umumnya di setiap rumah adat ini terdapat empat buah dapur yang masing-masing digunakan oleh dua keluarga, yaitu oleh jabu-jabu yang bersebelahan. Tiap dapur terdiri dari lima buah batu yang diletakkan sebagai tungku berbentuk dua segi tiga bertolak belakang. Segi tiga tersebut melambangkan rukuh sitelu atau singkep sitelu yaitu tali pengikat antara tiga kelompok keluarga. Kalimbuhu, senina dan anak beru atau Sebayak.

Dinding rumah dibuat miring, berpintu dan jendela yang terletak di atas balok keliling. Atap rumah berbentuk segitiga dan bertingkat tiga, juga melambangkan rukut-sitelu. Pada setiap puncak dan segitiga-segitiga terdapat kepala kerbau yang melambangkan kesejahteraan bagi keluarga yang mendiaminya. Pinggiran atap sekeliling rumah di semua arah sama, menggambarkan bahwa penghuni rumah mempunyai perasaan senasib sepenanggungan.

Bagian atap yang berbentuk segitiga terbuat dari anyaman bambu disebut lambe-lambe. Biasanya pada lambe-lambe dilukiskan lambang pembuat dari sifat pemilik rumah tersebut, dengan warna tradisional merah, putih dan hitam. Hiasan lainnya adalah pada kusen pintu masuk. Biasanya dihiasi dengan ukiran telur dan panah.

Tali-tali penginkat dinding yang miring disebut tali ret-ret, terbuat dari ijuk atau rotan. Tali pengikat ini membentuk pola seperti cicak yang mempunyai dua kepala saling bertolak belakang, maksudnya ialah cicak dikiaskan sebagai penjaga rumah, dan dua kepala saling bertolak belakang melambangkan semua penghuni rumah mempunyai peranan yang sama dan saling menghormati.

Rumah adat Siwaluh jabu yang selalu bertangga dengan jumlah anak tangga ganjil, dihuni oleh keluarga di mana anak-anak tidur dengan orang tuanya sampai berumur 14 tahun. Bagi anak laki-laki dewasa atau bujangan tidur di tempat lain yang disebut Jambur, begitu pula tamu laki-laki. Jambur sebenarnya lumbung padi yang dipergunakan untuk tidur, bermusyawarah dan istirahat para perempuan dan laki-laki.

Rumah adat di Nias
dibuat dengan ukuran lebih kecil dari rumah-rumah adat aslinya, adalah mewakili rumah adat dari Nias Selatan. Rumah yang berbentuk empat persegi panjang dan berdiri di atas tiang ini menyerupai bentuk perahu. Begitu pula pola perkampungan, hiasan-hiasan bahkan peti matinya pun berbentuk perahu. Dengan bentuk rumah seperti perahu ini diharapkan bila terjadi banjir maka rumah dapat berfungsi sebagai perahu. Untuk memasuki rumah adat ini terlebih dahulu menaiki tangga dengan anak tangga yang selalu ganjil 5 - 7 buah, kemudian memasuki pintu rumah yang ada dua macam yaitu seperti pintu rumah biasa dan pintu horizontal yang terletak di pintu rumah dengan daun pintu membuka ke atas. Pintu masuk seperti ini mempunyai maksud untuk menghormati pemilik rumah juga agar musuh sukar menyerang ke dalam rumah bila terjadi peperangan.

Ruangan pertama adalah Tawalo yaitu berfungsi sebagai ruang tamu, tempat bermusyawarah, dan tempat tidur para jejaka. Seperti diketahui pada masyarakat Nias Selatan mengenal adanya perbedaan derajat atau kasta dikalangan penduduknya, yaitu golongan bangsawan atau si Ulu, golongan pemuka agama atau Ene, golongan rakyat biasa atau ono embanua dan golongan Sawaryo yaitu budak.

Di bagian ruang Tawalo sebelah depan dilihat jendela terdapat lantai bertingkat 5 yaitu lantai untuk tempat duduk rakyat biasa, lantai ke 2 bule tempat duduk tamu, lantai ketiga dane-dane tempat duduk tamu agung, lantai keempat Salohate yaitu tempat sandaran tangan bagi tamu agung dan lantai ke 5 harefa yakni untuk menyimpan barang-barang tamu. Di belakang ruang Tawalo adalah ruang Forema yaitu ruang untuk keluarga dan tempat untuk menerima tamu wanita serta ruang makan tamu agung. Di ruang ini juga terdapat dapur dan disampingnya adalah ruang tidur.

Rumah adat Nias biasanya diberi hiasan berupa ukiran-ukiran kayu yang sangat halus dan diukirkan pada balok-balok utuh. Seperti dalam ruangan Tawalo yang luas itu interinya dihiasi ukiran kera lambang kejantanan, ukiran perahu-perahu perang melambangkan kekasaran. Dahulu, di ruangan ini juga digantungkan tulang-tulang rahang babi yang berasal dari babi-babi yang dipotong pada waktu pesta adat dalam pembuatan rumah tersebut.

Menurut cerita, di ruangan ini dahulu digantungkan tengkorak kepala manusia yang dipancumg untuk tumbal pendirian rumah. Tapi setelah Belanda datang, kebiasaan tersebut disingkirkan. Untuk melengkapi ciri khas adat istiadat Nias adalah adanya batu loncat yang disebut zawo-zawo. Bangunan batu ini dibuat sedemikian rupa untuk upacara lompat batu bagi laki-laki yang telah dewasa dalam mencoba ketangkasannya.

Rumah adat keempat adalah rumah adat Batak Toba
yang disebut Rumah Bolon, berbentuk empat persegi panjang dan kadang-kadang dihuni oleh 5 sampai 6 keluarga batih. Untuk memasuki rumah harus menaiki tangga yang terletak di tengah-tengah rumah, dengan jumlah anak tangga yang ganjil. Bila orang hendak masuk rumah Batak Toba harus menundukkan kepala agar tidak terbentur pada balok yang melintang, hal ini diartikan tamu harus menghormati si pemilik rumah. Lantai rumah kadang-kadang sampai 1,75 meter di atas tanah, dan bagian bawah dipergunakan untuk kandang babi, ayam, dan sebagainya. Dahulu pintu masuk mempunyai 2 macam daun pintu, yaitu daun pintu yang horizontal dan vertikal, tapi sekarang daun pintu yang horizontal tak dipakai lagi.

Ruangan dalam rumah adat merupakan ruangan terbuka tanpa kamar-kamar, walaupun berdiam disitu lebih dari satu keluarga, tapi bukan berarti tidak ada pembagian ruangan, karena dalam rumah adat ini pembagian ruangan dibatasi oleh adat mereka yang kuat. Ruangan di belakang sudut sebelah kanan disebut jabu bong, yang ditempati oleh kepala rumah atau por jabu bong, dengan isteri dan anak-anak yang masih kecil. Ruangan ini dahulu dianggap paling keramat. Di sudut kiri berhadapan dengan Jabu bong disebut Jabu Soding diperuntukkan bagi anak perempuan yang telah menikah tapi belum mempunyai rumah sendiri. Di sudut kiri depan disebut Jabu Suhat, untuk anak laki-laki tertua yang sudah kawin dan di seberangnya disebut Tampar Piring diperuntukkan bagi tamu.

Bila keluarga besar maka diadakan tempat di antara 2 ruang atau jabu yang berdempetan, sehingga ruangan bertambah 2 lagi dan ruangan ini disebut Jabu Tonga-ronga ni jabu rona. Tiap keluarga mempunyai dapur sendiri yang terletak di belakang rumah, berupa bangunan tambahan. Di antara 2 deretan ruangan yakni di tengah-tengah rumah merupakan daerah netral yang disebut telaga dan berfungsi sebagai tempat bermusyawarah. Bangunan lain yang mirip dengan rumah adalah sapo yakni seperti rumah yang berasal dari lumbung tempat menyimpan, kemudian didiami. Perbedaannya dengan rumah adalah : Dopo berlantai dua, hanya mempunyai satu baris tiang-tiang depan dan ruangan bawah terbuka tanpa dinding berfungsi untuk musyawarah, menerima orang asing dan tempat bermain musik. Pada bagian depan rumah adat terdapat hiasan-hiasan dengan motif garis geografis dan spiral serta hiasan berupa susu wanita yang disebut adep-adep. Hiasan ini melambangkan sumber kesuburan kehidupan dan lambang kesatuan.

Rumah yang paling banyak hiasan-hiasannya disebut Gorga. Hiasan lainnya bermotif pakis disebut nipahu, dan rotan berduri disebut mardusi yang terletak di dinding atas pintu masuk.

Pada sudut-sudut rumah terdapat hiasan Gajah dompak, bermotif muka binatang, mempunyai maksud sebagai penolak bala. Begitu pula hiasan bermotif binatang cicak, kepala singa yang dimaksudkan untuk menolak bahaya seperti guna-guna dari luar. Hiasan ini ada yang berupa ukiran kemudian diberi warna, ada pula yang berupa gambaran saja. Warna yang digunakan selalu hitam, putih dan merah.

Semua rumah adat tersebut di atas bahannya dari kayu baik untuk tiang, lantai serta kerangka rumah berikut pintu dan jendela, sedangkan atap rumah terbuat dari seng. Di anjungan Sumatera Utara, rumah-rumah adat yang ditampilkan mengalami sedikit perbedaan dengan rumah adat yang asli di daerahnya. Hal ini disesuaikan dengan kegunaan dari kepraktisan belaka, misalnya tiang-tiang rumah yang seharusnya dari kayu, banyak diganti dengan tiang beton. kemudian fungsi ruangan di samping untuk keperluan ruang kantor yang penting adalah untuk ruang pameran benda-benda kebudayaan serta peragaan adat istiadat dari delapan puak suku di Sumatera Utara. Benda-benda tersebut meliputi alat-alat musik tradisional, alat-alat dapur, alat-alat perang, alat-alat pertanian, alat-alat yang berhubungan dengan mistik, beberapa contoh dapur yang semuanya bersifat tradisional. Sedangkan peragaan adat istiadat dan sejarah dilukiskan dalam bentuk diorama, beberapa pakaian pengantin dan pakaian adat dan sebagainya.


Posted at 10:09 pm by karina
Make a comment

HORAS

Horas adalah kata salam orang Batak yang berasal dari daerah Sumatra Utara. Khususnya “Tapanuli” yang senantiasa diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain kata Horas salam khas yang lain, yaitu Menjuah-juah dari daerah Karo, Yahobu dari daerah Nias. Namun kata Horas lebih umum digunakan dan lebih populer. Sulit menemukan kata yang tepat dalam Bahasa Indonesia, karena kata Horas mempunyai makna yang sangat luas, diantaranya berarti: apa khabar, wa’lafiat, selamat perkenalan, selamat pagi/siang/malam, selamat datang/jalan tinggal dan lain-lain.

Kata Horas dalam tradisi Batak yang memiliki keunikan tersendiri, tercipta dari falsafah hidup suku Batak, yakni “Dalihan Na Tolu” (DNT). Secara harfiah DNT berarti “Tungku Nan Tiga” atau tungku yang ditopang oleh tiga kaki. Falsafah ini menunjukkan keterikatan hubungan internal dari ketiga posisi kekerabatan orang Batak dalam bermasyarakat yang mendoakan setiap orang agar senantiasa “Horas-Horas”: Somba marhula-hula, elek mar Boru, Manat mar Dongan Tubu. Berdasarkan DNT, kekerabatan orang Batak dibagi dalam tiga bagian yaitu Hula-Hula(kerabat marga pihak isteri), Dongan Tubu (marga kita, dari garis ayah, kakek dan anak laki), Boru (kerabat perempuan dari ayah, saudara perempuan kita beserta marga suaminya).

Somba mar-hula hula artinya senantiasa tunduk dan hormat kepada hula-hula agar horas-horas sedangkan Elek mar-Boru senantiasa mengasihi agar mendapat berkat yang melimpah dari Tuhan. Manat mar-Dongan Tubu artinya agar berhati-hati menjaga ikatan persaudaraan supaya terhindar dari malapetaka atau kutukan dari saudara semarga.

Setiap orang Batak adalah Raja. Raja disini tidak ada kaitannya dengan kerajaan, hanya secara umum dipakai dalam acara adat dan kehidupan sehari-hari orang Batak. Dalam ikatan DNT yang lazim digambarkan dengan bentuk segitiga sama sisi, masing-masing disebut juga: Rajani Hula-Hula, Raja ni Boru, dan Raja ni Dongan Tubu. Laki-laki Batak didalam bermasyarakat pasti pernah menduduki ketiga posisi DNT ini, menjadi hula-hula, boru, atau dongan tubu tergantung pada situasi dan kondisinya saat itu.

Adat Batak tidak memandang pangkat, harta, atau status seseorang karena berpegang kepada Dalihan Na Tolu. Bisa saja terjadi seorang Jenderal dalam acara adat harus menyingsingkan lengan bajunya dan wajib bekerja melayani seluruh keluarga dari pihak isteri yang kebetulan berpangkat Sersan. Situasi seperti ini mungkin saja membuat pak Sersan merasa rikuh, namun itulah realita dalam kehidupan kekerabatan Batak. Dari fenomena ini dapat ditarik kesimpulan bahwa orang Batak umumnya tidak neko-neko, siap bekerja sama dan mau mengalah dan bersikap kesatria.

Adalah anggapan keliru yang mengatakan bahwa orang Batak wataknya kasar, susah sulit bergaul, dst. Pembawaan fisik yang kelihatan keras, galak, suara keras, dll, itu sebenarnya terbentuk karena alam Tapanuli yang juga mem pengaruhi pola hidup orang Batak. Tapanuli tanahnya tandus berbatu-batu, berada pada ketinggian yang sangat jauh diatas permukaan laut sehingga mengharuskan mereka bekerja keras untuk menghasilkan makanan. Tiupan angin yang sangat kencang serta jarak antara rumah-rumah yang berjauhan menuntut mereka untuk berteriak agar suaranya dapat didengar oleh lawan bicaranya. Watak yang terlihat itu hanyalah penampilan diluar saja, sebenarnya hati nurani mereka baik dan lembut.

Satu hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan orang Tapanuli adalah Silsilah (tarombo), yang diwariskan oleh setiap ayah terutama kepada anak laki-lakinya. Konon, semua tarombo ditulis pada kulit kayu, kulit binatang atau kain putih yang akan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi melalui anak laki-laki. Dari tarombo ini nama leluhur pada generasi yang ke 20 pun dapat ditelusuri dengan mudah termasuk saudara-saudaranya turun temurun.

HORAS!!!
Paian Simbolon - Badak-Samarinda, East Kaltim, Indonesia

Posted at 09:59 pm by karina
Make a comment

Jul 13, 2004
ASAL RAS JADINA KALAK KARO

Seh ngayak gundari langnga ieteh payona ija nari asal rehna ras jadina kalak Karo, bagekape erti si lit ibas kata Karo e. Em dalinna maka lit piga-piga kalak Karo si enggo megajang pemetehna nggit ertutus ate ndarami, nungkuni bagepe nggar-gari, ija nari kin situhun asal kalak Karo e, kai ertina ras ndiganai mulai enggo lit.
Tapi anem bagepe langnga kabo teridah terombo si tangkas mereken kiniteken ras man gelemen man kalak Karo, terlebih lalit tersinget turi-turin terombo entahpe pustaka sini tadingken nininta siadi sibanci man ogen ras man pergemeten kalak Karo si erpemeteh.
Lit nge tuhu sitersinget ras singataken maka kalak Karo e rehna ibas gelar sada Kerajaan Simbelin si enggo pernah lit kira-kira ibas tahun 1593 eme siigelari Kerajaan Haru. Nupung sie Kerajaan Haru mbelang kuasana mulai i perbalengen Kerajaan Siak nari sehpe ku Sungai Wampu. Tapi erkiteken Kerajaan Haru enda talu erperang ras Kerajaan Acih, emaka rayatna enggo marpar lit ku Asahen, ku Simalungun, ku Singkel, ku Pak-pak, lit ka ku Acih (Alas-Gayo). Sitading ibas ingan kalak Karo sigundari eme Karo Gugung, Karo Timur (Simalungun), Karo Baluren (Dairi), Karo Acih, Karo Jahe (Deli ras Serdang), Karo Bingei (Bahorok - Langkat) eme sinigelari kalak Karo.
Bagem silit tersinget, tapi kerna sie perlu denga terdauhen isik-sik ras ipelajari alu pemeteh simeganjang, maka banci dat situhuna ras sipayona. Kerna sie perlu ras mbelin gunana maka ola dat turi-turin si la payo si banci erbahan sinursur kalak Karo pagi ikut papak ngelakokenca.

Penduduk asli yang mendiami wilayah Kabupaten Karo disebut Suku Bangsa Karo. Suku Bangsa Karo ini mempunyai adat istiadat yang sampai saat ini terpelihara dengan baik dan sangat mengikat bagi Suku Bangsa Karo sendiri.

Suku ini terdiri dari lima Merga, Tutur Siwaluh, dan Rakut Sitelu.
Merga silima yakni:
1. Karo-karo
2. Ginting
3. Sembiring
4. Tarigan
5. Perangin-angin

Dari kelima Merga diatas, masih terdapat sub-sub Merga.
Berdasarkan merga ini maka tersusunlah pola kekerabatan atau dikenal dengan Rakut Sitelu, Tutur Siwaluh dan Perkade-kade Sepuluh Dua Tambah Sada.

Rakut Sitelu yaitu:
1. Senina/Sembuyak
2. Kalimbubu
3. Anak Beru

Tutur Siwaluh yaitu:
1. Sipemeren
2. Siparibanen
3. Sipengalon
4. Anak Beru
5. Anak Beru Menteri
6. Anak Beru Singikuri
7. Kalimbubu
8. Puang Kalimbubu

Perkade-kaden Sepuluh Dua:
1. Nini
2. Bulang
3. Kempu
4. Bapa
5. Nande
6. Anak
7. Bengkila
8. Bibi
9. Permen
10. Mama
11. Mami
12. Bere-bere

Dalam perkembangannya, adat Suku Bangsa Karo terbuka, dalam arti bahwa Suku Bangsa Indonesia lainnya dapat diteria menjadi Suku Bangsa Karo dengan beberapa persyaratan adat. Masyarakat Karo terkenal dengan semangat keperkasaannya dalam pergerakan merebut Kemerdekaan Indonesia, misalnya pertempuran melawan Belanda, Jepang, politik bumi hangus. Semangat patriotisme ini dapat kita lihat sekarang dengan banyaknya makam para pahlawan di Taman Makam Pahlawan di Kota Kabanjahe yang didirikan pada tahun 1950.

Penduduk Kabupaten Karo adalah dinamis dan patriotis serta takwa kepada Tuhan Yang Esa. Masyarakat Karo kuat berpegang pada adat istiadat yang luhur, merupakan modal yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembamgunan. Dalam kehidupan masyarakat Karo, idaman dan
harapan (sura-sura pusuh peraten) yang ingin diwujudkan adalah pencapaian 3 (tiga) hal pokok yang disebut Tuah, Sangap, dan Mejuah-juah.

Tuah berarti menerima berkah dari Tuhan Yang Maha Esa, mendapat keturunan, banyak kawan dan sahabat, cerdas, gigih, disiplin, dan menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup untuk generasi yang akan datang,

Sangap berarti mendapat rejeki yang banyak, kemakmuran bagi pribadi, bagi anggota keluarga, bagi masyarakat serta bagi generasi yang akan datang.

Mejuah-juah berarti sehat sejahtera lahir batin, aman, damai, bersemangat serta keseimbangan dan keselarasan antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan lingkungan, dan antara manusia dengan Tuhan. Ketiga hal tersebut adalah merupakan satu kesatuan yang buat yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.


Posted at 11:52 pm by karina
Comments (1)

KERJA ADAT MANTEKI PERJABUN KALAK KARO

Mejuah-juah!
Ijenda lit luah ibas kami nari pengelola [link]/ kerna manteki perjabun ibas adat Karo. Artikel enda idat kami bas cerita orang tua-orang tuanta nari bage pe ibandingken kami ku piga-piga buku mengenai Adat Budaya Karo. Artikel silengkapna kari banci ibukandu bas webta enda kari.

Artikel enda perlu iakap kami radu ras sieteh gelah banci kita memperkaya pengetahuan tentang adat Karo si enggo ndube terlupaken akibat perkembangen modernisasi sigundari. Lit 3 erbage gelar kerja petumbukken/perdemuken rikutken peradadaten kalak Karo e me kap :
1. Kerja Erdemu Bayu
2. Kerja Ngeranaken
3. Kerja Petuturken.
Gelar kerja adat enda itentuken arah cibal pertuturen antara si erjabu erpalasken merga si lima. Ertina ngenen kubas merga si dilaki ras beru si diberu, seh kubas beberena duana, ntah kin tuturna rimpal, turang impal, sipemeren, rsd.

1. Erdemu Bayu
Kalak si erjabu ikataken Erdemu Bayu eme kap adi sekalak anak perana tumbuk ras singuda-nguda anak mamana kal, ntah pe singuda-nguda tersereh man anak bibina kal alu kata si deban ia tumbuk ras impalna kandung. Janah megati me si diberu enda igelari "beru singumban".
Utang adat si empo man anak beru si nereh ikataken "perkembaren" entah pe megati ikataken "ulih ermakan" janah labo banci mbelin ipindo anak beru perkembaren man si empo.

2. Ngeranaken
Kalak si erjabu ikataken Ngeranaken eme kap adi si empo ras si tersereh tumbuk labo ibas tutur rimpal, umpamana:
- Turang Sipemeren, emekap seri beberena duana, entahpe seri beru nande si empo ras beru nande si tersereh.
- Turang Impal, emekap merga si empo seri ras bebere si tersereh, entah pe seri merga bapa si empo ras beru nande si tersereh.
Alu bage ibas pedemukenca lit unsur pelanggaren adat. La arus ia tumbuk, sebab tuturna erturang. Emaka ibahan me utang si empo man anak beru sinereh siigelari "sabe". Janah megati ka pe ipindo anak beru sinereh "pengarusi", maka nggo iarusken pertumbukna. Belinna biasana sepersepuluh tukur.

3. Petuturken
Kalak si erjabu ikataken Petuturken lit dua erbage, emekap:
- Si empo ras si tersereh memang kin gel-gel labo sitandan, erkiteken kuta erkedauhen. Kenca ertutur maka ieteh payo tuhu ia ibas tutur rimpal.
- Si empo ras si tersereh rembang la lit jumpa merga ras beru bagepe beberen duana ibas merga silima, umpamana merga Sembiring bebere Ginting ras beru Karo bebere Tarigan.
Emaka ibahan me tutur rimpal gelah banci ipetumbuk. Ibas kecibal si enda utang si empo nandangi anak beru sinereh igelari "persadan", sebab ije nari maka enggo ersada si empo ndai ras anak beru sinereh.

Sibar enda me bas kami nari, bujur ras mejuah-juah.

Herland Sembiring


Posted at 11:48 pm by karina
Make a comment

BULANG-BULANG KARO

Ngikutken si enggo biasa ilakoken, adi lit sada kerja adat, sukut ibahan rose, maka sidilaki arus make bulang-bulang, sidiberu make tudung. Bage kape ibas kerja gendang guro-guro aron. Engkai maka bage? Eme erdandanken pengakap kalak Karo, maka mejile, mehaga, metunggung ras mehamat simada kerja.
Bulang-bulang si ipake sidilaki eme uis Karo, gelarna uis beka buluh. Uis beka buluh enda mula-mula ilipat dua, jenari ilipat sekali nari maka bentukna enggo telu suki. Lipaten sila kena tepina arah teruh ilipat ka maka enggo mekapal sitik. Enca bage ipakeken ku takal sidilaki alu ngelilet kenca arah pudi nari ku lebe, sada tampukna nimai sada ngelilet emaka tampuk si ililetken e isilepken arah teruh lipaten ibabo cuping. Tencukna arah babo takal siarah pudi, banci pe tencukna erlipat sitik. Bagem rupana adi idah ibas pemaken bulang-bulang sidilaki ngikutken sibiasana.
Tapi gundari enggo lit piga-piga lain. Bulang-bulang e, sierbahansa eme "persalon", itempahken man bana. Emaka persalon erbahan bulang-bulang e ngikutken pemetehna ras uga akapna maka murah erbanca. Sope denga bulang-bulang e jadi bagi tutup takal entahpe tengkuluk, ibentuk ije uis beka buluh. Enca dung, tading make kenca naring.
Bagepe min labo dalih adi mejile ras bentukna bagi bulang-bulang kalak Karo. Tapi rupana bagi tudung kalak Minang sidiberu, enggo ertanduk, dua tandukna, bagepe labo lit sekali pe kalak Karo sibeluh, erbahan Kata Suriang maka bulang sibage rupana labo pas bagi bulang kalak Karo. Situhuna si e perlu maka ola salih pagi dungna uis adat kalak Karo e ikut ras bulang-bulangna.
Maka kami tersinget bage, sebab inget ras igejapken kami paken adat kalak Karo e mejile, mehaga ras metunggung. Kerna sie banci kita erbanding-banding ku paken adat suku entah pe kalak sideban. Cubaken dage nen ku Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, ije ibas museumna lit serap ibanna paken piga-piga suku si lit ibas Indonesia. Paken ikut asesorina ipakeken ku bas patung gibs, cinder kerina ibas sada lemari galang. Teridah ije paken kalak Karo e la ketadingen, tuhu-tuhu mejile, mehaga ras metunggung.
Mulihi kita ningetken kerna bulang-bulang. Ise nge ndia mulana erbahan bulang-bulang e, jadina enggo ertanduk? Payona kal labo ieteh. Tapi pelu kuakap kami ersinget ijenda. Lit sekalak dilaki kalak Kalimantan tading ras ringan i Padang Bulang, Medan, gelarna la kueteh. Ia rusur itenahken ras isuruh kalak erbahan bulang-bulang kalak Karo adi lit kenca kerja. Entah ija nari guruna, bulang-bulang si ibahanna enggo ertanduk, dua ka tandukna. Bagepe ialoken kalak Karo si nuruh ia. Tahun 1995 iban Kongres Kebudayaan Karo i Hotel Sibayak Berastagi. Ia ikut iundang Panitia Kongres. Sekali ibas waktu la perlusakal, isuruh Panitia ia ncidahken uga erbahan bulang Karo. Paksa e contohna ibulangi Prof. DR. Masri Singarimbun. Enca dung ibulangina enggo idah bagi ertanduk. Tawa kerina jelma sienterem (peserta kongres) tapi lalit singataken bulang e lepak. Kukataken man kalak sierbahan bulang e, maka ningku bulang sibahanna la pas bagi bulang kalak Karo. Tapi ia tawa saja la tempa diatena. Emaka reh Sinik br Karo jumpaina aku,
"Payo katandu e, bulang sibahanna e la seri ras bulang kalak Karo, enggo salah kuakap banna e," nina.
"Kuakap pe bage turang, tapi la lit hakta ngataken man panitia, adi ia pe sinik saja," ningku ngaloi. Bagem sitik paksa e.
Enca si e, lit kenca kerja-kerja entahpe ercakap-cakap i kede kopi, usur aku tersinget. Subuk man kalak Karo i Gugung bagepe si i Jahe, kerina ngataken la payo, tapi tiap kerja kuidah bulang enggo ertanduk, mamang ateku. Bage nge kepe bulang Karo sigundari ateku. Sekali lenga uga dekahna, jumpa aku ras Hamid Meliala. Ia sekalak simeteh kerna paken adat Karo, usur pe tamu-tamu Pemerintah ibulangina. Kai nina enca kerna si e kusingetken?
"Situhuna bulang e enggo salah, lanai bage bulang Karo. Aku sendiri entah piga enggo jelma kubulangi, labo bage bentukna, labo ertanduk. Situhuna sienda jadi, enggo buen ulah persalon," nina ngaloi.
"Jadi adi bage ma perlu akapndu mehuli ipake bagi bulang kalak Karo?"
"Payo, tapi ikataken pe rusur lenga tentu ipake kalak, emaka kuakap, adi merhat kita bentukna ertanduk bage siban, sitempahken kusalon. Tapi adi la ateta bage, biasa saja, kita pe banci erbahan bulang-bulangta, entahpe kalak sideban sisuruh, tapi la bage bentukna."
Bagem percakapen kami sanga kami jumpa e. emaka kerna si e, mari ras kita ngukurisa. Janah iendesken kami man kalak Karo, enggo me iakap payo entah lang. Adi enggo siakap payo bagem siban, adi lang, sipakelah bulang sibentukna bagi bulang kalak karo nai nari see asa gundari.

Bujur Sitepu

Posted at 11:46 pm by karina
Make a comment

Previous Page Next Page



:: Web Shoutbox
:: Isi komentar disini

:: Favorite
:: Batak Web
:: Batak Pelangi
:: Detik
:: Kompas
:: Google

:: Recomeded
:: Batak
:: Karo
:: Simalungun
:: Batak Spot
:: Siantar
:: Horas


:: Login


<< September 2014 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


blogdrive